Showing posts with label My Travel Diary. Show all posts
Showing posts with label My Travel Diary. Show all posts

Wednesday, December 25, 2013

Sekali Waktu Di Kota Jakarta



Bukan tanpa alasan saya memberi judul tulisan saya ini ala penulis angkatan Balai Pustaka. Semua hal yang saya alami, saksikan dan rasakan selama perjalanan terakhir saya ke Jakarta belum tentu sama dalam tahun-tahun mendatang. Jakarta yang serbadinamis akan selalu berubah dan dia akan selalu seperti itu. 

Semua ini berawal dari spontanitas saya untuk membeli tiket kereta api PP Jakarta-Surabaya. Saya telah menyelesaikan semester pertama saya sebagai residen neurologi di rumah sakit terbesar di kawasan Indonesia timur. Ada sisa beberapa minggu sebelum akhirnya saya akan berkutat dengan pelayanan pasien dan hal-hal akademis sehingga saya berpikir saya harus pergi sesaat. Awalnya saya berencana pergi ke Karimun Jawa. Namun sebab musim hujan telah tiba dan mungkin laut akan tidak tenang, saya beralih untuk pergi ke Jakarta. Awalnya saya sebenarnya tidak terlalu antusias, namun karena adanya dorongan untuk pergi saya kuatkan niat.

Jumat, 13 Desember 2013
15.00: Kereta api ekonomi AC Kertajaya membawa saya dan teman saya, orang Jakarta yang rumahnya akan saya inapi, dari stasiun Pasar Turi menuju Stasiun Tanjung Priok. Bersyukur sekali sebab saat ini pelayanan untuk KA ekonomi sudah mengalami kemajuan dibandingkan dua atau tiga tahun lalu. Tidak ada penjaja makanan dan minuman dari luar yang keluar masuk gerbong, AC cukup dingin dan kebersihan dan keamanan cukup terjaga. Tiket pun ramah di kantong mahasiswa yakni sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan. Ini tarif bersubsidi lho sebab konon tahun depan subsidi ini akan dicabut sehingga harganya akan menjadi sekitar 100 ribu sekali jalan. Satu-satunya ketidaknyamanan yang saya rasakan adalah harus berbagi gerbong dengan gerombolan anak SMA yang tiada henti berbicara dengan suara lantang satu sama lain sepanjang perjalanan. Hal ini amat mengganggu para penumpang lain yang ingin beristirahat tentunya. Belum lagi perempuan Madura di tempat duduk seberang kiri dengan kedua putrinya. Putri terkecilnya, mungkin berusia dua tahunan, terlihat amat menyebalkan. Mondar-mandir ke tempat duduk saya dan sepanjang lorong, kadang-kadang menangis tak karuan. Kasihan juga sih sebenarnya. Nampak kurang gizi: rambutnya merah, mata agak cowong. Parahnya dalam perjalanan jauh itu, si ibu hanya menyuapinya dengan se-cup P**Mie. Itu pun harus dibagi untuk mereka bertiga dan ada satu peristiwa yang saya saksikan (tidak perlu saya tulis di sini) yang membuat higienitas mie tersebut patut dipertanyakan. Meskipun demikian toh saya mampu memejamkan mata saat malam tiba.

Monday, January 21, 2013

Le grand voyage à Bandung

La ville de Bandung est la capitale et la plus grande ville en Java Ouest. Elle est située géographiquement dans une vaste valée donc on y aperçoit qu'elle est entourée dans toutes les directions par les montagnes couvertes de brouillard tout le temps. C'était pour toute la première fois que j'y ai voyagé en avion. Il a fallu une heure et quelques minutes pour faire Surabaya-Bandung. Il faisait très beau au moment où nous nous sommes envolée de l'aéroport de Surabaya, mais il y avait des nuages noires en voie d'atterissage à l'aéroport de Bandung. J'ai appris tout à fait que celui de Bandung est trop petit pour qu'on puisse l'appeler un aéroport international. Il manque des éléments nécessasires tels que les ponts aériens, des tapis roulants appropriés, les toilettes propres etc. Il se trouve dans un quartier si peuplé à l'ouest de la ville et on a de l'avantage de n'avoir besoin que 5 minutes pour arriver au centre-ville (à condition qu'il n'y ait pas de bouchons). La ville n'a qu'un petit nombre des gratte-ciels donc ça nous permet de jouir de la beauté des montagnes lointants.

Le chauffaeur de taxi nous a conduits à l'hôtel Grand Panghegar où nous sommes restés durant notre séjour. Cet hôtel 4 étoiles se trouvait confortablement au bout sud de la rue Merdeka duquel le centre historique de Bandung est à quelques minutes de marche. Notre chambre était au 10e étage qui nous offrait une vue sur les lumières de la ville quand la nuit tombait. Quelle chambre idyllique! Après s'être détendu en certaines minutes, on a continué notre aventure au parc d'attractions en salle de trans studio. Il s'y trouvait pas mal d'attractions qui étaient remarquablement similaires à ceux du premier trans studio de Makassar en Célèbes-Sud. A mon avis il n'y avait qu'un où deux attractions qui valaient la peine, à savoir Vertigo et Giant Swing. Vous allez avoir des nausées et des vertiges après un essai, je peux vous garantir. Malheureusement je ne voyais pas l'interêt d'y plus longtemps rester hormis mes parents et mon petit frère. L'après-midi on est retounés à l'hôtel pour faire la sieste. On a passé le soir à faire du petit shopping dans un "factory outlet" Rumah Mode. Chez les français, ça s'appelle peut-être un magasin d'usine. Selon le wikipedia il se définisse comme étant «un magasin qui vend directement des produits du fabricant au consommateur. Le but est d'écouler des surstocks, fins de série et articles de second choix ou présentant des défauts». En fait, faire du shopping est l'un des meilleurs moyens de très bien s'amuser à Bandung en dehors de sa gastronomie pour laquelle la ville est fameuse. 

Le deuxième jour de l'escapade, on se mettait à faire plus de shopping dès qu'on a fini le petit-déjeuner. Au commencement, on s'est décidés à partir en longue promenade le long de la rue Braga, Asia-Afrika jusqu'à la place de la ville et puis tourner vers la rue Otista pour visiter Pasar Baru (le marché neuf). Là, chacun de nous a pris son chemin pour trouver ce qu'on avait désiré. Tout est en vente ici, à tous les prix et dans un grand choix de couleurs. On prenait un taxi après pour aller aux magasins d'usine dans la rue Riau. On y a visité seulement deux, à savoir the Heritage et the Cascade (qui est situé juste à côté de celui-là). Cela a été une sage décision de dépenser de mon argent là, ce dont on avait besoin étaient en vue. Ces deux magasins d'usine sont parmi les meilleurs en ville. Bandung a vraiment la tendance à faire quelqu'un en accro du shopping, soutenu par la culture locale largement repandue que l'apparition physique est tout devant quoi qu'il arrive. En bref, Bandung est une destination touristique très recommendée aux gourmandes aussi que à ceux qui veulent toujours se mettre à jour par rapport à la mode contemporain.

Monday, June 4, 2012

Travelling to Singapore


232425 Maret 2012

At a corner of a street in a quarter with European flavor 
Akhirnya kesempatan itu datang juga untuk menikmati liburan akhir pekan di Singapura, negara jiran tercinta (blah). Tiga hari dua malam cukup lah untuk berehat sejenak dari kepenatan kerja. Rencana kami kali ini adalah mengunjungi Pulau Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan mempergunakan ferry. Seperti biasa juga kami mempergunakan jasa travel agent untuk mengatur semuanya dalam perjalanan ini, kecuali pembelian tiket pesawat yang diurus bapak. Saya? Tinggal pasang badan (shame on me). Kami naik pesawat penerbangan pagi dengan rute Surabaya-Jakarta-Batam. Pertama kalinya mengalami naik pesawat dengan transit yang ternyata menjengkelkan. Menjelang tengah hari tiba di Bandara Hang Nadim, Batam. Salah satu bandara yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia. Saya tidak terkesan dengan kondisi bangunan bandara ini. Lalu kami naik taksi menuju hotel tempat kami menginap yaitu Nagoya Plasa yang terletak tepat di area pusat bisnis Batam. Kemudian dengan naik bus kami dibawa ke arah selatan menuju area bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Kawasan metropolitan Batam berdiri di atas tiga pulai utama yaitu Batam-Rempang-Galang yang satu sama lain dihubungkan dengan jembatan berjumlah enam buah yang masing-masing dinamai dengan nama sultan-sultan kerajaan Melayu Riau. Cukup jauh perjalanan menuju P.Galang. Tidak banyak yang tersisa dari bekas kamp pengungsi Vietnam. Untuk mengenang keberadaan mereka didirikanlah museum kecil ala kadarnya dan bekas perahu yang dulu dipergunakan untuk membelah lautan. Asal tahu saja perahu mereka tanpa mesin, jadi usaha mereka untuk mencari tempat suaka di luar Vietnam guna menghindari perang saudara juga bukan tanpa bahaya. Hikmahnya? Saat ini orang-orang Vietnam mudah ditemui di mana saja di Eropa dan Amerika. Tak heran bila masakan Vietnam lebih dikenal daripada masakan Indonesia di luar negeri. 

Setelah itu kami menikmati keindahan matahari terbenam di restoran Harbour Bay. Inilah salah satu kelebihan kota-kota di luar Jawa di mana pelabuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Buktinya orang dengan nyaman makan sambil menikmati sejuknya angin laut serta kapal-kapal yang bersandar maupun yang lalu lalang. Pengalaman yang serupa juga saya rasakan saat berlibur di Makassar. Malam harinya kami jalan-jalan di Mall Nagoya Hill yang terletak persis di belakang hotel tempat menginap kami. Barang elektronik yang dijual di sini belum tentu lebih murah daripada di Jawa (blah). 

Esok pagi-pagi buta kami bertolak dari hotel untuk mengejar ferry di Pelabuhan Batam Center. Perjalanan dengan ferry ke Singapura memakan waktu satu jam sebelum kami bersandar di Harbour Front. Kami sudah ditunggu oleh guide kami orang Singapura yang pandai berbahasa Mandarin (she’s of Chinese descendant) dan bahasa Indonesia tentunya. Sebut saja KD namanya. Tujuan pertama adalah kawasan sekitar muara Sungai Singapura, dengan landmark yang sudah terkenal seperti Lapangan Rafles, Jembatan Anderson, Esplanade, Merlion, Marina, Eye of Singapore. Tempat yang sangat bagus untuk mengambil foto sebab urban landscape-nya sangat tertata apik. Sepertinya tidak ada sejengkal tanah pun di Singapura yang luput dari pengawasan pemerintahnya. Tanah sangat berharga. Oleh sebab itu penduduknya tinggal di flat. Kata bu KD ciri-ciri gedung flat di sini adalah terdapat jemuran di luar jendelanya hehe. Dari sini kami dibawa ke daerah Chinatown, mengunjungi galeri coklat, kuil Budha, pasar oleh-oleh di mana gantungan kunci khas Singapura bisa dibeli haha. Makan siang di resto yang menyediakan menu buffet Mongolia yang absurd. Setelah itu ke Little India untuk solat dan mengunjungi Mustafa Center. Para penggemar coklat dan makanan manis wajb datang ke lantai dua tempat ini. Coklat impor berbagai negara ada di sini. Saya tergiur membeli coklat batangan dari Swiss, Australia dan Prancis (yang semuanya saya yakin kakaonya diimpor dari Amerika Selatan dan Indonesia). Sempat juga ke Orchard Rd. dan hanya diberi waktu 45 menit untuk berkeliling (Damn this is why sometimes I detest any organised tours!). Frustrasi mencari H & M store. Baru ketemu setengah jam kemudian. Dengan berat hati mengurungkan niat masuk ke dalamnya (blah). Setelah itu mampir sebentar ke Sentosa demi berfoto di depan bola dunia Universal Studio (sumpah absurd) dan kemudian kembali ke Harbour Front dan mengejar ferry ke Batam. Hari terakhir di Batam kami isi dengan berbelanja oleh-oleh khas Batam (saya rekomendasikan kue bingka dan kek pisang Villa rasa pandan bertabur parutan keju di atasnya), mencoba martabak Har (yummy), sate Padang (yang sausnya berasa asin absurd) dan berbelanja untuk diri sendiri pastinya. Sorenya mengejar pesawat untuk balik ke Surabaya dengan maskapai yang sama. Sekiranya kami tiba di rumah jam 21.00 tetapi karena ada keterlambatan masing-masing selama 1,5 jam di Batam dan Jakarta kami sampai di rumah menjelang tengah malam. Hikmah? Pilihlah penerbangan langsung jika memungkinkan daripada berabsurd ria dengan penerbangan dengan transit.

Thursday, December 22, 2011

Nusa Lembongan Part 1

Stunning sandy beach on Nusa Lembongan

Nusa Lembongan, a tiny vacation island of big contrast... (to be continued)

Tuesday, March 8, 2011

Une Excursion Au Bord de La Mer

The incomplete members of Agatha L to R: Bayu, Dewi, Ana, Rachma, Sharie, Thiwit, Age, Yoga, Me, Achmad, Ertsda


Le week-end du 28 février, nous, les médecins stagiaires à Trenggalek, sommes partis à la plage de Pasir Putih. Elle est située à environ 30 kilomѐtres du centre-ville de Trenggalek. Cela n’était pas justement la premiѐre fois que j’y vais, mais car j’en n’avais plus de bonnes mémoires, ce voyage m’a fait du bien. Il faisait beau le long du trajet de 30 minutes. Mais lors que nous y sommes arrivés, le ciel était un peu couvert. Quel dommage :’(

On s’est fait payer 5000 roupies de droit d’entrée. Nous nous sommes figurés parmi les premiers à mettre pieds sur le sable de plage. La plage n’est pas si longue, mais trѐs ravissante. Au loin il y avait plus qu’une douzaine de petites îles inhabitées. Aoutour d’elle il y avait beaucoup d’arbres de coco et de collines vertes qui nous donnaient l’impression qu’elle restait non affecté par l’exploitation humaine. On peut y voir aussi le vent faissant des vagues calmes qui pouvaient être fortes parfois. C’était magnifique tout simplement. Je pouvais sentir son éternité. Aprѐs avoir marché au bord de la plage, nous avons rencontré un homme qui nous proposait de faire un voyage en son bateau. Il était assez chѐre de louer son bateau, mais heureusement nous pouvions partager les frais. Alors nous avons passé 45 minutes en traversant la baie qui forme la plage. Nous avons pris beaucoup de photos!!! Asurément, je n’ai oublié pas de me faire prendre en photo ;) Nous nous sommes bien amusés en bateau. Nous profitions du beau paysage côtier. Le temps s’écoule lentement. À midi on a déjeuné dans un petit restaurant qui sert un menu superbe de fruits de mer qui était bon pour la santé et les papilles ;) La plupart de nous a demandé du thon grillé au feu de bois qui nous a livré une saveur délicate. Ça se vendait à 9000 roupies piѐce. Et puis nous avons continué notre excursion à la grotte de chauve-souris qui est la grotte la plus longe dans la région Asie du sud-est. On a dû payer 4000 roupies à l’entrée per personne. Pour y arriver, il faut traverser un petit pont suspendu sur un ruisseau. Aprѐs une courte promenade de 500 mѐtres, on peut voir la bouche de la grotte. Il n’y en avait pas beaucoup de lumiѐres mais cela ne nous a pas fait peur. Dans l’obscurité on peut toujours regarder de innombrable stalactites et stalagmites qui se présentaient sous diverses formes. C’était superbe. Dans la fin de l’aprѐs-midi nous sommes rentrés chez nous. Nous avons passé une journée trѐs agréable. Nous attendons nos prochains plans de vacances avec tant d’impatience. Au revoir!

P.S.: En fait, c’est toute la premiѐre fois que j’écris en français donc je crois que j’écris mal. Corrigez-moi s’il vous plaît, si vous trouvez des erreurs de grammaire. Je serai le bienvenu.


Idyllic sea side. Just a perfect temptation

The sturdy rocky cliff facing the ocean (up) and me posing at a corner of the road overlooking the bay (below)

Tuesday, February 15, 2011

Tips for Traveling in Bangkok

Wearing headscarf is more than welcomed. The inhabitants of Bangkok are tolerant, respectful and open-minded as the city itself has a moslem quarter.

Understand that Budhism is the most predominant religion in Thailand and the Thais profoundly love their king as the unifying figure. Do not say something bad about these unless you want to viewed as a rude person.

Try to avoid eating in non-moslem restaurants as they tend to use porky products on processing the food. Even when having breakfast at your hotel, never hesitate to ask the staffs if the dishes are okay for moslems. Be cautious when ordering a simple omelette since they usually add the minced pork in it. If you’re still worried, it’s safer just to take some breads, toasts or baguette along with mini-packed confitures and butter, cereals is mostly available. Several moslem (halal) restaurants can be found along Thanon Petchaburi (Petchaburi Road), next to Rachatevee flyover. I’d suggest Makyah Muslim Restaurant as it seems pretty renowned among moslem people there. It serves delicious Southern Thai dishes. A nearby mosque called Masjid Darulaman is located only a block away from it.

Wednesday, February 2, 2011

Love in Bangkok

Travelling in Style to Bangkok, Thailand

Chasing The Dusk in Bangk
For me describing Bangkok can be quite difficult sometimes as it’s nearly impossible to narrow down the narration in a line or two. The capital of Thailand is a huge intriguing metropolis indeed. But somehow it retains predictable patterns of how most of South-East Asian cities look like. The chaotic street scene during typical rush hour times, the heavily-polluted air, the virtual poverty; they’ve all become commonplace. However Bangkok is Bangkok, it remains stand out of the crowds with its charming, pleasant and enjoyable atmosphere. Once you leave it, Bangkok still shadows you with a lot of newly-gained travel experiences which are absolutely unforgetable. It’s the river, the Grand Palace, the innumerable wats, the humble street vendors in its open market or in the roadside, the fast-walking crowds, the monks,and the king; not to forget the distinctive Thai smiles that are probably the sweetest ones on the planet.

Personal remarks (it has nothing to do with Bangkok though): Naming Air Asia as the world’s best low-cost airline is indisputable, but when it comes to onboard service it might be among the bitchiest ones. Such a heartless bitch for effortlessly letting the passengers suffer from hypoglycaemia. No offends please. I’m just speaking up.


Friday, December 17, 2010

Empati dalam Kereta Api Ekonomi




Cuaca Sabtu pagi itu cerah, secerah wajah enam sekawan yang sedang mengantri tiket di Stasiun Gubeng. Masing-masing dengan tas punggung yang tampak berat. Nyaris saja mereka tidak mendapatkan tiket kereta api tujuan Bandung.


“Sudah benar-benar habis ya mbak?”, tanya seorang dari mereka kepada petugas di kaunter tiker.

“Sebentar mbak.”, sahut si petugas sambil memencet telepon dan beberapa saat kemudian ia berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Lalu ia mengakhiri percakapan. Menyodorkan enam lembar tiket berharga 38 ribu per lembar kepada enam sekawan.

“Wah kita beruntung. Nyaris kita batal berangkat ke Bandung.”, kata si A.

“Kan sudah kubilang seharusnya kita memesan tiket sebelumnya.”, si B beropini.

“Emang bisa ya,kan kereta yang kita tumpangi ini kereta ekonomi?”, yang lain menimpali.

Pembicaraan terhenti sesaat sebab kereta api telah tiba di stasiun itu. Tergopoh-gopoh mereka mencari gerbong nomor 5 di mana mereka akan duduk sesuai dengan yang tercetak pada tiket yang telah dibeli. Mereka terlihat bingung karena nomor gerbong tidak tertera jelas di luar gerbong. Mereka nampak bertanya pada seorang petugas.

“Hei ini tempat duduk kita!”, teriak si D.

“Alhamdulillah, untung masih sepi.”, ujar si E

Mereka lalu meletakkan tas di atas tempat duduk dan menghela napas. Saling berpandangan puas. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh sekumpulan orang yang mengatakan bahwa enam sekawan itu duduk dalam gerbong yang salah.

“Ga mungkin pak, tadi saya sudah tanya sama petugasnya sendiri.”, si D dan F ngotot.

“Lho saya juga barusan diberitahu sama petugasnya!”, orang-orang tersebut tidak mau kalah.

Akhirnya enam sekawan beranjak mencari “gerbong lima”. Ketemu dan mereka duduk lagi.
Lima belas menit berlalu, kereta api tiba di stasiun Wonokromo. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh sekumpulan orang yang memegang tiket dengan nomor tempat duduk dan gerbong yang sama. Sontak silat lidah pun terjadi, untung tidak berlanjut menjadi baku hantam. Lidah-lidah kedua kubu sama-sama terasah rupanya sehingga sebagai jalan tengah enam sekawan tersebut terpaksa rela berbagi tempat duduk dengan orang-orang yang bagi mereka terlihat sebagai penyusup itu.

Enam sekawan ini berasal dari keluarga yang sebetulnya secara finansial mampu membeli tiket kereta api kelas premium. Namun berhubung mereka baru saja lulus dari sekolah kedokteran dan kebanyakan belum bisa mencari duit sendiri (he he), mereka memutuskan mencoba hal baru seperti naik kereta ekonomi ini. Yang lebih pro rakyat, seperti yang diakui kebanyakan penumpang kereta itu.

Si D berulang kali menyeka keringat yang tak kunjung berhenti mengucur dari tubuhnya. Sial, pikir si D. Kondisi gerbong itu sungguh merupakan pemandangan yang aduhai ajaib baginya. Kipas angin tak menyala, ah pantas panas sekali hawa saai itu. Penumpang, tua muda, asyik menghisap rokok. Tanpa rasa berdosa meskipun asapnya jelas-jelas mampir di muka penumpang wanita yang duduk di depan, di sebelah, atau di samping mereka. Salah satu di antaranya memutar lagu pop dari hapenya keras-keras, playlist-nya dari sejumlah band pendatang baru dengan lirik lagu yang picisan. Tampak pula sangkar burung yang disarungi kertas koran dan digantung dekat jendela. Entah apakah cara tersebut akan berhasil membuat burungnya tidak stres atau justru si burung makin frustrasi seperti halnya enam sekawan ini. Tak seorang pun dari enam sekawan itu terlibat dalam percakapan panjang dengan penumpang lain. Paling sebatas bertanya akan turun di mana si X,Y,Z atau memberikan sepotong kue kepada anak kecil yang tampak lapar. Mereka lebih asyik berbicara sendiri.

Koar-koar para pedagang asongan riuh rendah, naik turun silih berganti. Luar biasa. Mereka menjual apa saja. Makanan, minuman,mainan, hingga buku resep masakan. Satu-satunya yang menarik bagi enam sekawan ini adalah pedagang nasi pecel. Harga murah, sebatas mengganjal perut. Para pengamen dan waria tak mau kalah untuk ambil bagian. Oh ya selama perjalanan ini mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Telah terjadi kesepakatan tanpa didiskusikan. Mereka tahu risikonya jika mereka berani melakukannya. Alhasil, mereka sepakat melakukan restriksi cairan dengan membatasi cairan yang masuk serta pantang minuman berkafein, paling tidak hingga kereta tiba di Bandung pada pukul 21 seperti yang tercetak dalam tiket.

Tiba-tiba kereta berhenti di tengah hutan antah-berantah untuk kali ke sekian. Kereta ini harus mengalah, mendahulukan kereta yang harga tiketnya lebih mahal. Mungkin karena terlalu sering berhenti kereta tiba di tujuan tepat tengah malam.Mungkin pada saat hari telah berganti. Mungkin.

Ah inilah potret kita yang sebenarnya. Begitu lebar dan kentara jarak antara si kaya dan si papa. Sungguh kasihan mereka. Untuk melakukan perjalanan jauh saja mereka harus bersusah payah. Sungguh suatu perjuangan. Sulit rasanya membayangkan kondisi kereta macam ini pada saat mereka pulang ke kampung halaman pada hari raya. Tampaknya tak ada yang peduli. Mengapa mereka tidak melawan. Mengapa mereka diam dan pasrah. Tidakkah mereka menginginkan perubahan? Ah rasanya tak perlu dijawab.

Monday, November 29, 2010

Jalan-Jalan ke Bandung Euy!

Semua berawal dari ajakan seorang kawan melalui SMS. Tanpa berpikir panjang saya menyanggupi karena sudah lebih dari delapan tahun saya tidak bertandang ke sana. Kata kawan saya sih, kali ini liburannya ala backpacker gitu deh. Tapi ga parah-parah juga karena untuk penginapan, kami dibolehkan menginap di rumah salah satu famili kawan yang lain di Bandung (banyak amat ya kawan saya ha ha; kami bertujuh yang berangkat dari Surabaya) dan untuk transportasi kami mendapatkan pinjaman mobil. Jalan-jalan ke Bandung kali ini kalau dirunut kurang lebih seperti di bawah ini. Semoga menjadi inspirasi (ha ha saya kok ge-er sih ;)

21 November 2010
Pukul 06.30 WIB, kami berkumpul di Stasiun Gubeng, Surabaya. Seperti yang telah kami sepakati sebelumnya, kami naik kereta api Pasundan yang bertarif 38000 Rupiah sekali jalan. Awalnya nyaris ga dapat tiket lho, tapi ajaibnya kami dapat tempat duduk juga ;) Kereta berangkat jam 6 pagi tepat. Kami kira semua akan berjalan lancar hingga kereta api masuk Stasiun Wonokromo di mana kami sempat ribut dengan calon penumpang lain yang mengklaim memilki tiket dengan nomor tempat duduk yang sama dengan kami. Tapi kami ga mau mengalah dong. Akhirnya sebagai win-win solution, kami berbagi kursi dengan penumpang2 itu. Kebayang dong sempitnya. Penderitaan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan ha ha. Mulai dari harus terpaksa menahan kencing, bokong terasa dekubitus, ASAP ROKOK sialan, pengamen dan pedagang asongan silih berganti masuk gerbong, bencong keparat, dan kereta yang sering banget berhenti di stasiun ga penting. Ya mau gimana lagi. Tapi parahnya kami baru sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung tepat tengah malam. Bayangin dong 18 jam dalam situasi seperti itu (so hopeless). Naik kereta api ekonomi sangat dianjurkan bagi mereka yang ga bisa menahan kencing, alergi asap rokok, dan yang hidup dengan klaustrofobia.



22 November 2010
Kami ketambahan tiga teman yang bergabung yang membawa sebuah mobil untuk kami gunakan jalan-jalan. Jadi total kami ber-10. Tempat yang kami kunjungi hari ini adalah Kawah Putih, Situ Patenggang serta penangkaran rusa Ranca Upas. Semua tempat ini terletak di selatan Bandung. Dari Bandung kami melalui tol Purbaleunyi lalu keluar lewat Kopo. Dilanjutkan menuju Soreang (19 km), setelah itu Kawah Putih (22 km lagi). Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah, terutama setelah memasuki Kecamatan Ciwidey. Hamparan kebun strawberry di mana-mana, dilatarbelakangi gunung-gunung berselimut kabut dan hutan yang hijau. Setibanya di pintu masuk Kawah Putih. Kami dibuat syok oleh harga tiket mobil yang mencapai 150 ribu per mobil dan ditambah lagi tiket personal sebesar 15000 per orang. Sedangkan bila naik kendaraan yang disediakan pengelola kami harus membayar 25000 per orang. Duh pemerasan!! Berhubung sudah datang jauh-jauh kami ikhlas saja, toh biayanya juga dibagi oleh sepuluh orang. Aroma sulfur yang menusuk hidung langsung tercium begitu kami mendekati bibir kawah, tapi pemandangan alam di sekelilingnya sungguh luar biasa. Oh ya, bagi Anda yang sensitif jangan berdiam terlalu lama sebab kabut yang Anda hirup bisa mengiritasi mukosa saluran napas. Anda bisa batuk-batuk, mengalami tenggorokan perih atau gatal.
Dari Kawah Putih kami ke Situ (danau kecil) Patenggang yang katanya sih pernah dijadikan tempat syuting film Heart (yang pertama dan yang ke-2). Sempatkan berperahu menuju Batu Cinta yang terletak di pulau kecil di tengah danau (bayar lagi, duh duh duh).






















23 November 2010

The adventures begin! Pukul 04.30 kami bertolak dari Bandung menuju Kabupaten Ciamis dengan tujuan utama Pantai Pangandaran dan Sungai Cijulang (Green Canyon). Perjalanan lancar. Kami melintasi Nagrek, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis. Dan Kota Banjar, sebelum kami berbelok 80 km ke arah selatan. Tengah hari kami tiba di Pantai Pangandaran. Panas!! Setelah melihat-lihat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Cijulang. Sumpah ya di sini tuh kurang banget papan penunjuk jalan sampai kami harus tanya kepada penduduk lokal. Cijulang ditempuh kurang lebih 30 menit berkendara dari barat Pangandaran. Agar lebih mudah cari saja lapangan terbang Nusawiru. Menjelang pukul 13.00 kami tiba di depan pintu masuk Green Canyon. Biayanya dihitung per perahu yakni 75000/perahu hingga tiba di Green Canyon, jika ingin melanjutkan petualangan dengan berenang menyusuri Sungai Cijulang kita harus nambah lagi 100 ribu/perahu (bergantung kesepakatan dengan pengemudi perahu/pemandu). Duh ini mah nusuk dari belakang namanya ha ha. Tapi sumpah, obyek wisata ini harus muncul dalam daftar tempat2 yang WAJIB dikunjungi selama di Jawa Barat. It’s beyond words that we have to experience it ourselves. Sebagai bocoran kami bagi deh sedikit foto-fotonya ;)
Setelah puas berbasah-basahan, kami pulang melewati jalur Cijulang-Tasikmalaya yang sangat tidak dianjurkan sebab banyak ruas jalan yang rusak meski sebenarnya jarak tempuh lebih pendek.









24 November 2010
Tujuan kami kali ini Gunung Tangkuban Perahu - pemandian air panas Ciater - Paris van Java Shopping mall

25 November 2010
Menjelajahi pusat Kota Bandung. Museum Geologi - Gedung Sate – Museum Pos (yang spooky abis) – mencicipi yoghurt Cisangkuy – Museum Konferensi Asia-Afrika – Cihampelas Walk Mall




26 November 2010
Menjelajahi Pasar Baru (Jl. Otista) – Masjid Agung – daerah seputar Jl. Dalem Kaum – Braga Walk Mall – walking down the legendary shopping street of Braga – mencicipi Bebek Garang (10 out of 10) – beli oleh-oleh bolen khas Bandung

27 November 2010
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Dago – mencicipi yoghurt (again) dan milkshake di Bandoengsche Melk Centrale – jalan-jalan seputar ITB – kembali ke Surabaya dengan kereta api Mutiara Selatan (no more Pasundan)

Total biaya yang saya keluarkan: 1100000 Rupiah
Remarque personnelle: Bandung memang layak disebut Parijs van Java. Kota ini seperti sebuah sentuhan Eropa di tanah Jawa. Jalan-jalannya (walau sering macet dan semrawut), kafe-kafenya, butik dan FO-nya memang sungguh memikat. Orang Bandung memang punya gaya walau terkadang terlihat frustasi dengan penampilannya. Tapi mereka tetaplah the best-dressed people in the country. Satu-satunya kota besar di Indonesia yang mampu hidup selaras dengan alam, dibanggakan dan dicintai penduduknya dengan sepenuh hati, kota yang hidup dan tumbuh dari kreatifitas. Bagi Anda yang belum berkesempatan ke Paris, berkunjunglah dulu ke Bandung he he.

If you’re lucky enough to have lived in Paris as young man, then whenever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast. (Ernest Hemingway, 1950)

Bromo, Before It Erupted

Tanggal 26 November sekitar pukul 17.00 WIB, Gunung Bromo yang terletak di Kabupaten Probolinggo meletus. Untungnya saya telah sempat berkunjung ke sana beberapa bulan yang lalu.

Bromo, Indonesia’s Most Visited Volcano. The sunrise is around the corner



Morning dawn. A collition



The crater of Bromo


The conquerors on the top

Sunday, June 13, 2010

Travelling to Manado and Bunaken and on How I Fell Under the Charm of Dabu-Dabu Sambal


As tradition has it, I seem to always be on a trip a week or two prior to my exam (that time I was at surgery department doing my clinical rotation). During the last weekend of May, I and my family went to Manado,the charming little town on the northern tip of the Island of Celebes. I tought I was sort of on the verge of a discovery since I had never really imagined much of this island. What a shame! But on the whole it’s not solely my fault. Blame it on the government (particularly the Ministry of Tourism and Culture) for not doing their best to promote this forgotten island. They do need to more intensively promote it. Where were we ha ha? So this town was not well-depicted in my mind until my airplane (I flew with Sriwijaya Air with its infamous service and its fake-smiling flight attendants oops ;) touched the runway of Sam Ratulangi Airport of Manado. This airport is factually named after the famous hero of North Celebes. And trust me this airport is only “international” in name. I could hardly see any foreign aircraft fleets or local air companies with international routes parked in it. The only sign of its international sense was probably the presence of gangway (garbarata: Ind). O c’mon.

We arrived there by midday so it was already time for Friday prayer. So I went to a local mosque not far from the airport. What??? A mosque in a province where more than 80% of the population claims to be the followers of Jesus??? Yeap, Islam does flourish and thrive here guys thanks to the Dutch for choosing Manado as an exile for Kyai Mojo and the gang. It must have been a perfect getaway for ‘em he he.

My Very First Encounter with the Sinful Crabs
We went straight to a local restaurant (I forgot the name unfortunately) to taste some local specialties. The tables and the utensils were all set, but hey where were the food? I was about to learn another uniqueness of Manadonese when serving the meals. First they brought out the rice, the chili sauce aka sambal, then they served the dishes. So we cheerfully helped ourselves to a big scoop of rice and all we saw on the table. What a delicacy! Manadonese foods are obviously the biggest rival of Padang food ha ha. We ate and ate til our tummy reached its maximum extent. But voila then came other delicacies which were supposed to be the main course, so what we all just had was seemingly the starter. What?? So instead of letting them go untouched we had our second round of meal. My eyes caught the sight of the animal of my star sign aka crabs. I was rather doubtful to give it a try since I’d never ever tasted it in my whole life. But the look and the smell simply mesmerized me. Then those poor big crabs cooked with coconut milk and exotic herbs found their way into my mouth ha ha. I was in ecstasy then…;)

Lake of Tondano
C’est passé. Caught nothing interesting here.

Fantastic Splurge Hotel
Last year Manado hosted the World Oceanic Conference (or whatever..) in an attempt to boast its tourism potentials. But the city was rather lack of all kinds of travel itinerary, including the accommodation. So as for preparation, the local authority felt the urge to upgrade some hotels. I was lucky to get the chance to stay in a five star hotel, the only one of its kind in Manado, called Sintesa Peninsula Hotel. The hotel was conveniently located in the heart of the town, sitting high in a green and lush hill. Just perfect! I regarded it as a privilege. The room was all great and convenient, had double beds, clean bathroom, big flat screen tv, elegant working table, free internet access, cool paintings, and wooden floor (though it’s artificial I guess). From the balcony one got a spectacular view of Manado Bay dotted with a few islets and their summits afar. Breathtaking!

Bunaken
The next morning we set sail to the famous Bunaken Islands, a cluster of islets some 10 miles away from the quay. Manado is truly surrounded by hills and wilderness, so a boat trip to Bunaken would make a great escape. The weather was perfect, cloudless and the sea was so blue, so crystal clear though one might spot the floating garbage on the surface of the water along the track to Bunaken. How annoying! But that just wouldn’t stop us to keep on sailing he he. A moment before we anchored, the captain made a stop to show us the underwater panorama through the glass that penetrated down the sea. Frankly speaking, Bunaken is not a perfect spot for those unable to swim, just like me, cuz I believe that the coral reefs and the coral fishes can only be appreciated only when you dive. The Bunaken Island itself didn’t match my expectation. I thought there would be a vibrant kind of living on the island just like what I formerly saw on Gili Islands of Lombok. Pretty a discouragement! So lame and boring. But there was a restaurant serving great dishes that was a relief to me he he. We tried to avoid eating any kinds of flesh, but the fish or seafood during our trip to Manado for halal reason. The restaurant was called Nelson and owned by a lady from Moluccas I believe (due to their physical appearance). The dishes were ALL great, best-tasting food I’d ever tried in the whole universe. I did like the chili sauce called dabu-dabu and the other one I didn’t recognize which was even more exotic. The chopped shallots, fresh tomatoes, lemon water, the shrimp paste (just to name a few) turned out to be a beautiful combination. They were a piece of heaven he he. But did u know guys that Manadonese do eat the sweet fried banana with dabu-dabu? A lethal combination ha ha. That was all, I just could hardly wait to return to Manado.

Impression
Manado is so easy to fall in love with. The people love parties and seem to enjoy every single day of their life. Life is celebrated here!! One will get the chance to learn that it’s very possible to live in harmony with nature or probably with your neighbors with different religions. The Manadonese or Minahasans love helping each other, they won’t hesitate to help their neighbors who are helplessly in need which is already a scarce thing among Javanese society. I learned not to be an ignorant, that we need to participate in the social life by sharing what you have more, to be more passionate about life , and not to forget that our ancestors were great and skillful seafarers he he. Til we meet again Manado!!



Saturday, March 20, 2010

Pengalaman Berumrah ke Tanah Suci

Alhamdulillah saya berkesempatan melakukan umrah ke tanah suci pada 10-18 Maret lalu. Thanks to mom who came along with me on the journey, I’d never have considered doing this without you! My appreciation also goes to Shafira for being our great travel agency and for their assistance. Perbedaan antara ibadah haji dan umrah terletak pada waktu dan manasiknya. Umrah dapat dikerjakan sepanjang tahun, sedangkan haji hanya boleh dikerjakan pada bulan-bulan tertentu. Manasik umrah meliputi: 1. Ihram; 2. Thawaf; 3. Sa’I; 4. Tahallul yang kesemuanya harus dilaksanakan secara tertib dan berurutan. Sedangkan manasik haji masih ditambah dengan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, lempar jumrah dll yang pastinya lebih rumit dan memakan waktu lebih panjang(1).

Pada umumnya kegiatan ibadah maupun umrah berpusat pada tiga kota di Kerajaan Saudi Arabia. Jeddah, sebagai pintu gerbang utama karena lokasinya berbatasan dengan laut dan memiliki lapangan terbang internasional bernama King Abdul Aziz, selain itu jaraknya yang dekat dengan Mekkah (± 73 km) membuat kota ini semakin strategis. Madinah, as a birthplace of Islam, kota suci ke dua umat Islam sekaligus tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkam. Mekkah, sebagai puncak pelaksanaan ibadah karena di sinilah terlatak Kabah yang menjadi arah solat umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Tak terkecuali dengan perjalanan umrah yang kami lakukan. Dari Surabaya kami terbang ke Jakarta. Perjalanan udara Jakarta-Jeddah ditempuh dalam 9 jam plus sekian menit dengan melewati empat zona waktu dan menggunakan jasa Garuda Indonesia. Anyway salut kepada manajemen Garuda Indonesia yang telah menerima anugerah 4-star airline dari Skytrax Airline Ranking(2). Kami tiba di Jeddah ± 21.30 waktu setempat untuk kemudian meneruskan perjalanan darat ke Madinah selama 6 jam. Sungguh melelahkan. Saya lebih banyak tidur selama perjalanan. Menjelang subuh kami tiba di Madinah dan bersama-sama kami membaca doa memasuki kota ini di bawah panduan ustad pembimbing kami. Ustad saya bercerita panjang lebar tentang sejarah kota ini, namun tidak banyak yang saya ingat. Yang saya ingat kami berpapasan dengan sebuah gunung yang kata ustad kelak akan ditempatkan di neraka. Gunung itu bernama Jabal Ir. Oh ya, kota ini bersama-sama kota Mekkah disebut tanah haram sebab hanya mereka yang beragama Islam yang diperkenankan melawat kota-kota ini. Kerlap-kerlip lampu dari kejauhan semakin membuat Madinah terlihat cantik di kala malam.

MADINAH AL-MUNAWARAH
Dahulu kota ini bernama Yastrib sesuai dengan nama pemimpinnya kala itu. Kemudian dinamakan Madinah Al-Munawarah yang berarti kota yang bercahaya. Nama ”Madinah” sendiri berarti ”kota” dalam bahasa Arab. Alhamdulillah kami dapat menunaikan solat Subuh berjamaah di Masjid Nabawi ketika kami tiba di sana. Selama ziarah di kota ini kami menginap di Hotel Radisson yang berjarak 2 menit berjalan kaki dari Masjid Nabawi. Below is the list of unmissable things during our stay in this City of Light:
* Solat berjamaah di Masjid Nabawi tercinta (it’s a MUST). Rugi banget datang jauh-jauh kalau tidak mengoptimalkan ibadah di sini.
* Ziarah ke makam Rasulullah SAW, makam sahabat beliau Abu Bakar r.a.
* Raudlah, tempat yang amat mustajabah untuk memohon sesuatu pada Allah SWT.
* Jabal Uhud beserta makam para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud.
* Kebun kurma yang dilengkapi tempat membeli oleh-oleh. Mengerikan juga melihat nafsu para jamaah Indonesia dalam berbelanja. Tidak heran para pedagang Arab amat mencintai jamaah Indonesia he he .
* Mengambil miqat di masjid Bir Ali sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan rukun-rukun umrah selanjutnya.

Berada di kota ini sungguh merupakan sebuah pengalaman hidup yang tidak ternilai. Saya telah jatuh cinta dengan kota ini. Saya akan sangat merindukan keramahan penduduknya, tata kotanya yang harmonis, para pedagang jalanannya serta tentu saja Masjid Nabawi.

MAKKAH AL-MUKARRAMAH
Setelah 6 jam perjalanan darat dari Madinah tibalah kami di Mekkah menjelang tengah malam. Segera kami menunaikan thawaf, sa’i diakhiri dengan tahallul. Lengkaplah umrah yang kami lakukan, alhamdulillah. Unmissable things during our stay in Mecca:
* Solat berjamaah di Masjidil Haram. Solat di Masjidil Haram pahalanya berlipat ganda. Sekali solat di masjid ini sama dengan solat 100.000 kali di masjid lainnya yang setara dengan keutamaan solat selama 55 tahun, 6 bulan, dan 20 malam di masjid lain (1).
* Masjid Quba, masjid yang pertama kali didirikan Rasulullah SAW
* Padang Arafah, Muzdalifah, Mina dan Jabal Rahmah
* Menjelajahi suq-suq alias pasar yang ada di kota Mekkah.

JEDDAH
Nama Jeddah berarti nenek tua dalam bahasa Arab yang mengacu pada Siti Hawa. Konon setelah melanggar larangan memakan buah khuldi, Siti Hawa diturunkan di kota ini sedangkan Nabi Adam a.s. di Srilangka. Keduanya bertemu di Jabal Rahmah setelah 40 tahun berpisah. Saat ini Jeddah menjelma sebagai kota pelabuhan dan kota industri terpenting di Kerajaan Saudi Arabia. Hampir semua barang-barang yang ada di Madinah atau Mekkah didatangkan dari sini. Di sini kami mengunjungi pusat perbelanjaan Balad yang terkenal. Namun ada toko yang paling laris yaitu toko Ali Murah. Alih-alih berbelanja saya lebih tertarik untuk masuk ke sebuah restoran Filipina yang masih berada dalam satu kompleks. Perjalanan dilanjutkan ke masjid terapung yang tersohor itu. Masjid ini dibangun oleh seorang janda kaya raaya bernama Siti Rahmah. Saking kayanya beliau ingin membangun sebuah masjid. Beliau diizinkan membangun masjid dengan syarat tidak terletak di atas tanah sebab menurut pemerintah Saudi urusan pembangunan mesjid seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Maka lahirlah ide untuk membangun masjid yang pondasinya terletak di atas pantai. Sempat kecewa juga sih sebab kami tidak mengunjungi kota tuanya Jeddah yang masuk dalam UNESCO World Heritage Tentative List (3).

Referensi:
(1). Zuhairi Misrawi. Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009.
(2). http://www.garuda-indonesia.com/news/2010/01/29/garuda-indonesia-certified-as-a-4-star-airline
(3). http://whc.unesco.org/en/tentativelists/5085/











Saturday, March 6, 2010

Travelling to Lombok and Gili Trawangan

Lombok, Bali’s Reminiscence of The Past
Kamis, 25 Februari 2010
Matahari telah tenggelam dan gerimis mengguyur saat saya menginjakkan kaki di Bandara Selaparang setelah satu jam penerbangan dari Surabaya. Akhirnya untuk kali pertama saya di Lombok wew.. It feels amazing that I finally decided to come along on this trip arranged by mommy and her fellas. Seems to me I kinda challenge myself since my exam day is just a week away and concerning the fact that I haven’t done much as for the exam prep. But who cares? I can’t miss such a great chance unless I’m an idiot ha ha. The most lovely part of traveling with my parents is that all costs and charges will be at their expenses so I basically travel for free ;) Above all I’ve got enough of being a lonesome backpacker since my last trip to Bali which was pretty traumatic for a few particular reasons I won’t discuss here (apart from the shortage of money ha ha ;) Setelah itu dengan bus kami meluncur ke sebuah rumah makan bernama MM (or whatsoever) yang konon menyajikan hidangan ayam Taliwang dan pelecing kangkung paling yummy seantero Lombok. Usut punya usut ternyata “Taliwang” adalah nama desa di mana makanan ini pertama kali dipopulerkan, ini kata guide-nya lho. Jenis ayam yang dipakai untuk masakan ini adalah ayam-ayam yang masih brondong sehingga porsinya memang kecil (sepertinya disengaja deh supaya yang makan minta tambah terus he he). Kangkung untuk pelecing-nya seram euy. Batangnya besar-besar, daunnya panjang-panjang pula (feels like I’m a herbivore for a moment!!!).

Setelah bersantap malam kami menuju ke sebuah hotel di kawasan Senggigi di mana kami akan menginap selama di Lombok. Voila ternyata kami menginap di The Jayakarta Resorts and Hotel. Surprised banget mengingat saya jarang sekali menginap di hotel yang tergolong mewah. Dari brosur yang saya temui di kamar hotel, ternyata hotel The Jayakarta punya beberapa jaringan di Indonesia seperti di Anyer (Jawa Barat), Bali, bahkan di Pulau Komodo juga (wow..).

Jumat, 26 Feb
Acara kami hari ini adalah mengunjungi desa pusat kerajinan gerabah, tenun khas Lombok, desa tradisional Sade, Kuta, dan Puri Narmada. But the highlights are Sade and Kuta. Sebelum kami bersiar-siar, terlebih dahulu kami stase pagi gastro aka breakfast buffet di dining hall dari hotel. Wuih lagi-lagi seram euy hidangannya. Dijamin bisa bikin penderita diabetes mellitus tipe 1 atau 2 malas menunggu 15 menit sebelum insulin prandialnya starts to work. Nafsuin banget lah. Dari menu sarapan pagi ala Indon sampai ala Londo terhidang di sini. Wafelnya maknyus banget, but the omelet is rather disappointing. Overall saya yakin rasa menu-menu yang lain tidak dalam batas normal (enak banget maksudnya he he).

Sade adalah desa tradisional yang memang sengaja direservasi untuk menarik para wisatawan. Di sini wisatawan dapat menyaksikan lebih dekat serta mempelajari sedikit tentang budaya suku Sasak antara lain arsitektur dari lumbung padi, rumah penduduk (yang katanya lantainya dibersihkan dengan kotoran kerbau) dan balai pertemuan di mana masalah-masalah keseharian dicarikan solusi. Atap bangunan suku Sasak memiliki bentuk yang cute, mirip menara masjid. Saya baru tahu kalau Lombok itu dijuluki sebagai bumi seribu masjid sebab di samping mayoritas penduduknya adalah muslim yang taat banget, orang dengan mudah melihat masjid tersebar di mana-mana bahkan antara satu masjid dengan lainnya bisa hanya 100 meter jauhnya. Here mom’s just got me a georgeous woven sarong for Friday prayer. It’s homemade, she bought it for 40000 IDR.

Setelah itu kami menuju pantai Kuta yang terletak di bagian selatan dari Kabupaten Lombok Tengah. Oh God. who will love this beach not? Speechless. Pantai pasir putih membentang sejauh mata memandang dikelilingi bukit-bukit hijau yang kokoh dan terjal dengan laut yang hijau membiru. So picturesque. One has to see it on his own!! Recommended!! Pantainya masih alami banget, tapi fasilitas pendukungnya belum terbangun dengan baik.

Sabtu, 27 Februari 2010
Agenda hari ini: The most anticipated, the newly-rediscovered Gili Islands (yippee langsung deh All Saints – Pure Shore #nowplaying). Berhubung cuma sehari kami memutuskan untuk hanya berkunjung ke Gili Trawangan. Dalam bahasa Sasak kata “gili” berarti pulau kecil (Ind) aka islet (Eng) aka holm (Nor) aka la isla bonita (Esp or Madonnese). Gili-gili ini berada kurang lebih 5 km lepas pantai Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat dan dapat ditempuh selama 45 menit dengan perahu mesin. Sebenarnya tidak banyak aktifitas yang dapat dilakukan di gili-gili ini selain bersantai, berjemur, bermalas-malasan. Di Gili Trawangan orang berkesempatan untuk diving, snorkeling, atau menjajal beberapa permainan air seperti banana boat. Atmosfir di Gili Trawangan ini hedon banget deh, mirip dengan kawasan Legian atau Kuta di Bali. Di sini saya menyempatkan diri untuk bersepeda keliling pulau ini. Cukup dengan biaya sewa 30000 IDR per jam saya bisa berolahraga (siang bolong) sekaligus menikmati indahnya panorama alam. Recommended. Menurut saya orang belum ke Lombok deh jika belum sempat mampir ke gili-gili ini. Setelah puas berpanas-panas dan melihat lautan deux pièces kami kembali ke daratan Lombok untuk berjalan-jalan sore di Kota Mataram.

Hari ini kami makan malan di rumah makan Dirgahayu yang terletak di samping Mataram Mall dengan menu, apalagi jika bukan, ayam Taliwang dan pelecing kangkung (mbeeeeeek). Wow saya terkesan sekali dengan Kota Mataram. Kotanya tertata rapi. bersih, tapi bangunan-bangunannya sepertinya masih peninggalan tahun 70 atau 80-an. So old-fashioned yet charming. I’m particularly interested in the old quarter which is centered around Ampenan. The used-to-be-warehouses look so fantastic, simply remind me of those antique buildings scattered around the northern part of Surabaya. Mataram Mall ini satu-satunya tempat belanja yang trendi di NTB jadi harap maklum jika terjadi antrian mengular di kasir Hero seperti yang saya alami. Outlet makanan cepat saji yang ada antara lain McD, KFC, dan Pizza Hut. Pas mal ;)

Minggu, 28 Februari 2010
It’s still early in the morning, but we have to wake up to catch our morning flight. Hari ini saya berhasil membuat penerbangan terlambat take off 20 menit gara-gara nama yang tercantum di boarding pass tidak sama dengan yang tertera di KTP (ada pemeriksaan KTP lho di Bandara Selaparang). Ini sih kesalahan travel agent kami. Terpaksa membayar 750 ribu karena saya diharuskan “membeli” tiket lagi. But anyway tidak ada gading yang tak retak. Saya pulang dengan membawa memori indah di surga yang terlupakan ini ;) I’ll come back again here for sure in the near future ;)











Monday, September 14, 2009

Backpacking On My Own to Bali

Bali, A Lost Weekender in Solitude

4-5-6 September 2009

Why not? Mungkin Anda merasa tidak punya banyak waktu dan kesempatan lagi untuk melakukannya dalam jangka waktu satu dekade ke depan. Atau Anda sekedar menginginkan melepaskan diri dari kejenuhan hidup. Atau yang lebih gila, tiba-tiba terbersit ide untuk melancong tanpa persiapan berarti (last-minute trip) seperti yang saya alami dua minggu lalu walau saya akui momennya kurang pas. Dua minggu yang lalu (masih dalam suasana bulan puasa ;) saya berakhir pekan ke Bali seorang diri, terdorong alasan harga tiket pesawat yang sedang murah (maskapainya Garuda lagi he he). Waktu itu harga tiket adalah IDR 335000 sekali jalan (sudah termasuk komisi untuk agen perjalanan yang melakukan booking). Namun saya memutuskan untuk hanya membeli tiket perjalanan pulang, sedangkan untuk perjalanan ke Bali saya menggunakan jasa travel (minibus). Saya ingin menikmati perjalanan darat Surabaya-Denpasar dengan jarak ± 336 km (ini saya hitung sendiri lho di atas peta dinding ASEAN di kamar saya) sekaligus bernostalgia mengingat terakhir kali saya menyusuri jalur ini adalah ketika mengikuti perpisahan SMP. Sebagai info saja, saya mempergunakan jasa travel Sakura yang bermarkas di Jalan Pengampon, Surabaya. Untuk nomor telepon, layanan 108 siap membantu Anda ;) Keuntungan menggunakan jasa travel adalah kita dijemput di rumah dan turun tepat di depan tujuan kita dengan biaya terjangkau. Saya membayar IDR 160000 untuk pergi ke Denpasar. Kerugiannya, mmmh menunggu dijemput dan harus sabar menunggu giliran diturunkan. Well where were we? Oh ya hari Jumat 4 September 2009 saya dijemput pukul 21.00, terlambat sejam dari waktu yang dijanjikan (blah!!). Kekesalan saya terobati saat sang sopir menyodorkan makanan kecil. Not bad at all. Kami berhenti sekali di sebuah rumah makan di Paiton, Probolinggo untuk santap malam (yang sekaligus sahur bagi saya ;).

Pukul 3.30 kami tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan untungnya tidak perlu repot mengantri naik ferry karena memang lalu lintas sedang sepi. Pukul 4.45 WIB kami menjejakkan kaki di Pulau Bali. Ada pemeriksaan kartu identitas (KTP) sebelum kami meninggalkan pelabuhan Gilimanuk, tapi seperti biasalah hanya sekedar formalitas. Tidak benar-benar diperiksa dengan seksama. Tiba-tiba ada rasa euforia muncul di hati saya. Entah kenapa saya menjadi begitu bahagia seolah-olah rasa rindu saya terobati. Deretan nyiur dengan pemandangan gulungan ombak yang terlihat samar-samar di kejauhan diselingi dengan sawah berundak dengan gunung-gunung yang tertutup awan... Sungguh tak terkatakan indahnya (padahal kalau saya melihat hal serupa di Jawa biasa-biasa saja tuh ;). Bali memang misterius.

Akhirnya setelah menempuh 15 jam yang terkutuk (sumpah mati gaya saya di dalam minibus!) saya diturunkan di depan gang Poppies II. Dengan perasaan cemas saya datangi satu per satu penginapan di situ. Saya sih maunya menginap di Ronta Bungalows sebab dari referensi yang saya baca dari internet ini termasuk yang paling bagus. Unfortunately it was fully occupied. Saya terus mencari yang lain sampai akhirnya berlabuh di penginapan Dua Dara yang sebenarnya menurut referensi tidak terlalu bagus. But I had no other choice, so I challenged myself to step in and ask the receptionist. Thanks God saya dapat kamar ber-AC dengan attached bath-up and shower seharga IDR 175000 sehari. Check-out time jam 12 pas. Tapi mas resepsionisnya kurang ramah, bikin dongkol hati, uh!! Saya dapat kamar nomor 44 (penting ga sih ;) Lumayan lah. Setelah meletakkan barang-barang saya bergegas ke luar, ke mana lagi kalau bukan ke Pantai Kuta yang legendaris itu. Sengatan matahari tak menyurutkan niat saya untuk berjalan-jalan sebab saya telah mengoleskan krim anti UV di kulit saya he he.

Walaupun terdengar cliché harus diakui Pantai Kuta memiliki daya tarikan yang luar biasa. Pantai berpasir putih terbentang 3,5 km dengan pemandangan luas lautan bebas. Breathtaking! I love the smell of the wind blowing from the ocean! I love its sandy shore! I love the sound of its rolling waves. Saya merasa bebas seketika! Seperti burung yang lepas dari sangkar. Saya kemudian berjalan kaki menuju Discovery shopping mall. Sumpah saya suka sekali lokasi mall ini. Bagian belakangnya langsung menghadap pantai serta lautan. Where else in Indonesia can you find such unique combination? I was impressed. Tapi dari segi isi, mall ini tidak mengalahkan Tunjungan Plaza, Surabaya (hidup TP!).

Petang menjelang maghrib bersama teman saya Sweetie (you know who you are ;) , yang kebetulan juga tengah berlibur di sana, and her boy telah berada di Pura Uluwatu untuk menyaksikan pertunjukan tari kecak tentang kisah Ramayana dengan admission fee sebesar IDR 50000. Sebelumnya kami berkesempatan menikmati pemandangan matahari terbenam dari Pura Uluwatu. Subhanallah... That was OBVIOUSLY THE MOST STUNNING, PICTURESQUE, AND BREATHTAKING SUNSET I HAD EVER WITNESSED IN MY ENTIRE LIFE. Underline that!! How would I ever forget the moment I saw that crimson sky dispersing the golden rays on the surface of the ocean. I was about to shed a tear. I was so happy and thankful I was there!! Thanks God. Tapi hidup harus berlanjut, begitupun pertunjukan tari kecak yang dirancang oleh sanggar tari dan tabuh Karang Boma Desa Pecatu. Untuk kali pertama saya melihatnya secara langsung.

Kecak adalah jenis tarian Bali yang paling unik, Kecak tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Tetapi dia diiringi oleh paduan suara sekitar 70 orang pria. Dia berasal dari jenis tari sakral "Sang Hyang". Pada tari Sang Hyang seorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Malamnya kami bersantap malam di Papa Ron's Pizza Parlour (penting ga sih ;) Mmmh yummy banget. Sebenarnya malam itu saya berencana jalan-jalan di kawasan Legian, tapi berhubung saya sangat lelah rencana tinggal rencana he he.

Esok hari sekaligus hari terakhir berhubung saya tidak sahur karena baru bangun jam 6 pagi ;) saya jadi malas ke mana-mana. Akhirnya cuma berjalan-jalan pagi dan duduk-duduk santai di Pantai Kuta (but it was worth!),window shopping (kasihan deh gue ;) di Kuta Square lalu balik ke penginapan untuk mandi dan persiapan check out. Setelah itu mampir di sebuah bookshop untuk membeli novel bekas bahasa asing dan saya memilih membeli sebuah novel berbahasa Norwegia "Helt på Tur", lumayanlah untuk menambah vocab ;). Lalu saya pergi ke Monumen Ground Zero untuk mengambil gambar dan langsung menuju pabrik kata-kata (you know what ;). Puas berbelanja langsung naik OJEK ke pelabuhan udara Ngurah Rai dan menunggu lima jam hingga pukul 19.00. That was my flight! End of story. Overall, liburan saya kali ini cukup berkesan karena saya seorang diri and I've never done such thing once before. Banyak pengalaman baru and that was the reward for the challenge I took. Semoga Bali akan selalu aman sehingga para turis asing tidak akan ketakutan sehingga mereka akan berlibur lebih lama dan semakin banyak devisa yang bisa kita ekstraksi dari mereka he he ;)