Wednesday, November 10, 2010

Mentalitas Jawa

Mentalitas Jawa*
Sopan santun Jawa bisa menimbulkan salah pengertian bagi mereka yang tidak melihat secara langsung. Demokrasi kita susah jadi perbandingan: abad ke-18 terlalu bersemangat dan tidak kenal tatakrama, hanya pada abad ke-17, meski agak dibuat-buat, di masa Louis XIV dan Mme De Maintenon, ada sedikit-banyak tatakrama tapi sekaligus ketat dan lengkap. Sopan-santun Jawa itu bukan soal busana yang bisa ciut, topeng yang bisa lepas, polesan yang pudar, tapi sesuatu yang berada dalam batin dan mendasari sifatnya, yang meresapi kedirian, yang merasuki sukma.Demikian juga dengan kejenuhan. Ketidaksabaran, kematian, kekhawatiran, bahkan hawa nafsu, samasekali tidak akan diperlihatkan oleh seorang pemuka Jawa di hadapan tamunya. Dia menanti sampai berada seorang diri untuk mengekspresikan kesedihan atau kegembiraannya.

Dengan kedatangan Belanda, kemampuan tersebut di atas sejak awal dipertahankan bahkan sampai terlihat seperti merendahkan diri, selalu inginn menyenangkan pendatang sehingga tampak hangat, tetapi tetap menyimpan opini pribadinya. Pendatang menjadi penting bagi penduduk lokal. Mereka bertahan dalam sikapnya dengan cara diam, yang merupakan pembawaan sejak lahir. Pendatang dengan kata-kata sombong dan tindakan kejam bisa disebut sebagai borjuis. Penilaian itu meluas dari mulut ke mulut. Yang dibicarakan mungkinn tidak memerhatikannya, tetapi mereka adakalanya terkejut dengan senyuman di wajah kuning: inilah pembalasan dendam dari yang dikalahkan. Penyempurnaan pendidikan tidak terhindarkan dari dampak buruk: kesedihan, mendekati rasa takut yang mungkin salah, membuat kami merasa seperti kemunafikan. Ejekan, ketinggian hati, penghinaan, dan kekasaran ala Eropa bagi orang Jawa dengan kesopanan dan hal-hal yang tersirat masih bisa merasakan itu semua, tetapi mengalihkannya menjadi hal lain. Seorang Prancis pada abad ke-18 mengatakan: “Jangan marah kepada saya yang punya keinginan.” Orang-orang Jawa memilih untuk diam dan berada bersama orang-orang yang mereka sukai. Mereka piawai mengambil hati majikan mereka. Apakah kita dapat mengklasifikasikan itu menjadi kemunafikan? Kemunafikan adalah sikap buruk yang dilakukan demi kepentingan pribadi; orang-orang Jawa sepertinya tidak melakukan hal-hal buruk untuk menyimpan perasaannya di hadapan Anda. Pendidikan dan keinginan untuk menyenangkan hati orang lain tampak wajar pada mereka. Mereka sengaja menggunakan hati naluri dan secara psikologis menelanjangi jiwa orang yang bersama dengannya.

Selain bermoral seperti pengecut, kelemahan mereka yang paling parah adalah kegilaan pada birokrasi. Yang merasa paling berbangga dengan kebangsawanan selama tiga abad adalah yang paling kaya-raya dan memiliki tanah luas di sekitar tempat tinggalnya, yang paling suka berdagang dengan keluarga yang mengelola kekayaannya, tak seorang pun merasa puas atas posisi mereka di pemerintahan atau jabatan mereka di birokrasi pemerintah. Hal ini didorong oleh kecongkakan, bukan oleh penderitaan masyarakat atau juga tidak didorong oleh ambisi. Seseorang akan terus mengejar kekuasaannya sampai terlihat berkuasa. Dia takkan berdiam diri atau hanya setingkat lebih tinggi daripada posisi ayahnya sebelumnya dan tidak menurunkan martabatnya di hadapan kaum yangsederajat dengannya. Dan semuanya memilki pola pikir seperti ini.

Pada masyarakat Jawa, mereka hanya mendapat pendidikan atau tetap memperoleh yang sama dari pemerintah atau agama mereka. Pelapisan masyarakat yang merupakan peninggalan lama, yaitu: tiga anak laki-laki melakukan hal yang berbeda. Anak pertama, sejak awal sudah masuk kantor pemerintah untuk nantinya menggantikan ayah mereka, yang ke dua memasuki sekolah di masjid dan nantinya mungkin pergi ke Mekah untuk memakai surban dan berziarah dan kemudian melanjutkan ke universitas para imam dan pendidikan eklesiastik. Yang terakhir, setelah kakak-kakaknya memilih jalan hidup mereka masing-masing, hanya bisa menikah di lingkungan keluarga dan mengelola harta mereka. Apabila anak ke tiga tidak memunyai jiwa penakluk yang akan berpengaruh besar di masyarakat sehingga bisa bertindak leluasa dan mendapat penghargaan dari golongan yang memilki status di atasnya dan yang berprasangka. Mereka yang dianggap menyimpang dari kelas mereka maka nilai kebangsawanannya direndahkan. Mereka akan kehilangan pengaruh yang didapatnya dari nenek-moyang mereka sejak lama. Masyarakat ini menganggap rendah bercocok-tanam. Mereka juga menganggap rendah perdagangan dan juga industri serta tidak peduli terhadap ilmu pengetahuan. Mereka juga dapat dikatakan tidak mengenali kesusastraan, sebelumnya mereka menerima agama karena terpaksa. Agaman dipraktikkan secara acuh tak acuh,hanya di luarnya saja dan mereka percaya pada takhayul. Hanya kekuasaan pemerintah yang mereka hormati.

Jangan berbicara soal uang dengan mereka. Mereka tidak peduli. Siapa yang lebih mampu daripada mereka untuk menghamburkannya? Dari tingkatan yang paling tinggi sampai dengan dengan yang terendah semuanya terjerat hutang sampai ke leher. Hal ini berdampak pada politik dalam negeri. Akan tetapi...apakah uang yang mereka dapatkan? Apakah yang didapat dari perdagangan? Bagi orang Cina memang benar. Dari bunga uang? Bagi orang Arab memang benar. Dari industri? Bagi orang Eropa memang benar... Dari menabung? Hanya dilakukan oleh beberapa orang Madura, siapa yang memikirkan hal itu? Bukan...uang yang dihormati, uang yang membuat senang, adalah uang yang diterima dari pemerintah, uang yang diambil dari pajak. Itulah kredonya; Kami berusaha mengubahnya, tetapi perubahannya sangat lambat. Jawa pada tingkatan yang paling rendah masih tetap wilayah yang dipenuhi dengan pengaruh para pegawai negeri.

Jumlah yang beragama sangat sedikit apalagi yang bermoral, sebaliknya banyak sekali orang yang percaya pada takhayul. Tidak ada orang yang tidak punya kepercayaan karena sejarah dan alam bersatu menentang mereka. Tiga ras secara berturut-turut terbentuk oleh tradisi Hindu, Melayu, Cina, tiga ras di dunia yang paling kaya imajinasi dan legenda. Dari merekalah mitologi diturunkan ke orang-orang Jawa. Alamnya memang berpengaruh besar. Hutan-hutan dengan penghuni yang buas, gunung-gunung yang melontarkan api menyebabkan penduduknya dipenuhi ketakutan dan mudah percaya. Mereka percaya pada buaya yang memilki jiwa leluhurnya, harimau yang dihormati oleh para pejabat negara dan bawahannya, naga yang menjadi penjaga bumi.

Catatan Kaki:
*J. Chaillet-Bert, melakukan studi mengenai “Jawa dan Penduduknya” (1907)

Sumber:
Dorléans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang Prancis, dari Abab XVI sampai dengan Abad XX (Les Français et l’Indonésie du XVIe au XXe siѐcle). Jakarta; Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

No comments: