Friday, December 17, 2010

Empati dalam Kereta Api Ekonomi




Cuaca Sabtu pagi itu cerah, secerah wajah enam sekawan yang sedang mengantri tiket di Stasiun Gubeng. Masing-masing dengan tas punggung yang tampak berat. Nyaris saja mereka tidak mendapatkan tiket kereta api tujuan Bandung.


“Sudah benar-benar habis ya mbak?”, tanya seorang dari mereka kepada petugas di kaunter tiker.

“Sebentar mbak.”, sahut si petugas sambil memencet telepon dan beberapa saat kemudian ia berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Lalu ia mengakhiri percakapan. Menyodorkan enam lembar tiket berharga 38 ribu per lembar kepada enam sekawan.

“Wah kita beruntung. Nyaris kita batal berangkat ke Bandung.”, kata si A.

“Kan sudah kubilang seharusnya kita memesan tiket sebelumnya.”, si B beropini.

“Emang bisa ya,kan kereta yang kita tumpangi ini kereta ekonomi?”, yang lain menimpali.

Pembicaraan terhenti sesaat sebab kereta api telah tiba di stasiun itu. Tergopoh-gopoh mereka mencari gerbong nomor 5 di mana mereka akan duduk sesuai dengan yang tercetak pada tiket yang telah dibeli. Mereka terlihat bingung karena nomor gerbong tidak tertera jelas di luar gerbong. Mereka nampak bertanya pada seorang petugas.

“Hei ini tempat duduk kita!”, teriak si D.

“Alhamdulillah, untung masih sepi.”, ujar si E

Mereka lalu meletakkan tas di atas tempat duduk dan menghela napas. Saling berpandangan puas. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh sekumpulan orang yang mengatakan bahwa enam sekawan itu duduk dalam gerbong yang salah.

“Ga mungkin pak, tadi saya sudah tanya sama petugasnya sendiri.”, si D dan F ngotot.

“Lho saya juga barusan diberitahu sama petugasnya!”, orang-orang tersebut tidak mau kalah.

Akhirnya enam sekawan beranjak mencari “gerbong lima”. Ketemu dan mereka duduk lagi.
Lima belas menit berlalu, kereta api tiba di stasiun Wonokromo. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh sekumpulan orang yang memegang tiket dengan nomor tempat duduk dan gerbong yang sama. Sontak silat lidah pun terjadi, untung tidak berlanjut menjadi baku hantam. Lidah-lidah kedua kubu sama-sama terasah rupanya sehingga sebagai jalan tengah enam sekawan tersebut terpaksa rela berbagi tempat duduk dengan orang-orang yang bagi mereka terlihat sebagai penyusup itu.

Enam sekawan ini berasal dari keluarga yang sebetulnya secara finansial mampu membeli tiket kereta api kelas premium. Namun berhubung mereka baru saja lulus dari sekolah kedokteran dan kebanyakan belum bisa mencari duit sendiri (he he), mereka memutuskan mencoba hal baru seperti naik kereta ekonomi ini. Yang lebih pro rakyat, seperti yang diakui kebanyakan penumpang kereta itu.

Si D berulang kali menyeka keringat yang tak kunjung berhenti mengucur dari tubuhnya. Sial, pikir si D. Kondisi gerbong itu sungguh merupakan pemandangan yang aduhai ajaib baginya. Kipas angin tak menyala, ah pantas panas sekali hawa saai itu. Penumpang, tua muda, asyik menghisap rokok. Tanpa rasa berdosa meskipun asapnya jelas-jelas mampir di muka penumpang wanita yang duduk di depan, di sebelah, atau di samping mereka. Salah satu di antaranya memutar lagu pop dari hapenya keras-keras, playlist-nya dari sejumlah band pendatang baru dengan lirik lagu yang picisan. Tampak pula sangkar burung yang disarungi kertas koran dan digantung dekat jendela. Entah apakah cara tersebut akan berhasil membuat burungnya tidak stres atau justru si burung makin frustrasi seperti halnya enam sekawan ini. Tak seorang pun dari enam sekawan itu terlibat dalam percakapan panjang dengan penumpang lain. Paling sebatas bertanya akan turun di mana si X,Y,Z atau memberikan sepotong kue kepada anak kecil yang tampak lapar. Mereka lebih asyik berbicara sendiri.

Koar-koar para pedagang asongan riuh rendah, naik turun silih berganti. Luar biasa. Mereka menjual apa saja. Makanan, minuman,mainan, hingga buku resep masakan. Satu-satunya yang menarik bagi enam sekawan ini adalah pedagang nasi pecel. Harga murah, sebatas mengganjal perut. Para pengamen dan waria tak mau kalah untuk ambil bagian. Oh ya selama perjalanan ini mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Telah terjadi kesepakatan tanpa didiskusikan. Mereka tahu risikonya jika mereka berani melakukannya. Alhasil, mereka sepakat melakukan restriksi cairan dengan membatasi cairan yang masuk serta pantang minuman berkafein, paling tidak hingga kereta tiba di Bandung pada pukul 21 seperti yang tercetak dalam tiket.

Tiba-tiba kereta berhenti di tengah hutan antah-berantah untuk kali ke sekian. Kereta ini harus mengalah, mendahulukan kereta yang harga tiketnya lebih mahal. Mungkin karena terlalu sering berhenti kereta tiba di tujuan tepat tengah malam.Mungkin pada saat hari telah berganti. Mungkin.

Ah inilah potret kita yang sebenarnya. Begitu lebar dan kentara jarak antara si kaya dan si papa. Sungguh kasihan mereka. Untuk melakukan perjalanan jauh saja mereka harus bersusah payah. Sungguh suatu perjuangan. Sulit rasanya membayangkan kondisi kereta macam ini pada saat mereka pulang ke kampung halaman pada hari raya. Tampaknya tak ada yang peduli. Mengapa mereka tidak melawan. Mengapa mereka diam dan pasrah. Tidakkah mereka menginginkan perubahan? Ah rasanya tak perlu dijawab.

Words of Wisdom


I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of
humanity, and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under
the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence
and calls, truly, my prayer and my sacrifice, my life and my death, are all for
Allah, the Cherisher of the worlds; He has no partner. This I am commanded and I
am among those who submit to His Will. This is who I am. Who are you?

(HASAN
AL-BANNA)

Wednesday, December 8, 2010

Le Texto, Bahasa Alay dari Prancis


Text messaging is called le texto in French. The essential idea of text messaging is to express oneself with the least number of characters, making use of pure reliance on sounds, abbreviations, and acronyms to convey a message. Beware that it is customary not to use accents in text messages.
Consider the following examples of French abbreviations and acronyms used in text messaging:

A2m1 À demain. See you tomorrow.
ALP À la prochaine. See you soon.
auj aujourd’hui today
BAL boîte aux lettres mailbox
BCP beaucoup a lot
Bjr Bonjour. Hello.
C c’est it is
CPG C’est pas grave. It does not matter.
DSL Désolé(e). Sorry.
DQP Dès que possible. As soon as possible.
FDS fin de semaine weekend
G j’ai I have
Je t’M Je t’aime. I love you.
KDO cadeau gift
Koi29 Quoi de neuf? What’s new?
Mr6 Merci. Thanks.
Pkoi Pourquoi? Why?
Rdv rendez-vous date/appointment
STP S’il te plait. Please.


Common abbreviations used in informal communication
Along with the previously mentioned shortcuts in written communication, there are many other
words in French that are commonly abbreviated in written and spoken communication. Here are
a few examples:


un apart un appartement an apartment
cet aprem cet après-midi this afternoon
le cine le cinéma the movie theater
un/une coloc un/une colocataire a cotenant
dac d’accord OK
la fac la faculté the school (university)
le foot le football soccer
le frigo le réfrigérateur the fridge
impec impeccable terrific
le petit dej le petit déjeuner breakfast
une promo une promotion a promotion
un/une proprio un/une propriétaire an owner
un resto un restaurant a restaurant

Reference:
Kurbegov, Eliane. French Sentence Builder. 2009: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Norwegians and Temperatures





By Kjersti Magnussen


+15oC/59oF
This is as warm as it gets in Norway, so we’ll start here. People in Spain wear winter-coats and gloves. The Norwegians are out in the sun, getting a tan.


+10oC/50oF
The French are trying in vein to start their cemtral heating. The Norwegians plant flowers in their gardens.


+5oC/41oF
Italian cars won’t start. The Norwegians are cruising in cabriolets.


0oC/32oF
Distilled water freezes. The water in Oslo Fjord gets a little thicker.


-5oC/23oF
The Brits start the heat in their houses. The Norwegians start using long sleeves.


-20oC/-4oF
The Aussies flee from Mallorca. Their Norwegians end their Midsummer celebration. Autumn is here.


-30oC/-22oF
People in Greece die from the cold and disappear from the face of the earth. The Norwegians start drying their laundry indoors.


-40oC/-40oF
Paris starts cracking in the cold. The Norwegians stand in line at the hotdog stands.


-50oC/-58oF
Polar beras start evacuating the North Pole. The Norwegians army postpones their winter survival training awaiting real winter weather.


-70oC/-94oF
Santa moves south. The Norwegian army goes out on winter survival training.


-183oC/-297,4oF
Microbes in food don’t survive. The Norwegian cows complain that the farmers’ hands are cold.


-273oC/-459,4oF
ALL atom-based movement halts. The Norwegians start saying “Faen, it’s cold outside today.”


-300oC/-508oF
Hell freezes over. Norway wins the Eurovision Song Contest.

Monday, November 29, 2010

Lalapan Khas Sunda (L'Assiette de Crudités Sundanaise)


Look what one's got inside the basket. I challenge you to name them all!!!

Jalan-Jalan ke Bandung Euy!

Semua berawal dari ajakan seorang kawan melalui SMS. Tanpa berpikir panjang saya menyanggupi karena sudah lebih dari delapan tahun saya tidak bertandang ke sana. Kata kawan saya sih, kali ini liburannya ala backpacker gitu deh. Tapi ga parah-parah juga karena untuk penginapan, kami dibolehkan menginap di rumah salah satu famili kawan yang lain di Bandung (banyak amat ya kawan saya ha ha; kami bertujuh yang berangkat dari Surabaya) dan untuk transportasi kami mendapatkan pinjaman mobil. Jalan-jalan ke Bandung kali ini kalau dirunut kurang lebih seperti di bawah ini. Semoga menjadi inspirasi (ha ha saya kok ge-er sih ;)

21 November 2010
Pukul 06.30 WIB, kami berkumpul di Stasiun Gubeng, Surabaya. Seperti yang telah kami sepakati sebelumnya, kami naik kereta api Pasundan yang bertarif 38000 Rupiah sekali jalan. Awalnya nyaris ga dapat tiket lho, tapi ajaibnya kami dapat tempat duduk juga ;) Kereta berangkat jam 6 pagi tepat. Kami kira semua akan berjalan lancar hingga kereta api masuk Stasiun Wonokromo di mana kami sempat ribut dengan calon penumpang lain yang mengklaim memilki tiket dengan nomor tempat duduk yang sama dengan kami. Tapi kami ga mau mengalah dong. Akhirnya sebagai win-win solution, kami berbagi kursi dengan penumpang2 itu. Kebayang dong sempitnya. Penderitaan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan ha ha. Mulai dari harus terpaksa menahan kencing, bokong terasa dekubitus, ASAP ROKOK sialan, pengamen dan pedagang asongan silih berganti masuk gerbong, bencong keparat, dan kereta yang sering banget berhenti di stasiun ga penting. Ya mau gimana lagi. Tapi parahnya kami baru sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung tepat tengah malam. Bayangin dong 18 jam dalam situasi seperti itu (so hopeless). Naik kereta api ekonomi sangat dianjurkan bagi mereka yang ga bisa menahan kencing, alergi asap rokok, dan yang hidup dengan klaustrofobia.



22 November 2010
Kami ketambahan tiga teman yang bergabung yang membawa sebuah mobil untuk kami gunakan jalan-jalan. Jadi total kami ber-10. Tempat yang kami kunjungi hari ini adalah Kawah Putih, Situ Patenggang serta penangkaran rusa Ranca Upas. Semua tempat ini terletak di selatan Bandung. Dari Bandung kami melalui tol Purbaleunyi lalu keluar lewat Kopo. Dilanjutkan menuju Soreang (19 km), setelah itu Kawah Putih (22 km lagi). Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah, terutama setelah memasuki Kecamatan Ciwidey. Hamparan kebun strawberry di mana-mana, dilatarbelakangi gunung-gunung berselimut kabut dan hutan yang hijau. Setibanya di pintu masuk Kawah Putih. Kami dibuat syok oleh harga tiket mobil yang mencapai 150 ribu per mobil dan ditambah lagi tiket personal sebesar 15000 per orang. Sedangkan bila naik kendaraan yang disediakan pengelola kami harus membayar 25000 per orang. Duh pemerasan!! Berhubung sudah datang jauh-jauh kami ikhlas saja, toh biayanya juga dibagi oleh sepuluh orang. Aroma sulfur yang menusuk hidung langsung tercium begitu kami mendekati bibir kawah, tapi pemandangan alam di sekelilingnya sungguh luar biasa. Oh ya, bagi Anda yang sensitif jangan berdiam terlalu lama sebab kabut yang Anda hirup bisa mengiritasi mukosa saluran napas. Anda bisa batuk-batuk, mengalami tenggorokan perih atau gatal.
Dari Kawah Putih kami ke Situ (danau kecil) Patenggang yang katanya sih pernah dijadikan tempat syuting film Heart (yang pertama dan yang ke-2). Sempatkan berperahu menuju Batu Cinta yang terletak di pulau kecil di tengah danau (bayar lagi, duh duh duh).






















23 November 2010

The adventures begin! Pukul 04.30 kami bertolak dari Bandung menuju Kabupaten Ciamis dengan tujuan utama Pantai Pangandaran dan Sungai Cijulang (Green Canyon). Perjalanan lancar. Kami melintasi Nagrek, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis. Dan Kota Banjar, sebelum kami berbelok 80 km ke arah selatan. Tengah hari kami tiba di Pantai Pangandaran. Panas!! Setelah melihat-lihat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Cijulang. Sumpah ya di sini tuh kurang banget papan penunjuk jalan sampai kami harus tanya kepada penduduk lokal. Cijulang ditempuh kurang lebih 30 menit berkendara dari barat Pangandaran. Agar lebih mudah cari saja lapangan terbang Nusawiru. Menjelang pukul 13.00 kami tiba di depan pintu masuk Green Canyon. Biayanya dihitung per perahu yakni 75000/perahu hingga tiba di Green Canyon, jika ingin melanjutkan petualangan dengan berenang menyusuri Sungai Cijulang kita harus nambah lagi 100 ribu/perahu (bergantung kesepakatan dengan pengemudi perahu/pemandu). Duh ini mah nusuk dari belakang namanya ha ha. Tapi sumpah, obyek wisata ini harus muncul dalam daftar tempat2 yang WAJIB dikunjungi selama di Jawa Barat. It’s beyond words that we have to experience it ourselves. Sebagai bocoran kami bagi deh sedikit foto-fotonya ;)
Setelah puas berbasah-basahan, kami pulang melewati jalur Cijulang-Tasikmalaya yang sangat tidak dianjurkan sebab banyak ruas jalan yang rusak meski sebenarnya jarak tempuh lebih pendek.









24 November 2010
Tujuan kami kali ini Gunung Tangkuban Perahu - pemandian air panas Ciater - Paris van Java Shopping mall

25 November 2010
Menjelajahi pusat Kota Bandung. Museum Geologi - Gedung Sate – Museum Pos (yang spooky abis) – mencicipi yoghurt Cisangkuy – Museum Konferensi Asia-Afrika – Cihampelas Walk Mall




26 November 2010
Menjelajahi Pasar Baru (Jl. Otista) – Masjid Agung – daerah seputar Jl. Dalem Kaum – Braga Walk Mall – walking down the legendary shopping street of Braga – mencicipi Bebek Garang (10 out of 10) – beli oleh-oleh bolen khas Bandung

27 November 2010
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Dago – mencicipi yoghurt (again) dan milkshake di Bandoengsche Melk Centrale – jalan-jalan seputar ITB – kembali ke Surabaya dengan kereta api Mutiara Selatan (no more Pasundan)

Total biaya yang saya keluarkan: 1100000 Rupiah
Remarque personnelle: Bandung memang layak disebut Parijs van Java. Kota ini seperti sebuah sentuhan Eropa di tanah Jawa. Jalan-jalannya (walau sering macet dan semrawut), kafe-kafenya, butik dan FO-nya memang sungguh memikat. Orang Bandung memang punya gaya walau terkadang terlihat frustasi dengan penampilannya. Tapi mereka tetaplah the best-dressed people in the country. Satu-satunya kota besar di Indonesia yang mampu hidup selaras dengan alam, dibanggakan dan dicintai penduduknya dengan sepenuh hati, kota yang hidup dan tumbuh dari kreatifitas. Bagi Anda yang belum berkesempatan ke Paris, berkunjunglah dulu ke Bandung he he.

If you’re lucky enough to have lived in Paris as young man, then whenever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast. (Ernest Hemingway, 1950)

Bromo, Before It Erupted

Tanggal 26 November sekitar pukul 17.00 WIB, Gunung Bromo yang terletak di Kabupaten Probolinggo meletus. Untungnya saya telah sempat berkunjung ke sana beberapa bulan yang lalu.

Bromo, Indonesia’s Most Visited Volcano. The sunrise is around the corner



Morning dawn. A collition



The crater of Bromo


The conquerors on the top

Saturday, November 20, 2010

THE DIARY OF LOVE




Your days of being lonely are now over
You’ve finally found the one to fill the empty corner of your heart
You don’t have to tell me for your eyes do
Love comes like a big surprise, like a birthday present
It’s like sort of ticket, the reason you’ve been standing long in the line waiting for your turn
Impossible to decline, yet so simple as it gets
When you’re ready and just let it in

His gaze is full of love, so is yours
One can simply sense it
Along the way across the sea
He holds your hand tight, his hand is in your face, his fingers through your hair
And you love the way he treats you, the way he adores you
Love is a destiny, all you have to do is being ready

Then love goes, it feels like a knock without somebody at your door
Love flies leaving the hurt that prevails, like a cavity upon your teeth
Mysteriously you still manage to keep it long enough til you find the courage to let go

But the pain of love flies even much more slowly than the time does,
Curved neatly within the memory as you wish to retain it
You continue to seek the remedy til the summer comes bringing a lot of love along
And you’re now ready to sing a brand new song

Antara Sby-Mdr, 18-11-2010
Dedicated to my girlfriends (you know who you are xi xi ;)

TERRA INCOGNITA

Late at night I find it hard to close these eyes
I'm somewhat preoccupied by
Where this life is going to take me
Where in the world this road I take ends
Terra Incognita

Nobody's land that stretches vast before my eyes
that should get named someday by
me who keeps on dreaming about it
me who keeps on fighting for it
Terra Incognita

I'm coming for you
I'm just on my way to you
It's not as easy as it seems
But, I'm coming for you
My terra incognita

SBY, 17-11-10

Wednesday, November 10, 2010

Mentalitas Jawa

Mentalitas Jawa*
Sopan santun Jawa bisa menimbulkan salah pengertian bagi mereka yang tidak melihat secara langsung. Demokrasi kita susah jadi perbandingan: abad ke-18 terlalu bersemangat dan tidak kenal tatakrama, hanya pada abad ke-17, meski agak dibuat-buat, di masa Louis XIV dan Mme De Maintenon, ada sedikit-banyak tatakrama tapi sekaligus ketat dan lengkap. Sopan-santun Jawa itu bukan soal busana yang bisa ciut, topeng yang bisa lepas, polesan yang pudar, tapi sesuatu yang berada dalam batin dan mendasari sifatnya, yang meresapi kedirian, yang merasuki sukma.Demikian juga dengan kejenuhan. Ketidaksabaran, kematian, kekhawatiran, bahkan hawa nafsu, samasekali tidak akan diperlihatkan oleh seorang pemuka Jawa di hadapan tamunya. Dia menanti sampai berada seorang diri untuk mengekspresikan kesedihan atau kegembiraannya.

Dengan kedatangan Belanda, kemampuan tersebut di atas sejak awal dipertahankan bahkan sampai terlihat seperti merendahkan diri, selalu inginn menyenangkan pendatang sehingga tampak hangat, tetapi tetap menyimpan opini pribadinya. Pendatang menjadi penting bagi penduduk lokal. Mereka bertahan dalam sikapnya dengan cara diam, yang merupakan pembawaan sejak lahir. Pendatang dengan kata-kata sombong dan tindakan kejam bisa disebut sebagai borjuis. Penilaian itu meluas dari mulut ke mulut. Yang dibicarakan mungkinn tidak memerhatikannya, tetapi mereka adakalanya terkejut dengan senyuman di wajah kuning: inilah pembalasan dendam dari yang dikalahkan. Penyempurnaan pendidikan tidak terhindarkan dari dampak buruk: kesedihan, mendekati rasa takut yang mungkin salah, membuat kami merasa seperti kemunafikan. Ejekan, ketinggian hati, penghinaan, dan kekasaran ala Eropa bagi orang Jawa dengan kesopanan dan hal-hal yang tersirat masih bisa merasakan itu semua, tetapi mengalihkannya menjadi hal lain. Seorang Prancis pada abad ke-18 mengatakan: “Jangan marah kepada saya yang punya keinginan.” Orang-orang Jawa memilih untuk diam dan berada bersama orang-orang yang mereka sukai. Mereka piawai mengambil hati majikan mereka. Apakah kita dapat mengklasifikasikan itu menjadi kemunafikan? Kemunafikan adalah sikap buruk yang dilakukan demi kepentingan pribadi; orang-orang Jawa sepertinya tidak melakukan hal-hal buruk untuk menyimpan perasaannya di hadapan Anda. Pendidikan dan keinginan untuk menyenangkan hati orang lain tampak wajar pada mereka. Mereka sengaja menggunakan hati naluri dan secara psikologis menelanjangi jiwa orang yang bersama dengannya.

Selain bermoral seperti pengecut, kelemahan mereka yang paling parah adalah kegilaan pada birokrasi. Yang merasa paling berbangga dengan kebangsawanan selama tiga abad adalah yang paling kaya-raya dan memiliki tanah luas di sekitar tempat tinggalnya, yang paling suka berdagang dengan keluarga yang mengelola kekayaannya, tak seorang pun merasa puas atas posisi mereka di pemerintahan atau jabatan mereka di birokrasi pemerintah. Hal ini didorong oleh kecongkakan, bukan oleh penderitaan masyarakat atau juga tidak didorong oleh ambisi. Seseorang akan terus mengejar kekuasaannya sampai terlihat berkuasa. Dia takkan berdiam diri atau hanya setingkat lebih tinggi daripada posisi ayahnya sebelumnya dan tidak menurunkan martabatnya di hadapan kaum yangsederajat dengannya. Dan semuanya memilki pola pikir seperti ini.

Pada masyarakat Jawa, mereka hanya mendapat pendidikan atau tetap memperoleh yang sama dari pemerintah atau agama mereka. Pelapisan masyarakat yang merupakan peninggalan lama, yaitu: tiga anak laki-laki melakukan hal yang berbeda. Anak pertama, sejak awal sudah masuk kantor pemerintah untuk nantinya menggantikan ayah mereka, yang ke dua memasuki sekolah di masjid dan nantinya mungkin pergi ke Mekah untuk memakai surban dan berziarah dan kemudian melanjutkan ke universitas para imam dan pendidikan eklesiastik. Yang terakhir, setelah kakak-kakaknya memilih jalan hidup mereka masing-masing, hanya bisa menikah di lingkungan keluarga dan mengelola harta mereka. Apabila anak ke tiga tidak memunyai jiwa penakluk yang akan berpengaruh besar di masyarakat sehingga bisa bertindak leluasa dan mendapat penghargaan dari golongan yang memilki status di atasnya dan yang berprasangka. Mereka yang dianggap menyimpang dari kelas mereka maka nilai kebangsawanannya direndahkan. Mereka akan kehilangan pengaruh yang didapatnya dari nenek-moyang mereka sejak lama. Masyarakat ini menganggap rendah bercocok-tanam. Mereka juga menganggap rendah perdagangan dan juga industri serta tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan. Mereka juga dapat dikatakan tidak mengenali kesusastraan, sebelumnya mereka menerima agama karena terpaksa. Agaman dipraktikkan secara acuh tak acuh,hanya di luarnya saja dan mereka percaya pada takhayul. Hanya kekuasaan pemerintah yang mereka hormati.

Jangan berbicara soal uang dengan mereka. Mereka tidak peduli. Siapa yang lebih mampu daripada mereka untuk menghamburkannya? Dari tingkatan yang paling tinggi sampai dengan dengan yang terendah semuanya terjerat hutang sampai ke leher. Hal ini berdampak pada politik dalam negeri. Akan tetapi...apakah uang yang mereka dapatkan? Apakah yang didapat dari perdagangan? Bagi orang Cina memang benar. Dari bunga uang? Bagi orang Arab memang benar. Dari industri? Bagi orang Eropa memang benar... Dari menabung? Hanya dilakukan oleh beberapa orang Madura, siapa yang memikirkan hal itu? Bukan...uang yang dihormati, uang yang membuat senang, adalah uang yang diterima dari pemerintah, uang yang diambil dari pajak. Itulah kredonya; Kami berusaha mengubahnya, tetapi perubahannya sangat lambat. Jawa pada tingkatan yang paling rendah masih tetap wilayah yang dipenuhi dengan pengaruh para pegawai negeri.

Jumlah yang beragama sangat sedikit apalagi yang bermoral, sebaliknya banyak sekali orang yang percaya pada takhayul. Tidak ada orang yang tidak punya kepercayaan karena sejarah dan alam bersatu menentang mereka. Tiga ras secara berturut-turut terbentuk oleh tradisi Hindu, Melayu, Cina, tiga ras di dunia yang paling kaya imajinasi dan legenda. Dari merekalah mitologi diturunkan ke orang-orang Jawa. Alamnya memang berpengaruh besar. Hutan-hutan dengan penghuni yang buas, gunung-gunung yang melontarkan api menyebabkan penduduknya dipenuhi ketakutan dan mudah percaya. Mereka percaya pada buaya yang memilki jiwa leluhurnya, harimau yang dihormati oleh para pejabat negara dan bawahannya, naga yang menjadi penjaga bumi.

Catatan Kaki:
*J. Chaillet-Bert, melakukan studi mengenai “Jawa dan Penduduknya” (1907)

Sumber:
Dorléans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang Prancis, dari Abab XVI sampai dengan Abad XX (Les Français et l’Indonésie du XVIe au XXe siѐcle). Jakarta; Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Cuci Piring Setelah Makan

Just got the copy of Hidayatullah magazine’s November edition (it’s an Islamic magazine with the largest circulation in the country) yesterday and got hooked on a great and inspiring article in it. It tells us simply about how to nurture the responsiblity from the early age. The article is sent by Mrs. Ida S. Widayanti, an author, thanks to her for the cool contribution. Here we go. Bonne lecture!

Cuci Piring Setelah Makan
Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang mencari guru terbaik di negerinya. Ia mendengar bahwa guru yang paling hebat tinggal di sebuah tempat yang jauh dan sulit untuk ditempuh. Karena tekadnya sudah sangat kuat, maka berangkatlah pemuda ini dengan membawa perbekalan secukupnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah sang pemuda di tempat sang guru.

“Apa yang membuatmu tiba di tempat ini, anak muda?” tanya sang guru.

“Saya ingin berguru agar saya menjadi orang yang arif dan bijaksana serta menjadi seorang pemimpin masyarakat.”

“Baiklah, sebelum saya bisa menerimamu, saya ingin bertanya, apakah engkau mencuci piring bekas sarapanmu tadi pagi?”

“Tentu saja tidak sempat, Guru. Berangkat ke sini bagi saya merupakan hal yang sangat penting, jangan sampai terganggu oleh hal yang sepele.”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu. Cucilah piringmu dulu! Bagaimana mungkin engkau bisa jadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negeri, sedangkan engkau tidak bertanggung jawab terhadap barang yang telah engkau pergunakan.”

Kisah di atas memberi pelajaran yang penting. Kita kerap menginginkan anak atau siswa kelak menjadi seorang pemimpin hebat yang berguna bagi bangsa dan masyarakat, namun tidak membangun sifat tanggung jawab itu dari hal-hal kecil dan dari dalam dirinya sendiri.

Lihatlah fenomena keluarga zaman sekarang. Jika sedang ada acara kumpul dengan keluarga besar, misalnya saat hari raya Idul Fitri, maka para ibunyalah yang sibuk, mulai memasak makanan,mencuci piring, gelas-gelas bekas keluarga dan tamu, sampai mencucikan baju. Sedang anak-anak dari yang masih kecil hingga remaja cenderung hanya bersenang-senang, bermain, dan bersantai-santai.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, yang mana orang tua sangat melibatkan anak-anak dalam kegiatan rumah tangga. Sehingga sifat tanggung jawab dan kemandirian anak tumbuh. Di beberapa daerah mungkin fenomena tersebut masih tampak, namun di masyarakat perkotaan sudah hampir luntur. Anak-anak hanya dibangun kemampuan kognitifnya dengan belajar aspek akademis semata, sedangkan kemandirian kurang dibangun karena mengandalkan pembantu rumah tangga (PRT).

Di negara-negara Barat, di mana gaji pegawai domestik sangat tinggi, jarang ada keluarga yang memperkerjakan PRT. Walhasil, anak-anak sudah dilatih kemandirian sejak dini. Beberapa sekolah memberikan pelajaran home carrier , agar siswa-siswi profesional dalam mengelola pekerjaan rumah tangga. Mereka belajar bagaimana memasak praktis dan bergizi, mengatur lemari pakaian untuk empat musim, membersihkan rumah, juga mengatur barang-barang di gudang.

Di sebuah sekolah usia dini, saat bermain bebas disediakan berbagai alat permainan, di antaranya: tempat mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan mobil, memandikan bayi, dan lain-lain. Anak-anak usia 2-3 tahun pun dengan senang dan serius melakukan kegiatannya. Mungkin terlihat sepele, namun sangat penting untuk kehidupan masa depan mereka.

Sunday, November 7, 2010

Marit Larsen and Obsession

Imagine you wake up in a perfect Saturday morning with a thick smell of mouth-watering muffin in the air baked by your girl. Then you preceed to the kitchen and find her pouring the dough into the cake-tins watchfully. You see the love and tender in her eyes. Suddenly you feel you’re the luckiest guy on earth to have her with whom you’re spending the rest of your life. The very naked truth ;)





Above: Marit Larsen, home-made muffins in the making. This talented Norwegian singer-songwriter thinks she’d make a good housewife, admitting she can spend 2-3 hours in the kitchen preparing food while expecting the new ideas for writing songs to pop out. She’s already had a boyfriend named Thom Hell, who’s just also a great musician. What a perfect couple!

Credit to Halvard for scanned picture ;)

Friday, November 5, 2010

Halloween: la fête commence

Un peu d’histoire
La fête d’Halloween a été inventée par nos amis les Gaulois, il y a 2500 ans. A la fin de l’été, l’année gauloise se terminait. Les animaux quittaient leur pâturage pour rentrer dans les étables. Pour remercier le soleil de la bonne moisson, les Gaulois organisaient dans la nuit du 31 octobre au 1er novembre une fête qu’ils avaient baptisée Samain. Lors de cette fête, les Gaulois éteignaient tous les feux puis se ressemblaient autour des druides (prêtres gaulois) qui avaient pour mission d’éteindre officiellement ces anciens feux pour en rallumer un autre afin d’honorer le soleil et chasser les mauvais esprits. Tous les Gaulois recevaient une braise de ce feu pour, à leur tour, allumer un nouveau feu qui devait durer toute la nouvelle année. La fête durait deux semaines. Afin de chasser les mauvais esprits, les Gaulois mettaient sur eux des tenues effrayantes. Ils mangeaient et buvaient, bref, faisaient la fête.

De Samain à Halloween
C’était les premieres pas vers, ce qui sera, des siѐcles plus tard, la fête de Halloween. Vers l’an 840, Samain a été mis dans le calendrier chrétien. Cette fête a été ensuite appelée Toussaint par le pape Grégoire IV. Le mot anglais serait né en cette période et devint “Hallowe’en” veille de la Toussaint puis Halloween. Cette fête a été ensuite suivie par les Irlandais, les Ecossais, les Gallois.
A la suite d’une grande famine qui poussa ces peuples à émigrer aux Etats-Unis, Halloween est devenue une fête nationale aux Etats-Unis.

Source: TBA ;)

Les experiences inoubliables

A Few Little Things From The Past I Won’t Let Go
If man could really invent a time machine, it would seriously be a technological triumph as well as a priceless contribution towards civilization. It would enable us to do tons of beyond-imagination things. We’d possibly get the luck to have a rendez-vous with our grand, grand, grandparents or to witness from afar by the day Krakatoa exploded massively back in 1883; to break down the mystery of how Madagascar was populated etc, etc. Just too many possibilities. But there’d be no such thing we called history if such machine did exist, wouldn’t it? So we’d better stand lightyears apart from it. As for me, I do have some memories which are too sweet to get over. But I mostly find that the memories of my childhood are the hard ones to recall. Perhaps my childhood wasn’t that interesting that it wouldn’t turn itself into a long-term memory. Overall in this ever-expanding universe, it’s strange to think that all adventures have an end. So nasty knowing we’ll leave this world in the end, that every living creatures has to breath his very last breath. Oh la la life is so whimsical ;)

≠1. One day I was sitting in a cafe with my Danish and Swedish friends. While waiting for the orders, we broke into a conversation. Having known I knew some Norwegian, he challenged me to say something in it. So I said a simple sentence, “Jeg tror vi kan gå på kino i dag (I think we can go to the cinema today)”. They both could got it. That way I proved that the mutual intelligibility among Scandinavian languages wasn’t a myth ;)

≠2. I made my first air trip from Solo to Surabaya when I was in my second or third year of primary school. The flight itself lasted only some 30 minutes, but it surely had a deep impact in the innocent me. I’ve been fascinated by airplanes ever since.

≠3. I had a hard-to-please English teacher during my second year of middle school. Being her student meant we had to have a good memory as every week she obliged us to remember by heart the conjugation list of irregular verbs she made. If not for her, I could hardly think what would happen to my English today. She really laid the building blocks for improving my English. A grace in disguise, isn’n it?

≠4. I had my first Mc. Do’s big meal hamburger during a layover in Bali on my way to Japan. I got the impression that munching burger in the middle of the night was awfully awful. I couldn’t find out why.

≠5. My 5 day trip to Japan in 2000 was more than I bargained for. FYI, I went to a small town on Shikoku Island called Kochi to represent Surabaya in education exchange program. Both towns were twinned on a sister city program. But they didn’t ressemble much, frankly speaking ;). Japan was, like the rumours had it, convenient. I love the Kansai Airport in Osaka, so biggy and looked futuristic. And when in Kochi I did a lot of tour: visiting some schools, visiting some interesting places in the town, learning how the garbages was recycled and managed carefully and attentively (they had a huge building with a giant garbage-processing machine in it), most importantly I had the chance to stay overnight by a Japanese family. Though I didn’t speak any Japanese, I could always find the way to communicate with them. But we’ve now somewhat lost contact to each other.

≠6. Long before English started to intrude Indonesian vocabulary, one used to call a flat or an appartement as kondominium. On a train to Bandung, I saw that kind of buliding. Moments later I screamed enthusiastically, “Papa, look, there’s a tall and huge kondom (instead of saying kondominium)”. I bursted out like crazy that my dad had to cover my big mouth ;) Guess, it was a bit embarassing for my parents.

≠7. I was so excited knowing I was accepted in a medical school through the national college entrance exam after a series of flops. Didn’t know exactly how come I could make it. It was fated maybe.

≠8. Graduating from my highschool was perhaps the happiest moment in my life. Some say that highschool is the best stage in your lifetime. But it just didn’t work on me. I just couldn’t get along well with it.

≠9. One should really see the sunrise over Mt. Bromo and the sunset over Uluwatu Temple in Bali. I insist!!!!!!!!!!!!!! And Lombok’s Kuta beach and Gili Trawangan are my revelations of the year!!!!!

≠10. I miss Saudi Arabian city of Madina!!!!!!!! It’s always in my heart!

≠11. The rest is mine to keep ;P

Friday, October 22, 2010

WHAT A DRAMATIC WAY TO END THIS UP

Speechless. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Yang jelas saya amat-amat bersyukur dengan apa yang telah terjadi dalam hidup saya dalam sebulan terakhir (baca: RES). Hari tepat hari terakhir saya stase sebagai DM RES peadiatri. Adios amigos ha ha. Hari juga sekaligus hari ujian lisan saya, ditangguhkan satu hari sebab profesor yang menguji saya, Prof. Dr. Sylvie Damanik, berhalangan hadir kemarin. Menurut kabar sih beliau enak banget kalau menguji. Dan saya benar-benar beruntung berkesempatan diuji oleh beliau. Ujian dimulai pukul 9 pagi tepat. Saya mendapatkan kasus kejang demam komplikata plus faringitis akut. Alhamdulillah pertanyaannya satu per satu bisa saya jawab dengan tenang (padahal aslinya tetap gugup abis). Beliau bertanya seputar kasus saya, lalu tentang infeksi virus dengue dan demam berdarah, imunisasi (ini saya diberi kesempatan untuk memilih pertanyaan oleh saya sendiri lho), terus pertanyaan pamungkas oleh PPDS pendamping saya yang super nice, dr. Debby ;). tentang diare. That was all. Alhamdulillah nilai ujian lisan ini lebih dari cukup he he. Hidup saya dalam sebulan terakhir ini tak ubahnya seperti roller coaster going up and down. Banyak suka dan duka, tapi asli happy banget bisa mengisi waktu dengan RES he he. Hitung-hitung les intensif buat UKDI. Menjadi DM RES telah melatih rasa empati saya baik terhadap teman-teman sejawat (you know who you are). Pun saya beruntung mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan para pasien pediatri. Jujur saya juga lebih sedikit ngeh tentang ilmu pediatri daripada saat awal saya masuk lab ini. Yang jelas saya sangat bersyukur. This turned out to be a sweet revenge for me. Ujian tulis ga UP (yah walaupun ngepas banget nilainya) dan nilai ujian lisannya mungkin rekor tertinggi selama saya menjadi DM. Sekali lagi alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, Kau telah mendengar dan menjawab semua pintaku. Teman-temanku sejawat yang juga RES di pediatri, thanks a lot!! What would my life be without your constant company and support. We made it finally ;) !!!! Dan juga untuk mama dan papa. Let the next show begin! UKDI waits for me, Insya Allah!!!

Friday, October 15, 2010

Ain't Playing A Sinking Game

I'm writing this from a cyber cafe of our faculty's library an hour after the bloody pediatric written exam. All went well just as expected. Thanks a lot my dear God, I was at least a bit relieved. Most of the presented exam problems hailed from the prior old exams. Now I can myself a really lucky jerk and expect a couple of days off this weekend. After that I'll just have to start my engines for the next bloody oral exam. Blah.

P.S.: I can sense somehow that Bangkok is calling me. It keeps ringing in my ears!!! To be honest I've been trying to persuade both my parents to make a trip all the way to Bangkok. I've been telling them repeatedly that Air Asia has now had a direct flight there from Surabaya since this November. And now they seem to be under my spell he he. Let's see how it ends ;)

Sunday, October 10, 2010

Back in God's Hand

Actually, I'm not really in the mood to drop some words for the time being. But I just have to. I wanna write an inscription about what has been going on with my life for these last three weeks. First of all, let me make a confession. I've been devastated even since the iudicium day (it was in mid-September). Thought that day would mark my very final day as a junior doctor (are you familiar with this term??). Thought I'd be free from my duty at hospital for a while after 18 months of working my ass, boring daily routines of seeing the patients in the wards, tons of case discussions, bla bla bla. I thought I'd make it perfectly by the iudicium day. I was confident though considering that I always did my best in each final exam at each departments. My mind was filled with a couple of wild imagination of making trip to, say Singapore or Bangkok; or enroll myself for an ECG course or that kinds of trainings. But it ALL got screwed up simply because I failed in my pediatric test. For this reason the faculty sent me and a flock of buddies who were as "lucky" as me, back to the lovely peadiatric department for 4 weeks. I was totally upset, jealous, and partially ashamed. But I managed not to show these my very feelings to others, but the pain remained there. I've been feeling somewhat sacrified by that f*****g person. Blaaaah.

But life goes on. Now me voici!! Been already in my second remedial week at pediatric dept. Me and my other 8 buddies will try our best to survive this obstacle. We've been like one big family lately he he. Impossobly difficult written test is scheduled by the third week and the oral exam by the last week. So hopefully we'll have been finished by the 3rd week of this October. But tomorrow we'll still have to try to negotiate the date of our second iudicium with our new dean in a hope that we still can catch up with UKDI (kind of USMLE in the US) taking place in November. We really have to try cuz we're in need of STL (Surat Tanda Lulus) as one of requirements to apply for UKDI. All other requirements must be handed in by this Oct 13, but the STL can be enclosed not later than Nov 3. So we do hope that our second iudicium can take place during the last week of Oct. Hope our new dean is wise enough and open-minded. If it goes as expected my short-term to-do list would look like this: written exam - oral exam - iudicium - UKDI - graduation ceremony - INTERNSHIP. I'll do whatever it takes, but still it's all back in God's hand. But I believe that unthinkably good things can happen, even late in the game. In the name of Allah ;) peace be upon all of us.

Friday, August 13, 2010

Tarawih

Saya memang tidak terbisa melaksanakan sholat tarawih berjamaah selama bulan Ramadan. Dan banyak teman-teman saya yang mengganggapnya aneh. Oleh sebab itu saya paling tidak suka pertanyaan “Anda biasanya sholat tarawih di mana?”, sebab pertanyaan jenis ini melanggar area privasi saya. Namun Ramadan tahun ini akhirnya saya menemukan jawaban yang pas bila ditanya pertanyaan serupa. Saya akan menjawab saya sholat di masjid “Fil Baiti” ;) dan saya telah melakukannya kemarin.

Music of My Life: Grégoire Boissenot, The Raising Star



Walaupun baru menelurkan satu album pada September 2008 lalu, prestasi dari penyanyi dan pencipta lagu asal Senlis, Perancis ini patut diapresiasi. Albumnya terjual lebih dari 750 ribu kopi yang membuatnya mendapatkan anugerah disque de diamant dan penjualan albumnya ini merupakan yang terbaik di Perancis pada 2009. Wow, you might be wondering what’s so special about him. Personally saya rasa it all lies on his music itself since his voice is nothing but ordinary (oops..). Musiknya gue rasa cukup fresh, unik, dan ringan. Dibuka dengan single ketiganya Ta Main (Tanganmu: ind) yang sangat calm, petikan gitar dan iringan piano yang cantik membuktikan kemampuan musiknya yang hebat. Dengan reffrain yang gampang nyantol di kepala plus liriknya yang menyentuh, lagu ini layak banget dijadikan single andalan. J’aurais aimé tenir ta main un peu plus longtemps. J’aurais aimé que mon chagrin ne dure qu’un instant.

Biasanya penyanyi pria jarang sekali memperhatikan lirik, tapi ini tidak berlaku bagi penyanyi kelahiran 1979 ini. Dalam cover CD, lirik-lirik ditulis dalam model surat pada kekasihnya. Jadi latar belakang penulisan lirik bisa diketahui. How romantic! Berikutnya adalah lagu Nuages (Awan: ind), juga sebagai single ke empat, yang bertempo cepat masih dalam iringan gitar dan piano. Vers-vers pertama dimainkan dalam nada minor yang disusul dengan reffrain yang happy. Lagu-lagu lain yang layak diapresiasi antara lain Toi + Moi (Kau + Aku: ind) yang juga menjadi single pertamanya. Lagu ini unik sebab tiap vers-nya dibuka dengan kalimat toi + moi + eux + tous ceux qui le veulent + lui + elle et tous ceux qui sont seuls ;), selain itu ada juga piano driven ballad Ce qu’il Reste de Toi, Rue des Étoiles dan Priѐre yang menjadi favorit saya.

Sunday, June 13, 2010

Travelling to Manado and Bunaken and on How I Fell Under the Charm of Dabu-Dabu Sambal


As tradition has it, I seem to always be on a trip a week or two prior to my exam (that time I was at surgery department doing my clinical rotation). During the last weekend of May, I and my family went to Manado,the charming little town on the northern tip of the Island of Celebes. I tought I was sort of on the verge of a discovery since I had never really imagined much of this island. What a shame! But on the whole it’s not solely my fault. Blame it on the government (particularly the Ministry of Tourism and Culture) for not doing their best to promote this forgotten island. They do need to more intensively promote it. Where were we ha ha? So this town was not well-depicted in my mind until my airplane (I flew with Sriwijaya Air with its infamous service and its fake-smiling flight attendants oops ;) touched the runway of Sam Ratulangi Airport of Manado. This airport is factually named after the famous hero of North Celebes. And trust me this airport is only “international” in name. I could hardly see any foreign aircraft fleets or local air companies with international routes parked in it. The only sign of its international sense was probably the presence of gangway (garbarata: Ind). O c’mon.

We arrived there by midday so it was already time for Friday prayer. So I went to a local mosque not far from the airport. What??? A mosque in a province where more than 80% of the population claims to be the followers of Jesus??? Yeap, Islam does flourish and thrive here guys thanks to the Dutch for choosing Manado as an exile for Kyai Mojo and the gang. It must have been a perfect getaway for ‘em he he.

My Very First Encounter with the Sinful Crabs
We went straight to a local restaurant (I forgot the name unfortunately) to taste some local specialties. The tables and the utensils were all set, but hey where were the food? I was about to learn another uniqueness of Manadonese when serving the meals. First they brought out the rice, the chili sauce aka sambal, then they served the dishes. So we cheerfully helped ourselves to a big scoop of rice and all we saw on the table. What a delicacy! Manadonese foods are obviously the biggest rival of Padang food ha ha. We ate and ate til our tummy reached its maximum extent. But voila then came other delicacies which were supposed to be the main course, so what we all just had was seemingly the starter. What?? So instead of letting them go untouched we had our second round of meal. My eyes caught the sight of the animal of my star sign aka crabs. I was rather doubtful to give it a try since I’d never ever tasted it in my whole life. But the look and the smell simply mesmerized me. Then those poor big crabs cooked with coconut milk and exotic herbs found their way into my mouth ha ha. I was in ecstasy then…;)

Lake of Tondano
C’est passé. Caught nothing interesting here.

Fantastic Splurge Hotel
Last year Manado hosted the World Oceanic Conference (or whatever..) in an attempt to boast its tourism potentials. But the city was rather lack of all kinds of travel itinerary, including the accommodation. So as for preparation, the local authority felt the urge to upgrade some hotels. I was lucky to get the chance to stay in a five star hotel, the only one of its kind in Manado, called Sintesa Peninsula Hotel. The hotel was conveniently located in the heart of the town, sitting high in a green and lush hill. Just perfect! I regarded it as a privilege. The room was all great and convenient, had double beds, clean bathroom, big flat screen tv, elegant working table, free internet access, cool paintings, and wooden floor (though it’s artificial I guess). From the balcony one got a spectacular view of Manado Bay dotted with a few islets and their summits afar. Breathtaking!

Bunaken
The next morning we set sail to the famous Bunaken Islands, a cluster of islets some 10 miles away from the quay. Manado is truly surrounded by hills and wilderness, so a boat trip to Bunaken would make a great escape. The weather was perfect, cloudless and the sea was so blue, so crystal clear though one might spot the floating garbage on the surface of the water along the track to Bunaken. How annoying! But that just wouldn’t stop us to keep on sailing he he. A moment before we anchored, the captain made a stop to show us the underwater panorama through the glass that penetrated down the sea. Frankly speaking, Bunaken is not a perfect spot for those unable to swim, just like me, cuz I believe that the coral reefs and the coral fishes can only be appreciated only when you dive. The Bunaken Island itself didn’t match my expectation. I thought there would be a vibrant kind of living on the island just like what I formerly saw on Gili Islands of Lombok. Pretty a discouragement! So lame and boring. But there was a restaurant serving great dishes that was a relief to me he he. We tried to avoid eating any kinds of flesh, but the fish or seafood during our trip to Manado for halal reason. The restaurant was called Nelson and owned by a lady from Moluccas I believe (due to their physical appearance). The dishes were ALL great, best-tasting food I’d ever tried in the whole universe. I did like the chili sauce called dabu-dabu and the other one I didn’t recognize which was even more exotic. The chopped shallots, fresh tomatoes, lemon water, the shrimp paste (just to name a few) turned out to be a beautiful combination. They were a piece of heaven he he. But did u know guys that Manadonese do eat the sweet fried banana with dabu-dabu? A lethal combination ha ha. That was all, I just could hardly wait to return to Manado.

Impression
Manado is so easy to fall in love with. The people love parties and seem to enjoy every single day of their life. Life is celebrated here!! One will get the chance to learn that it’s very possible to live in harmony with nature or probably with your neighbors with different religions. The Manadonese or Minahasans love helping each other, they won’t hesitate to help their neighbors who are helplessly in need which is already a scarce thing among Javanese society. I learned not to be an ignorant, that we need to participate in the social life by sharing what you have more, to be more passionate about life , and not to forget that our ancestors were great and skillful seafarers he he. Til we meet again Manado!!



Saturday, March 20, 2010

Pengalaman Berumrah ke Tanah Suci

Alhamdulillah saya berkesempatan melakukan umrah ke tanah suci pada 10-18 Maret lalu. Thanks to mom who came along with me on the journey, I’d never have considered doing this without you! My appreciation also goes to Shafira for being our great travel agency and for their assistance. Perbedaan antara ibadah haji dan umrah terletak pada waktu dan manasiknya. Umrah dapat dikerjakan sepanjang tahun, sedangkan haji hanya boleh dikerjakan pada bulan-bulan tertentu. Manasik umrah meliputi: 1. Ihram; 2. Thawaf; 3. Sa’I; 4. Tahallul yang kesemuanya harus dilaksanakan secara tertib dan berurutan. Sedangkan manasik haji masih ditambah dengan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, lempar jumrah dll yang pastinya lebih rumit dan memakan waktu lebih panjang(1).

Pada umumnya kegiatan ibadah maupun umrah berpusat pada tiga kota di Kerajaan Saudi Arabia. Jeddah, sebagai pintu gerbang utama karena lokasinya berbatasan dengan laut dan memiliki lapangan terbang internasional bernama King Abdul Aziz, selain itu jaraknya yang dekat dengan Mekkah (± 73 km) membuat kota ini semakin strategis. Madinah, as a birthplace of Islam, kota suci ke dua umat Islam sekaligus tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkam. Mekkah, sebagai puncak pelaksanaan ibadah karena di sinilah terlatak Kabah yang menjadi arah solat umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Tak terkecuali dengan perjalanan umrah yang kami lakukan. Dari Surabaya kami terbang ke Jakarta. Perjalanan udara Jakarta-Jeddah ditempuh dalam 9 jam plus sekian menit dengan melewati empat zona waktu dan menggunakan jasa Garuda Indonesia. Anyway salut kepada manajemen Garuda Indonesia yang telah menerima anugerah 4-star airline dari Skytrax Airline Ranking(2). Kami tiba di Jeddah ± 21.30 waktu setempat untuk kemudian meneruskan perjalanan darat ke Madinah selama 6 jam. Sungguh melelahkan. Saya lebih banyak tidur selama perjalanan. Menjelang subuh kami tiba di Madinah dan bersama-sama kami membaca doa memasuki kota ini di bawah panduan ustad pembimbing kami. Ustad saya bercerita panjang lebar tentang sejarah kota ini, namun tidak banyak yang saya ingat. Yang saya ingat kami berpapasan dengan sebuah gunung yang kata ustad kelak akan ditempatkan di neraka. Gunung itu bernama Jabal Ir. Oh ya, kota ini bersama-sama kota Mekkah disebut tanah haram sebab hanya mereka yang beragama Islam yang diperkenankan melawat kota-kota ini. Kerlap-kerlip lampu dari kejauhan semakin membuat Madinah terlihat cantik di kala malam.

MADINAH AL-MUNAWARAH
Dahulu kota ini bernama Yastrib sesuai dengan nama pemimpinnya kala itu. Kemudian dinamakan Madinah Al-Munawarah yang berarti kota yang bercahaya. Nama ”Madinah” sendiri berarti ”kota” dalam bahasa Arab. Alhamdulillah kami dapat menunaikan solat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi ketika kami tiba di sana. Selama ziarah di kota ini kami menginap di Hotel Radisson yang berjarak 2 menit berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Below is the list of unmissable things during our stay in this City of Light:
* Solat berjamaah di Masjid Nabawi tercinta (it’s a MUST). Rugi banget datang jauh-jauh kalau tidak mengoptimalkan ibadah di sini.
* Ziarah ke makam Rasulullah SAW, makam sahabat beliau Abu Bakar r.a.
* Raudlah, tempat yang amat mustajabah untuk memohon sesuatu pada Allah SWT.
* Jabal Uhud beserta makam para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud.
* Kebun kurma yang dilengkapi tempat membeli oleh-oleh. Mengerikan juga melihat nafsu para jamaah Indonesia dalam berbelanja. Tidak heran para pedagang Arab amat mencintai jamaah Indonesia he he .
* Mengambil miqat di masjid Bir Ali sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan rukun-rukun umrah selanjutnya.

Berada di kota ini sungguh merupakan sebuah pengalaman hidup yang tidak ternilai. Saya telah jatuh cinta dengan kota ini. Saya akan sangat merindukan keramahan penduduknya, tata kotanya yang harmonis, para pedagang jalanannya serta tentu saja Masjid Nabawi.

MAKKAH AL-MUKARRAMAH
Setelah 6 jam perjalanan darat dari Madinah tibalah kami di Mekkah menjelang tengah malam. Segera kami menunaikan thawaf, sa’i diakhiri dengan tahallul. Lengkaplah umrah yang kami lakukan, alhamdulillah. Unmissable things during our stay in Mecca:
* Solat berjamaah di Masjidil Haram. Solat di Masjidil Haram pahalanya berlipat ganda. Sekali solat di masjid ini sama dengan solat 100.000 kali di masjid lainnya yang setara dengan keutamaan solat selama 55 tahun, 6 bulan, dan 20 malam di masjid lain (1).
* Masjid Quba, masjid yang pertama kali didirikan Rasulullah SAW
* Padang Arafah, Muzdalifah, Mina dan Jabal Rahmah
* Menjelajahi suq-suq alias pasar yang ada di kota Mekkah.

JEDDAH
Nama Jeddah berarti nenek tua dalam bahasa Arab yang mengacu pada Siti Hawa. Konon setelah melanggar larangan memakan buah khuldi, Siti Hawa diturunkan di kota ini sedangkan Nabi Adam a.s. di Srilangka. Keduanya bertemu di Jabal Rahmah setelah 40 tahun berpisah. Saat ini Jeddah menjelma sebagai kota pelabuhan dan kota industri terpenting di Kerajaan Saudi Arabia. Hampir semua barang-barang yang ada di Madinah atau Mekkah didatangkan dari sini. Di sini kami mengunjungi pusat perbelanjaan Balad yang terkenal. Namun ada toko yang paling laris yaitu toko Ali Murah. Alih-alih berbelanja saya lebih tertarik untuk masuk ke sebuah restoran Filipina yang masih berada dalam satu kompleks. Perjalanan dilanjutkan ke masjid terapung yang tersohor itu. Masjid ini dibangun oleh seorang janda kaya raaya bernama Siti Rahmah. Saking kayanya beliau ingin membangun sebuah masjid. Beliau diizinkan membangun masjid dengan syarat tidak terletak di atas tanah sebab menurut pemerintah Saudi urusan pembangunan mesjid seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Maka lahirlah ide untuk membangun masjid yang pondasinya terletak di atas pantai. Sempat kecewa juga sih sebab kami tidak mengunjungi kota tuanya Jeddah yang masuk dalam UNESCO World Heritage Tentative List (3).

Referensi:
(1). Zuhairi Misrawi. Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009.
(2). http://www.garuda-indonesia.com/news/2010/01/29/garuda-indonesia-certified-as-a-4-star-airline
(3). http://whc.unesco.org/en/tentativelists/5085/











Saturday, March 6, 2010

Travelling to Lombok and Gili Trawangan

Lombok, Bali’s Reminiscence of The Past
Kamis, 25 Februari 2010
Matahari telah tenggelam dan gerimis mengguyur saat saya menginjakkan kaki di Bandara Selaparang setelah satu jam penerbangan dari Surabaya. Akhirnya untuk kali pertama saya di Lombok wew.. It feels amazing that I finally decided to come along on this trip arranged by mommy and her fellas. Seems to me I kinda challenge myself since my exam day is just a week away and concerning the fact that I haven’t done much as for the exam prep. But who cares? I can’t miss such a great chance unless I’m an idiot ha ha. The most lovely part of traveling with my parents is that all costs and charges will be at their expenses so I basically travel for free ;) Above all I’ve got enough of being a lonesome backpacker since my last trip to Bali which was pretty traumatic for a few particular reasons I won’t discuss here (apart from the shortage of money ha ha ;) Setelah itu dengan bus kami meluncur ke sebuah rumah makan bernama MM (or whatsoever) yang konon menyajikan hidangan ayam Taliwang dan pelecing kangkung paling yummy seantero Lombok. Usut punya usut ternyata “Taliwang” adalah nama desa di mana makanan ini pertama kali dipopulerkan, ini kata guide-nya lho. Jenis ayam yang dipakai untuk masakan ini adalah ayam-ayam yang masih brondong sehingga porsinya memang kecil (sepertinya disengaja deh supaya yang makan minta tambah terus he he). Kangkung untuk pelecing-nya seram euy. Batangnya besar-besar, daunnya panjang-panjang pula (feels like I’m a herbivore for a moment!!!).

Setelah bersantap malam kami menuju ke sebuah hotel di kawasan Senggigi di mana kami akan menginap selama di Lombok. Voila ternyata kami menginap di The Jayakarta Resorts and Hotel. Surprised banget mengingat saya jarang sekali menginap di hotel yang tergolong mewah. Dari brosur yang saya temui di kamar hotel, ternyata hotel The Jayakarta punya beberapa jaringan di Indonesia seperti di Anyer (Jawa Barat), Bali, bahkan di Pulau Komodo juga (wow..).

Jumat, 26 Feb
Acara kami hari ini adalah mengunjungi desa pusat kerajinan gerabah, tenun khas Lombok, desa tradisional Sade, Kuta, dan Puri Narmada. But the highlights are Sade and Kuta. Sebelum kami bersiar-siar, terlebih dahulu kami stase pagi gastro aka breakfast buffet di dining hall dari hotel. Wuih lagi-lagi seram euy hidangannya. Dijamin bisa bikin penderita diabetes mellitus tipe 1 atau 2 malas menunggu 15 menit sebelum insulin prandialnya starts to work. Nafsuin banget lah. Dari menu sarapan pagi ala Indon sampai ala Londo terhidang di sini. Wafelnya maknyus banget, but the omelet is rather disappointing. Overall saya yakin rasa menu-menu yang lain tidak dalam batas normal (enak banget maksudnya he he).

Sade adalah desa tradisional yang memang sengaja direservasi untuk menarik para wisatawan. Di sini wisatawan dapat menyaksikan lebih dekat serta mempelajari sedikit tentang budaya suku Sasak antara lain arsitektur dari lumbung padi, rumah penduduk (yang katanya lantainya dibersihkan dengan kotoran kerbau) dan balai pertemuan di mana masalah-masalah keseharian dicarikan solusi. Atap bangunan suku Sasak memiliki bentuk yang cute, mirip menara masjid. Saya baru tahu kalau Lombok itu dijuluki sebagai bumi seribu masjid sebab di samping mayoritas penduduknya adalah muslim yang taat banget, orang dengan mudah melihat masjid tersebar di mana-mana bahkan antara satu masjid dengan lainnya bisa hanya 100 meter jauhnya. Here mom’s just got me a georgeous woven sarong for Friday prayer. It’s homemade, she bought it for 40000 IDR.

Setelah itu kami menuju pantai Kuta yang terletak di bagian selatan dari Kabupaten Lombok Tengah. Oh God. who will love this beach not? Speechless. Pantai pasir putih membentang sejauh mata memandang dikelilingi bukit-bukit hijau yang kokoh dan terjal dengan laut yang hijau membiru. So picturesque. One has to see it on his own!! Recommended!! Pantainya masih alami banget, tapi fasilitas pendukungnya belum terbangun dengan baik.

Sabtu, 27 Februari 2010
Agenda hari ini: The most anticipated, the newly-rediscovered Gili Islands (yippee langsung deh All Saints – Pure Shore #nowplaying). Berhubung cuma sehari kami memutuskan untuk hanya berkunjung ke Gili Trawangan. Dalam bahasa Sasak kata “gili” berarti pulau kecil (Ind) aka islet (Eng) aka holm (Nor) aka la isla bonita (Esp or Madonnese). Gili-gili ini berada kurang lebih 5 km lepas pantai Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat dan dapat ditempuh selama 45 menit dengan perahu mesin. Sebenarnya tidak banyak aktifitas yang dapat dilakukan di gili-gili ini selain bersantai, berjemur, bermalas-malasan. Di Gili Trawangan orang berkesempatan untuk diving, snorkeling, atau menjajal beberapa permainan air seperti banana boat. Atmosfir di Gili Trawangan ini hedon banget deh, mirip dengan kawasan Legian atau Kuta di Bali. Di sini saya menyempatkan diri untuk bersepeda keliling pulau ini. Cukup dengan biaya sewa 30000 IDR per jam saya bisa berolahraga (siang bolong) sekaligus menikmati indahnya panorama alam. Recommended. Menurut saya orang belum ke Lombok deh jika belum sempat mampir ke gili-gili ini. Setelah puas berpanas-panas dan melihat lautan deux pièces kami kembali ke daratan Lombok untuk berjalan-jalan sore di Kota Mataram.

Hari ini kami makan malan di rumah makan Dirgahayu yang terletak di samping Mataram Mall dengan menu, apalagi jika bukan, ayam Taliwang dan pelecing kangkung (mbeeeeeek). Wow saya terkesan sekali dengan Kota Mataram. Kotanya tertata rapi. bersih, tapi bangunan-bangunannya sepertinya masih peninggalan tahun 70 atau 80-an. So old-fashioned yet charming. I’m particularly interested in the old quarter which is centered around Ampenan. The used-to-be-warehouses look so fantastic, simply remind me of those antique buildings scattered around the northern part of Surabaya. Mataram Mall ini satu-satunya tempat belanja yang trendi di NTB jadi harap maklum jika terjadi antrian mengular di kasir Hero seperti yang saya alami. Outlet makanan cepat saji yang ada antara lain McD, KFC, dan Pizza Hut. Pas mal ;)

Minggu, 28 Februari 2010
It’s still early in the morning, but we have to wake up to catch our morning flight. Hari ini saya berhasil membuat penerbangan terlambat take off 20 menit gara-gara nama yang tercantum di boarding pass tidak sama dengan yang tertera di KTP (ada pemeriksaan KTP lho di Bandara Selaparang). Ini sih kesalahan travel agent kami. Terpaksa membayar 750 ribu karena saya diharuskan “membeli” tiket lagi. But anyway tidak ada gading yang tak retak. Saya pulang dengan membawa memori indah di surga yang terlupakan ini ;) I’ll come back again here for sure in the near future ;)