Monday, June 4, 2012

Travelling to Singapore


232425 Maret 2012

At a corner of a street in a quarter with European flavor 
Akhirnya kesempatan itu datang juga untuk menikmati liburan akhir pekan di Singapura, negara jiran tercinta (blah). Tiga hari dua malam cukup lah untuk berehat sejenak dari kepenatan kerja. Rencana kami kali ini adalah mengunjungi Pulau Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan mempergunakan ferry. Seperti biasa juga kami mempergunakan jasa travel agent untuk mengatur semuanya dalam perjalanan ini, kecuali pembelian tiket pesawat yang diurus bapak. Saya? Tinggal pasang badan (shame on me). Kami naik pesawat penerbangan pagi dengan rute Surabaya-Jakarta-Batam. Pertama kalinya mengalami naik pesawat dengan transit yang ternyata menjengkelkan. Menjelang tengah hari tiba di Bandara Hang Nadim, Batam. Salah satu bandara yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia. Saya tidak terkesan dengan kondisi bangunan bandara ini. Lalu kami naik taksi menuju hotel tempat kami menginap yaitu Nagoya Plasa yang terletak tepat di area pusat bisnis Batam. Kemudian dengan naik bus kami dibawa ke arah selatan menuju area bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Kawasan metropolitan Batam berdiri di atas tiga pulai utama yaitu Batam-Rempang-Galang yang satu sama lain dihubungkan dengan jembatan berjumlah enam buah yang masing-masing dinamai dengan nama sultan-sultan kerajaan Melayu Riau. Cukup jauh perjalanan menuju P.Galang. Tidak banyak yang tersisa dari bekas kamp pengungsi Vietnam. Untuk mengenang keberadaan mereka didirikanlah museum kecil ala kadarnya dan bekas perahu yang dulu dipergunakan untuk membelah lautan. Asal tahu saja perahu mereka tanpa mesin, jadi usaha mereka untuk mencari tempat suaka di luar Vietnam guna menghindari perang saudara juga bukan tanpa bahaya. Hikmahnya? Saat ini orang-orang Vietnam mudah ditemui di mana saja di Eropa dan Amerika. Tak heran bila masakan Vietnam lebih dikenal daripada masakan Indonesia di luar negeri. 

Setelah itu kami menikmati keindahan matahari terbenam di restoran Harbour Bay. Inilah salah satu kelebihan kota-kota di luar Jawa di mana pelabuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Buktinya orang dengan nyaman makan sambil menikmati sejuknya angin laut serta kapal-kapal yang bersandar maupun yang lalu lalang. Pengalaman yang serupa juga saya rasakan saat berlibur di Makassar. Malam harinya kami jalan-jalan di Mall Nagoya Hill yang terletak persis di belakang hotel tempat menginap kami. Barang elektronik yang dijual di sini belum tentu lebih murah daripada di Jawa (blah). 

Esok pagi-pagi buta kami bertolak dari hotel untuk mengejar ferry di Pelabuhan Batam Center. Perjalanan dengan ferry ke Singapura memakan waktu satu jam sebelum kami bersandar di Harbour Front. Kami sudah ditunggu oleh guide kami orang Singapura yang pandai berbahasa Mandarin (she’s of Chinese descendant) dan bahasa Indonesia tentunya. Sebut saja KD namanya. Tujuan pertama adalah kawasan sekitar muara Sungai Singapura, dengan landmark yang sudah terkenal seperti Lapangan Rafles, Jembatan Anderson, Esplanade, Merlion, Marina, Eye of Singapore. Tempat yang sangat bagus untuk mengambil foto sebab urban landscape-nya sangat tertata apik. Sepertinya tidak ada sejengkal tanah pun di Singapura yang luput dari pengawasan pemerintahnya. Tanah sangat berharga. Oleh sebab itu penduduknya tinggal di flat. Kata bu KD ciri-ciri gedung flat di sini adalah terdapat jemuran di luar jendelanya hehe. Dari sini kami dibawa ke daerah Chinatown, mengunjungi galeri coklat, kuil Budha, pasar oleh-oleh di mana gantungan kunci khas Singapura bisa dibeli haha. Makan siang di resto yang menyediakan menu buffet Mongolia yang absurd. Setelah itu ke Little India untuk solat dan mengunjungi Mustafa Center. Para penggemar coklat dan makanan manis wajb datang ke lantai dua tempat ini. Coklat impor berbagai negara ada di sini. Saya tergiur membeli coklat batangan dari Swiss, Australia dan Prancis (yang semuanya saya yakin kakaonya diimpor dari Amerika Selatan dan Indonesia). Sempat juga ke Orchard Rd. dan hanya diberi waktu 45 menit untuk berkeliling (Damn this is why sometimes I detest any organised tours!). Frustrasi mencari H & M store. Baru ketemu setengah jam kemudian. Dengan berat hati mengurungkan niat masuk ke dalamnya (blah). Setelah itu mampir sebentar ke Sentosa demi berfoto di depan bola dunia Universal Studio (sumpah absurd) dan kemudian kembali ke Harbour Front dan mengejar ferry ke Batam. Hari terakhir di Batam kami isi dengan berbelanja oleh-oleh khas Batam (saya rekomendasikan kue bingka dan kek pisang Villa rasa pandan bertabur parutan keju di atasnya), mencoba martabak Har (yummy), sate Padang (yang sausnya berasa asin absurd) dan berbelanja untuk diri sendiri pastinya. Sorenya mengejar pesawat untuk balik ke Surabaya dengan maskapai yang sama. Sekiranya kami tiba di rumah jam 21.00 tetapi karena ada keterlambatan masing-masing selama 1,5 jam di Batam dan Jakarta kami sampai di rumah menjelang tengah malam. Hikmah? Pilihlah penerbangan langsung jika memungkinkan daripada berabsurd ria dengan penerbangan dengan transit.

Me and Social Media


Boleh dibilang gue tuh sedikit latah dengan yang disebut jejaring sosial semacam facebook, twitter, dan lain-lain. Ketertarikan gue dengan mereka ini dimulai kira-kira pada tahun 2008 di mana gue mulai mendaftarkan diri (sign up) di facebook. Itu pun awalnya atas saran teman yang berasal dari Denmark dan Swedia. Setelah mereka menyelesaikan program magang mereka selama sebulan di sini, mereka merekomendasikan situs jejaring sosial ini agar kami tetap dapat berkomunikasi satu sama lain. Awalnya gue cuek, tapi toh akhirnya terbuat juga suatu akun atas nama gue.

Gue masih ingat betul awal-awal dulu tampilan facebook culun banget. Minimalis dalam balutan dominasi warna biru dan putih dengan fitur-fitur yang masih terbatas. Belum dikenal juga konsep linimasa (timeline) seperti sekarang so apa yang kita perbincangkan dengan sobat kita di dinding facebook tidak akan terbaca di linimasa. Jadi untuk masalah privasi, dulu facebook masih ada lah. Dan gue masih ingat dulu awalnya teman gue di facebook tuh masih berkisar puluhan. Cuma ada 8-10 orang selama bulan-bulan pertama menjadi pengguna. Sekarang sih jumlah teman gue di facebook sekitar 300-an. Coba bayangin. Jujur dulu gue nggak nyangka kalo facebook bakal nge-hype seperti sekarang ini, gue pikir facebook bakal berakhir seperti friendster (wait, setelah gue inget2 ternyata gue sempet punya friendster sih dulu , so gue ralat jejaring sosial yang pertama yang gue ikuti nggak lain dan nggak bukan adalah friendster). Dulu gue tuh ngrasa kalo facebook tuh udah paling wah, paling oke sejagad. Yang paling gue suka awal-awalnya adalah orang dengan bangga memakai nama mereka sebagai nama akun. Jadi terkesan elegan. Belum ada tuh fenomena alay-alay jijay. Terus bisa ngunggah foto-foto, ngasih komen ke foto-foto itu. Bikin status yang sekarang gue yakini telah melatih orang Indonesia untuk lebih berani menyuarakan isi pikiran, walaupun terkadang ada sebagian dari isi pikiran itu yang nggak perlu diceritakan di depan umum.

Itu tentang facebook. Terus setelah itu twitter mulai mencoba merebut hati. Di awal kemunculannya twitter kerap dicibir orang karena dianggap kurang akomodatif. Bayangkan orang dipaksa untuk menyederhanakan apa yang ingin mereka sampaikan dalam 140 karakter saja. Sebuah tantangan. Twitter memang hadir dengan konsep microblogging, dan karena alasan inilah gue jatuh cinta kepadanya. Gue memang cukup sering menulis di blog gue di blogger, tapi kelemahannya sering tidak mutakhir sebab ada kesepakatan tidak tertulis bahwa apa yang akan kita tulis di blog kita haruslah tulisan yang berbobot, yang mempunyai kekuatan atau nilai berita. Jadi perlu waktu lama untuk menulis sekaligus memolesnya. Beda dengan twitter yang berupa pesan singkat mirip sms atau semacam memo yang bisa diposkan sewaktu-waktu. Tapi akhirnya fungsi twitter saat ini jadi rancu antara microblogging atau semacam memo atau semacam pelarian untuk membuat status setelah facebook kian lama kian meredup pamornya. Apa pun itu yang jelas gue cukup puas dengan twitter dan hingga sekarang masih merupakan jejaring sosial favorit gue. Gue tercatat sebagai pengguna twitter sejak September 2009. Gue inget waktu itu gue akan ke Bali seorang diri menghabiskan akhir pekan. Dan gue langsung bikin akun twitter dengan harapan bisa menggantikan fungsi jurnal atau buku harian. Sampai saat ini gue juga udah punya akun di tumblr, flickr, youtube, google+ dan terakhir adalah instagram yang telah tersedia bagi pengguna ponsel berbasis android. Dan gue sedang semangat-semangatnya mengeksplorasi instagram yang lumayan mampu mewadahi keusilan gue dalam mendaur ulang foto meskipun gue bukan penggila fotografi. Tapi foto bagus tetaplah foto bagus. Dan di sinilah gue mencoba memahami orang dan dunia sekitar gue melalui foto-foto yang nongol di linimasa aplikasi yang satu ini. Satu hal yang pasti yaitu bahwa situs-situs jejaring sosial telah benar-benar mempengaruhi cara manusia modern dalam berkomunikasi.

Thursday, February 9, 2012

Farewell (One Late Posting)

Seemingly the time has arrived for me to say goodbye. Yep my intership period is about to terminate. It seems almost unreal we've been here for nearly a year. But no matter what has happened along the way, good or bad, it's brought colors in my ordinary life. And I should be thankful for that. Trenggalek has definitely taken up a space within my heart.

First and foremost I thank Allah Almighty for His bless and everything He has granted upon me. Not to forget our supervising doctors of whom we're so respectful: dr. Malukyanto, dr. T. R. Liliek, dr. Fonyta for having been like our parents while we were away from home. To all doctors, nurses and staffs at Community Health Centre of Gandusari, wards and emergency unit of Dr. Soedomo Hospital (whom I impossibly mention one by one on this page) for having shared their expertise and been such a great help. What would my whole year in this town be without you?

Last but not least, my 14 previous colleagues who have been such great companies and have always been supportive and enthusiatic to carry on this internship year in Trenggalek. We made it at last! Yet we're about to open another new chapter of our life. Let's just continue to pursue our dreams, shall we?
posted from Bloggeroid

Thursday, December 29, 2011

The Last Movie I Cried To

Legend of 1900. Film ini diputar di HBO sekitar dua minggu lalu. Tidak sengaja juga ketika gonta-ganti kanal melihat-lihat jika ada acara yang layak ditonton. Dan menemukan film ini. Ceritanya memang sedikit ajaib dan terlalu mengkhayal walau sebenarnya merupakan adaptasi dari sebuah novel Italia, tapi keseluruhan bagus, sangat menyentuh sampai membuat saya menangis haru --", lagu-lagu latarnya sangat earcatching. Namun ada satu latu yang benar-benar nyantol di kepala saya hingga saya bela-belain mencari di internet judul lagunya. Dan ternyata berjudul "Playing Love", ada versi orkestra, ada versi piano. Saya lebih suka versi yang ke dua seperti yang dimainkan dalam scene di bawah ini. Beyond beautiful!!
 

On Learning Danish

Learning Danish poses a real challenge


What is madness? That's when you start thinking that Danish is a pretty language that you get tempted to learn it. That sounds mad, right? But that's what's come over me lately. Yesterday I checked my all time favourite language-learning resources online and successfully got me a few files on learning Danish, both audio and e-books. And one can download them for free, niiiiice. When I was at high school I used to teach myself Norwegian, and I've been pretty much informed ever since that written language of Norwegian is more or less identical to that of Danish for a historical reason. So having prior knowledge of Norwegian is clearly an advantage. 


I've only little problem with written Danish, but one thing that one needs to tackle is the pronunciation. Yep, Danish is known for their magical way of speaking. Some say they speak as if they were drunk. Their fondness of reducing sounds is remarkable. In fact Danish has at least nine vowels and it is said the richer a language in vowels, the more complicated one has to pronounce it. Well if you still don't get what I just wrote just think languages like French or Chinese. Having learnt French for a good nine months at a language school, not to mention some attempts I had made on my own beforehand, I can reassure you that Danish tastes much creamier, more fluid than the infamous French. Even it's said jokingly that Danish consonants are spoken as vowels by Danes. Overall I do believe that there's something attractive about this less popular foreign language that seems irresistable. The Danes' ability to even include muscle throat as a part of their resonance organ is plausible, and laughable at the same time.

Along with Swedish and Norwegian, Danish has its origin in Old Norse as the parent language. Over the time languages do evolve, they split from each other, get branched-off to become their recent form, modern version. For me learning language means looking back to the past, to the history of humankind. Each words listed in dictionary is a piece of history, we might never know how ancient they are, we may not know if they're actually connected to those of other languages. One thing for sure languages are living proof of our unthinkable evolutionary journey as the dwellers of the Earth. They mark our existence as a human being.

Further readings:
1, 2, 3
posted from Bloggeroid

Thursday, December 22, 2011

Nusa Lembongan Part 1

Stunning sandy beach on Nusa Lembongan

Nusa Lembongan, a tiny vacation island of big contrast... (to be continued)