Showing posts with label Medis. Show all posts
Showing posts with label Medis. Show all posts

Wednesday, January 1, 2014

Rekam Jejak Aksi Mogok Dokter di Beberapa Negara

Tahun 2013 lalu juga menjadi tahun yang monumental bagi profesi dokter dimana tepatnya pada 27 November aksi solidaritas kesejawatan yang menolak kriminalisasi tiga dokter kandungan di Manado mendapatkan sorotan luas dari media. Aksi ini tidak hanya terpusat di Jakarta, namun juga meluas hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dapat dikatakan monumental sebab baru kali ini lah para dokter berani menyuarakan hati nurani mereka terhadap kriminalisasi terhadap rekan sejawat mereka dan menuntut perlindungan hukum yang tegas dalam menjalankan tugas keprofesian mereka. Namun sayangnya kebanyakan media memandang sinis aksi solidaritas ini. Terbukti dengan headline yang dibuat sedemikian bombastis dan provokatif keesokan harinya (28 November). Sebagai contoh harian Jawa Pos yang keluarga saya langgan menurunkan headline bahwa aksi "mogok" dokter telah menelantarkan pasien. Padahal kenyataannya pasien tetap mendapatkan pelayanan di unit gawat darurat.Berlebihan dan cenderung memojokkan profesi dokter plus mengadu domba dokter dengan masyarakat. Masyarakat yang tidak terbiasa dengan aksi "mogok" dokter semacam ini ramai-ramai cari perhatian dan ikut-ikutan mengecam, mencaci, mencibir dokter di media-media sosial. Padahal belum tentu juga orang-orang itu mengetahui duduk permasalahannya.

Tidak ada asap tanpa api, dan tentunya aksi solidaritas dokter November lalu merupakan puncak kegeraman dari para dokter terhadap sikap pemerintah yang memandang rendah pentingnya sektor kesehatan dalam menunjang pembangunan. Asal tahu saja untuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui agennya yaitu BPJS yang dimulai hari ini, pemerintah HANYA mengganggarkan sekitar 15 triliun rupiah untuk meng-cover premi JKN bagi 80 jutaan rakyat Indonesia saja. Sisanya yang belum tercakup tetap harus diharuskan membayar iuran. Bayangkan betapa kecil anggaran untuk bidang kesehatan bila dibandingkan dengan, katakanlah, subsidi BBM yang mencapai 200-an triliun rupiah per tahun. Kezaliman yang nyata!! Tidak ada biaya untuk berobat yang murah. Itu yang harus disadari pemerintah dan masyarakat. Dalam berita tentang JKN yang dimuat di Jawa Pos hari ini malah disebutkan bahwa dokter kandungan hanya mendapatkan sekitar 60 ribu untuk tiap operasi SC. Entahlah kata-kata apa lagi yang bisa saya ucapkan setelah membaca berita ini. Miris!

Jangan heran bila program JKN ini tidak akan berjalan semulus yang direncanakan di atas kertas. Jangan pula heran bila suatu saat akan lebih banyak aksi "mogok" oleh dokter menyikapi keganjilan program JKN ini. Di bawah ini saya sajikan sejumlah aksi "mogok" dokter yang lebih mendunia. Saya tekankan bahwa aksi "mogok" BUKAN merupakan hal yang tabu dan ini harusnya menjadi hal yang wajar di suatu negara yang begitu menyembah sistem DEMOKRASI, termasuk Indonesia. 

Januari 2012: 50000 dokter di 600 rumah sakit di penjuru Jerman mogok untuk menuntut kenaikan gaji sebesar 6 persen, pembayaran yang lebih baik untuk jaga on-call dan pengurangan frekuensi jaga hingga sebanyak empat kali saja dalam sebulan. (http://www.thelocal.de/20120110/40021; http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736%2812%2960086-5/fulltext)

Maret 2006: 20000 dokter rumah sakit pemerintah di Jerman mogok menuntut kenaikan gaji sebanyak 30 persen setelah pemerintah meningkatkan jam kerja dari 38,5 jam per minggu menjadi 42 jam per minggu. (http://www.dw.de/striking-german-doctors-shed-light-on-system-ills/a-1942544)

Juli 2006: 70000 ribu dokter di 700 rumah sakit pemerintah mogok mempersoalkan ketidaksesuaian kondisi kerja dan honor yang mereka terima. Mereka bekerja 60-80 jam (dua kali kontrak), namun honor jam lembur ini tidak dibayarkan. (http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/5207048.stm)

Agustus 2013: Para dokter dari Provincial Medical Service (PMS) di Kanpur, India memboikot pelayanan di rumah sakit selama setengah hari dalam tiga hari. Mereka memprotes penahanan para sejawat dokter di Ursula Horseman Hospital dan Kamlapat Singhania Memorial Hospital. (http://articles.timesofindia.indiatimes.com/2013-08-28/kanpur/41537653_1_pms-doctors-strike-today-token-strike

Juni 2000: 90 persen klinik swasta di Korea Selatan tutup setelah puluhan ribu dokter yang terhimpun dalam Korea Medical Association mogok. Mereka memprotes kebijakan pemerintah yang melarang klinik dan rumah sakit menjual obat kepada publik. (http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/798353.stm)

27 November 2013: Aksi solidaritas dokter Indonesia yang meminta pembebasan rekan sejawat mereka yang ditahan akibat tuduhan malpraktik. (http://www.asianewsnet.net/news-54384.html)

Januari 2013: Para dokter yang tergabung dalam Mozambican Medical Association (MMA) mogok dalam dua minggu untuk menuntut kenaikan gaji 100 persen bagi dokter yang baru lulus serta spesialis. (http://www.themalaysiantimes.com.my/mozambique-doctors-strike-enters-second-week/

Thursday, November 24, 2011

My Very First Time Using Defibrillator

Chains of survival
The title may sound corny or rather sappy, but the first time of doing something particular is mostly so memorable. This was a real scene that took place at the ER when I and a friend of mine were on call one Tuesday morning. Really just a couple of days after my ACLS training. So it was a real test for me, though I already saw plenty of similar case prior to the ACLS. I wanted to perfom a more algorithm-based medical intervention for ACS case like what I had been trained to.

This is what ventricular fibrillation looks like


So there come a 50-year-old man with a chief complain of having chest discomfort or much like chest pain. The pain was dull as if there were weighty thing being put on his centre of sternum and on area to the left of it. But he was unable to point out precisely where the pain was originating from. He also felt that the pain was somewhat referred up to his back. There was neither nausea nor vomitting, but he was having cold sweat. He was fully awake with GCS score of 15. Blood pressure 140/90 mmHg, heart rate 80 times per minute, respiratory rate 22 times per minute, temperature 35,6oC. History of type-2 diabetes, chronic hypertension, and dyslipidemia were all denied (but I was skeptical, just like House says: Everybody lies!). Signs and symptoms suggested that he might be suffering from acute coronary syndrome, but since it conveys a wide range of causes, we needed some more detail examinations. We set IV line access, giving oxygen through nasal cannula (NC). We run ECG test on him (which laterly suggests STEMI with wide anterior infarction) while giving order to the nurses to administer aspirin (to be chewed), clopidogrel, plus sublingual ISDN. Unfortunately before those medications could even be administered, the patient collapsed (mostly caused by unbearable pain). We advised an injection of 3 mg morphine, but in short he fell into cardiac arrest. No carotid pulse was palpable. Such a nightmare for both the family and healthcare poviders. I shouted to start the chest compression before I ran quickly to get the defibrilator machine which had been in its absolute dormant period for too long since nobody knew how to operate it. But not again after my ACLS training. I was highly determined to come all out this time. Once the defib machine was set, I ran a quick look using the padles. The ECG suggested a pulseless ventricular tachycardia (VT) which was an absolute indication to perform the electric therapy of defibrillation (the other being ventricular fibrillation (VF) and polymorphic VT (Torsades de points)). I gave him a 360 joule shock (since it was a monophasic defib machine) followed by 2 minutes of CPR and an injection of 1 mg epinephrine (following the VF-pulseless VT algorithm). After 2 minutes I ran another quick look, the ECG suggested normal sinus rythm and palpable carotid pulse. We assumed he already came to ROSC (return of spontaneus circulation). We were ready for secondary survey. We fetched a deep breath. Thanks God. Did it end there? No. The patient is losing his carotid again in just five minutes. The ECG read sinus rythm, so it was a PEA (which was an absolute contraindication of defib, the other being asytole). The chest compression was soon started following the PEA-asystole algorithm. After a few cycles it turned into VF again, I did the defib. No amiodarone was available in the hospital. So adrenaline kept being in use. It’s a drug than can boost peripheral resistance and increase the contractility of heart muscles. Then it turned into asystole over and over again until we decided to cease the long series of CPR of 45-60 minutes. We did our best, but our patient wasn’t granted a second chance. It should always be reserved for God's privilege.

Saturday, March 26, 2011

Pewarnaan Basil Tahan Asam (BTA)

Sebetulnya sudah agak basi memasukkan tajuk ini ke dalam blog saya. Tapi sayang jika terlewatkan kesempatan untuk berbagi ilmu dan cerita. Jadi ceritanya setelah mengikuti Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) November 2010, setiap mahasiswa FK Universitas Airlangga (Unair)angkatan 2005 diwajibkan mengikuti pelatihan pewarnaan BTA di laboratorium mikrobiologi kampus A Unair. Kami adalah angkatan pertama yang diikutkan pelatihan seperti ini. Kami dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 12-13 orang untuk mengikuti pelatihan selama lima hari. Sebenarnya agak malas juga sih kembali berkutat dengan spesimen dahak penderita tuberkulosis dan reagen yang aneh-aneh, tapi berhubung kami termotivasi oleh adanya kabar bahwa setiap peserta nantinya akan mendapatkan sertifikat dari pihak fakultas (dan mendapatkan konsumsi makan siang yang lezat haha ;)kami kembali bersemangat. Terima kasih banyak untuk para dokter pembimbing terutama dr. Rebekah dan teman-teman kolegaku yang sudah membantu aku dalam pretest - post test dan dalam pembuatan sediaan BTA yang cantik dan bisa dibaca di bawah mikroskop tentunya.





PENDAHULUAN
Salah satu bahan yang digunakan untuk mendiagnosa adalah dahak atau sputum. Dahak yang diperiksa paling sedikit 3-5 cc. Jika jumlah kuman kurang dari 5000 dalam 1 cc dahak, maka itu tidak akan kelihatan di bawah mikroskop.