Saturday, March 6, 2010

Travelling to Lombok and Gili Trawangan

Lombok, Bali’s Reminiscence of The Past
Kamis, 25 Februari 2010
Matahari telah tenggelam dan gerimis mengguyur saat saya menginjakkan kaki di Bandara Selaparang setelah satu jam penerbangan dari Surabaya. Akhirnya untuk kali pertama saya di Lombok wew.. It feels amazing that I finally decided to come along on this trip arranged by mommy and her fellas. Seems to me I kinda challenge myself since my exam day is just a week away and concerning the fact that I haven’t done much as for the exam prep. But who cares? I can’t miss such a great chance unless I’m an idiot ha ha. The most lovely part of traveling with my parents is that all costs and charges will be at their expenses so I basically travel for free ;) Above all I’ve got enough of being a lonesome backpacker since my last trip to Bali which was pretty traumatic for a few particular reasons I won’t discuss here (apart from the shortage of money ha ha ;) Setelah itu dengan bus kami meluncur ke sebuah rumah makan bernama MM (or whatsoever) yang konon menyajikan hidangan ayam Taliwang dan pelecing kangkung paling yummy seantero Lombok. Usut punya usut ternyata “Taliwang” adalah nama desa di mana makanan ini pertama kali dipopulerkan, ini kata guide-nya lho. Jenis ayam yang dipakai untuk masakan ini adalah ayam-ayam yang masih brondong sehingga porsinya memang kecil (sepertinya disengaja deh supaya yang makan minta tambah terus he he). Kangkung untuk pelecing-nya seram euy. Batangnya besar-besar, daunnya panjang-panjang pula (feels like I’m a herbivore for a moment!!!).

Setelah bersantap malam kami menuju ke sebuah hotel di kawasan Senggigi di mana kami akan menginap selama di Lombok. Voila ternyata kami menginap di The Jayakarta Resorts and Hotel. Surprised banget mengingat saya jarang sekali menginap di hotel yang tergolong mewah. Dari brosur yang saya temui di kamar hotel, ternyata hotel The Jayakarta punya beberapa jaringan di Indonesia seperti di Anyer (Jawa Barat), Bali, bahkan di Pulau Komodo juga (wow..).

Jumat, 26 Feb
Acara kami hari ini adalah mengunjungi desa pusat kerajinan gerabah, tenun khas Lombok, desa tradisional Sade, Kuta, dan Puri Narmada. But the highlights are Sade and Kuta. Sebelum kami bersiar-siar, terlebih dahulu kami stase pagi gastro aka breakfast buffet di dining hall dari hotel. Wuih lagi-lagi seram euy hidangannya. Dijamin bisa bikin penderita diabetes mellitus tipe 1 atau 2 malas menunggu 15 menit sebelum insulin prandialnya starts to work. Nafsuin banget lah. Dari menu sarapan pagi ala Indon sampai ala Londo terhidang di sini. Wafelnya maknyus banget, but the omelet is rather disappointing. Overall saya yakin rasa menu-menu yang lain tidak dalam batas normal (enak banget maksudnya he he).

Sade adalah desa tradisional yang memang sengaja direservasi untuk menarik para wisatawan. Di sini wisatawan dapat menyaksikan lebih dekat serta mempelajari sedikit tentang budaya suku Sasak antara lain arsitektur dari lumbung padi, rumah penduduk (yang katanya lantainya dibersihkan dengan kotoran kerbau) dan balai pertemuan di mana masalah-masalah keseharian dicarikan solusi. Atap bangunan suku Sasak memiliki bentuk yang cute, mirip menara masjid. Saya baru tahu kalau Lombok itu dijuluki sebagai bumi seribu masjid sebab di samping mayoritas penduduknya adalah muslim yang taat banget, orang dengan mudah melihat masjid tersebar di mana-mana bahkan antara satu masjid dengan lainnya bisa hanya 100 meter jauhnya. Here mom’s just got me a georgeous woven sarong for Friday prayer. It’s homemade, she bought it for 40000 IDR.

Setelah itu kami menuju pantai Kuta yang terletak di bagian selatan dari Kabupaten Lombok Tengah. Oh God. who will love this beach not? Speechless. Pantai pasir putih membentang sejauh mata memandang dikelilingi bukit-bukit hijau yang kokoh dan terjal dengan laut yang hijau membiru. So picturesque. One has to see it on his own!! Recommended!! Pantainya masih alami banget, tapi fasilitas pendukungnya belum terbangun dengan baik.

Sabtu, 27 Februari 2010
Agenda hari ini: The most anticipated, the newly-rediscovered Gili Islands (yippee langsung deh All Saints – Pure Shore #nowplaying). Berhubung cuma sehari kami memutuskan untuk hanya berkunjung ke Gili Trawangan. Dalam bahasa Sasak kata “gili” berarti pulau kecil (Ind) aka islet (Eng) aka holm (Nor) aka la isla bonita (Esp or Madonnese). Gili-gili ini berada kurang lebih 5 km lepas pantai Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat dan dapat ditempuh selama 45 menit dengan perahu mesin. Sebenarnya tidak banyak aktifitas yang dapat dilakukan di gili-gili ini selain bersantai, berjemur, bermalas-malasan. Di Gili Trawangan orang berkesempatan untuk diving, snorkeling, atau menjajal beberapa permainan air seperti banana boat. Atmosfir di Gili Trawangan ini hedon banget deh, mirip dengan kawasan Legian atau Kuta di Bali. Di sini saya menyempatkan diri untuk bersepeda keliling pulau ini. Cukup dengan biaya sewa 30000 IDR per jam saya bisa berolahraga (siang bolong) sekaligus menikmati indahnya panorama alam. Recommended. Menurut saya orang belum ke Lombok deh jika belum sempat mampir ke gili-gili ini. Setelah puas berpanas-panas dan melihat lautan deux pièces kami kembali ke daratan Lombok untuk berjalan-jalan sore di Kota Mataram.

Hari ini kami makan malan di rumah makan Dirgahayu yang terletak di samping Mataram Mall dengan menu, apalagi jika bukan, ayam Taliwang dan pelecing kangkung (mbeeeeeek). Wow saya terkesan sekali dengan Kota Mataram. Kotanya tertata rapi. bersih, tapi bangunan-bangunannya sepertinya masih peninggalan tahun 70 atau 80-an. So old-fashioned yet charming. I’m particularly interested in the old quarter which is centered around Ampenan. The used-to-be-warehouses look so fantastic, simply remind me of those antique buildings scattered around the northern part of Surabaya. Mataram Mall ini satu-satunya tempat belanja yang trendi di NTB jadi harap maklum jika terjadi antrian mengular di kasir Hero seperti yang saya alami. Outlet makanan cepat saji yang ada antara lain McD, KFC, dan Pizza Hut. Pas mal ;)

Minggu, 28 Februari 2010
It’s still early in the morning, but we have to wake up to catch our morning flight. Hari ini saya berhasil membuat penerbangan terlambat take off 20 menit gara-gara nama yang tercantum di boarding pass tidak sama dengan yang tertera di KTP (ada pemeriksaan KTP lho di Bandara Selaparang). Ini sih kesalahan travel agent kami. Terpaksa membayar 750 ribu karena saya diharuskan “membeli” tiket lagi. But anyway tidak ada gading yang tak retak. Saya pulang dengan membawa memori indah di surga yang terlupakan ini ;) I’ll come back again here for sure in the near future ;)











1 comment:

Anonymous said...

waaaa asyikk..
fyi mas, aku lahir dan besar di lombok lo, pengen banget suatu saat nanti aku bisa balik kesana lagi..