Saturday, October 10, 2009

Belajar Bahasa Norwegia



Bahasa Norwegia termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik, yang secara umum terbagi dalam Jermanik Barat (bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Frisian dan lain-lain), dan Jermanik Utara (bahasa Norwegia, Swedia, Denmark, Islandia, Faroe). Bahasa Norwegia berhubungan erat dengan bahasa Swedia dan Denmark sehingga para penutur dari bahasa-bahasa ini dapat saling mengerti satu sama lain. Namun jika Anda ingin belajar ketiga bahasa ini sekaligus, dianjurkan untuk mempelajari bahasa Norwegia terlebih dahulu. Hal ini disebabkan bahasa tulis Norwegia modern amat mirip dengan bahasa Denmark, namun pengucapannya lebih menyerupai bahasa Swedia (karena pengucapan bahasa Denmark masa kini tidak lagi fonetik, terlalu kaya huruf hidup dan banyak inovasi hingga acap kali susah dimengerti penutur bahasa Norwegia dan Swedia). Menurut hasil sebuah penelitian penutur bahasa Norwegia lah yang paling baik dalam memahami bahasa Denmark dan Swedia. Bahasa Norwegia modern memiliki dua bentuk bahasa tulis yaitu bahasa buku (bokmål) dan bahasa Norwegia baru (nynorsk). Bentuk yang pertama lah yang diajarkan pada orang asing sebab ia merupakan bentuk yang dipakai secara luas di penjuru negeri (86,3 % dari total populasi). Sejarah mengapa Norwegia memiliki dua variasi dalam penulisan juga menarik untuk dipelajari sebab amat berhubungan dengan riwayat perjalanan Norwegia sebagai suatu negara.

Selama Abad Pertengahan, Norwegia adalah kerajaan merdeka di mana bahasa Norwegia Kuno dituturkan dalam beragam dialek dan juga digunakan sebagai bahasa tulis resmi di samping bahasa Latin. Tetapi mulai 1380 ke depan, Norwegia berbagi raja dengan Denmark dan perlahan-lahan karena posisinya yang lebih lemah menjadi subordinate dari Denmark hingga 1814 di mana Norwegia berpisah dari Denmark. Selama masa 400 tahun itulah (yang disebut penulis drama Norwegian ternama Henrik Ibsen sebagai malam panjang 400 tahun) rakyat Norwegia harus merelakan bahasa Denmark menjadi bahasa tulis mereka. Tapi untunglah bahasa Norwegia Kuno bertahan dalam bentuk dialek-dialek, namun dengan tata bahasa yang disederhanakan. Bahasa Norwegia Kuno merupakan bahasa yang amat terinfleksi. Jika Anda bingung akan arti infleksi di sini, coba pikirkan tentang kasus-kasus nominatif, datif, akusatif, genitif dalam tata bahasa Jerman atau Latin.

Setelah perpisahan dari Denmark tahun 1814, dalam pengaruh paham nasionalisme dan romantisme nasional-nya Jerman, para bapak bangsa Norwegia merasakan perlunya Norwegia memiliki bahasa nasional sendiri, terpisah dari bahasa Denmark. Dua jalan ditempuh untuk menyiasati hal ini. Yang pertama dengan menorwegiakan bahasa Denmark yang terlanjur berpenetrasi dalam kehidupan masyarakat utamanya kaum urban, usaha ini dipelopori oleh penulis Knud Knudsen, dan melewati beberapakali penyempurnaan ejaan resmi masing-masing pada 1862, 1907, 1917. Yang kedua adalah merekonstruksi bahasa Norwegia Kuno yang punah berdasarkan dialek-dialek yang masih dipertuturkan di daerah rural utamanya di wilayah Norwegia Barat. Untuk ini pihak kerajaan Norwegia mengutus seorang ahli bahasa dan putra petani asli Norwegia Barat yang masih berusia 22 tahun, Ivar Aasen,untuk mengumpulkan data mengenai dialek-dialek dari berbagai daerah di Norwegia. Setelah empat tahun bekerja dan juga mempelajari perkembangan bahasa Islandia yang notabene adalah keturunan langsung dari bahasa Norwegia Kuno, ia berhasil memformulasikan sebuah bentuk penulisan baru untuk bahasa Norwegia pada 1848. Penamaan bentuk bokmål dan nynorsk diresmikan pada 1929.

Belajar bahasa Norwegia (bokmål) sebenarnya tidak sulit asalkan Anda telah menguasai tata bahasa Indonesia. Lebih bagus jika Anda mahir juga berbahasa Inggris dan atau Jerman. Kosakata bahasa Norwegia modern banyak dipengaruhi bahasa Jerman sebab pada Abad Pertengahan kedua negara adalah anggota dari Hanseatic League, sejenis pakta perdagangan negara-negara Eropa Utara saat itu. Sedangkan dari tata bahasa, bahasa Norwegia modern cenderung identik dengan bahasa Inggris, lebih simpel dibandingkan bahasa Jerman maupun Belanda. Mungkin di antara Anda ada yang bertanya manfaat belajar bahasa Norwegia mengingat bahasa ini hanya dituturkan oleh 4,6 juta orang saja di negara asalnya. Sebenarnya bergantung motivasi dan minat Anda sendiri. Jika Anda kagum dengan bangsa Viking dengan kemampuan maritim mereka yang hebat, jika Anda kagum dengan Norwegia ataupun negara-negara Skandinavia yang lain dengan segudang prestasi juga keindahan alamnya yang luar biasa, jika Anda ingin belajar ke Norwegia, jika Anda ingin mendapat teman-teman baru dari Skandinavia , jika Anda kagum dengan fjord, Norwegian salmon, bunad, May 17th parade, Kings of Convenience, Nobel Prize, Espend Lind, M2M, Marit Larsen, Maria Mena, a-Ha, Kurt Nilsen, midnight sun, aurora Borealis, Oslo, Bergen, Trondheim, dan lain-lain; tidak ada salahnya belajar bahasa Norwegia. Selain itu bahasa Norwegia adalah batu loncatan yang amat baik untuk mempelajari bahasa-bahasa Skandinavia yang lain. Di bawah ini saya sediakan sumber-sumber pembelajaran bahasa Norwegia. Kopi dan letakkan di address bar. Semoga bermanfaat. La oss lære norsk! (depe)

1. Audio:
http://www.apronus.com/norskaudio/samfunnslaere.htm
http://pavei.cappelen.no
2. Everyday Norwegian:
http://www.langmedia.fivecolleges.edu/laser/norwegian/nlma1.html
3. Situs belajar bahasa Norwegia yang dibuat oleh seorang imigran:
http://www.languageonthe.net/norsk/index.htm
4. Belajar bahasa Norwegia harian:
http://www.norwegianlanguage.info/index.html
5. Podcast
http://www.klartale.no
6. Harian
http://www.vg.no
http://www.aftenposten.no
http://www.dagbladet.no
7. Bahasa Norwegia untuk Pemula:
http://www.en.wikibooks.org/wiki/Norwegian_Table_of_Contents
http://www.unilang.org
8. Percakapan dan Tata Bahasa:
http://www.101languages.net/norwegian/basics.html
9. Norsklassen:
http://frodo.bruderhof.com/norskklassen/
http://www.stolaf.edu/depts/norwegian/index.html
10. Bahasa Norwegia untuk Mahasiswa Kedokteran:
http://www.hf.uio.no/iln/studier/evu/norskkurs/medvoice/index.html
http://home.online.no/~otjoerge/files/word.htm
11. Kamus:
http://www.freelang.net/dictionary/index.php
12. Bahasa Norwegia Kuno:
http://www.hi.is/~haukurth/norse/
13. Buku Teks:
http://www.uz-translations.net

Monday, September 14, 2009

Backpacking On My Own to Bali

Bali, A Lost Weekender in Solitude

4-5-6 September 2009

Why not? Mungkin Anda merasa tidak punya banyak waktu dan kesempatan lagi untuk melakukannya dalam jangka waktu satu dekade ke depan. Atau Anda sekedar menginginkan melepaskan diri dari kejenuhan hidup. Atau yang lebih gila, tiba-tiba terbersit ide untuk melancong tanpa persiapan berarti (last-minute trip) seperti yang saya alami dua minggu lalu walau saya akui momennya kurang pas. Dua minggu yang lalu (masih dalam suasana bulan puasa ;) saya berakhir pekan ke Bali seorang diri, terdorong alasan harga tiket pesawat yang sedang murah (maskapainya Garuda lagi he he). Waktu itu harga tiket adalah IDR 335000 sekali jalan (sudah termasuk komisi untuk agen perjalanan yang melakukan booking). Namun saya memutuskan untuk hanya membeli tiket perjalanan pulang, sedangkan untuk perjalanan ke Bali saya menggunakan jasa travel (minibus). Saya ingin menikmati perjalanan darat Surabaya-Denpasar dengan jarak ± 336 km (ini saya hitung sendiri lho di atas peta dinding ASEAN di kamar saya) sekaligus bernostalgia mengingat terakhir kali saya menyusuri jalur ini adalah ketika mengikuti perpisahan SMP. Sebagai info saja, saya mempergunakan jasa travel Sakura yang bermarkas di Jalan Pengampon, Surabaya. Untuk nomor telepon, layanan 108 siap membantu Anda ;) Keuntungan menggunakan jasa travel adalah kita dijemput di rumah dan turun tepat di depan tujuan kita dengan biaya terjangkau. Saya membayar IDR 160000 untuk pergi ke Denpasar. Kerugiannya, mmmh menunggu dijemput dan harus sabar menunggu giliran diturunkan. Well where were we? Oh ya hari Jumat 4 September 2009 saya dijemput pukul 21.00, terlambat sejam dari waktu yang dijanjikan (blah!!). Kekesalan saya terobati saat sang sopir menyodorkan makanan kecil. Not bad at all. Kami berhenti sekali di sebuah rumah makan di Paiton, Probolinggo untuk santap malam (yang sekaligus sahur bagi saya ;).

Pukul 3.30 kami tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan untungnya tidak perlu repot mengantri naik ferry karena memang lalu lintas sedang sepi. Pukul 4.45 WIB kami menjejakkan kaki di Pulau Bali. Ada pemeriksaan kartu identitas (KTP) sebelum kami meninggalkan pelabuhan Gilimanuk, tapi seperti biasalah hanya sekedar formalitas. Tidak benar-benar diperiksa dengan seksama. Tiba-tiba ada rasa euforia muncul di hati saya. Entah kenapa saya menjadi begitu bahagia seolah-olah rasa rindu saya terobati. Deretan nyiur dengan pemandangan gulungan ombak yang terlihat samar-samar di kejauhan diselingi dengan sawah berundak dengan gunung-gunung yang tertutup awan... Sungguh tak terkatakan indahnya (padahal kalau saya melihat hal serupa di Jawa biasa-biasa saja tuh ;). Bali memang misterius.

Akhirnya setelah menempuh 15 jam yang terkutuk (sumpah mati gaya saya di dalam minibus!) saya diturunkan di depan gang Poppies II. Dengan perasaan cemas saya datangi satu per satu penginapan di situ. Saya sih maunya menginap di Ronta Bungalows sebab dari referensi yang saya baca dari internet ini termasuk yang paling bagus. Unfortunately it was fully occupied. Saya terus mencari yang lain sampai akhirnya berlabuh di penginapan Dua Dara yang sebenarnya menurut referensi tidak terlalu bagus. But I had no other choice, so I challenged myself to step in and ask the receptionist. Thanks God saya dapat kamar ber-AC dengan attached bath-up and shower seharga IDR 175000 sehari. Check-out time jam 12 pas. Tapi mas resepsionisnya kurang ramah, bikin dongkol hati, uh!! Saya dapat kamar nomor 44 (penting ga sih ;) Lumayan lah. Setelah meletakkan barang-barang saya bergegas ke luar, ke mana lagi kalau bukan ke Pantai Kuta yang legendaris itu. Sengatan matahari tak menyurutkan niat saya untuk berjalan-jalan sebab saya telah mengoleskan krim anti UV di kulit saya he he.

Walaupun terdengar cliché harus diakui Pantai Kuta memiliki daya tarikan yang luar biasa. Pantai berpasir putih terbentang 3,5 km dengan pemandangan luas lautan bebas. Breathtaking! I love the smell of the wind blowing from the ocean! I love its sandy shore! I love the sound of its rolling waves. Saya merasa bebas seketika! Seperti burung yang lepas dari sangkar. Saya kemudian berjalan kaki menuju Discovery shopping mall. Sumpah saya suka sekali lokasi mall ini. Bagian belakangnya langsung menghadap pantai serta lautan. Where else in Indonesia can you find such unique combination? I was impressed. Tapi dari segi isi, mall ini tidak mengalahkan Tunjungan Plaza, Surabaya (hidup TP!).

Petang menjelang maghrib bersama teman saya Sweetie (you know who you are ;) , yang kebetulan juga tengah berlibur di sana, and her boy telah berada di Pura Uluwatu untuk menyaksikan pertunjukan tari kecak tentang kisah Ramayana dengan admission fee sebesar IDR 50000. Sebelumnya kami berkesempatan menikmati pemandangan matahari terbenam dari Pura Uluwatu. Subhanallah... That was OBVIOUSLY THE MOST STUNNING, PICTURESQUE, AND BREATHTAKING SUNSET I HAD EVER WITNESSED IN MY ENTIRE LIFE. Underline that!! How would I ever forget the moment I saw that crimson sky dispersing the golden rays on the surface of the ocean. I was about to shed a tear. I was so happy and thankful I was there!! Thanks God. Tapi hidup harus berlanjut, begitupun pertunjukan tari kecak yang dirancang oleh sanggar tari dan tabuh Karang Boma Desa Pecatu. Untuk kali pertama saya melihatnya secara langsung.

Kecak adalah jenis tarian Bali yang paling unik, Kecak tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Tetapi dia diiringi oleh paduan suara sekitar 70 orang pria. Dia berasal dari jenis tari sakral "Sang Hyang". Pada tari Sang Hyang seorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Malamnya kami bersantap malam di Papa Ron's Pizza Parlour (penting ga sih ;) Mmmh yummy banget. Sebenarnya malam itu saya berencana jalan-jalan di kawasan Legian, tapi berhubung saya sangat lelah rencana tinggal rencana he he.

Esok hari sekaligus hari terakhir berhubung saya tidak sahur karena baru bangun jam 6 pagi ;) saya jadi malas ke mana-mana. Akhirnya cuma berjalan-jalan pagi dan duduk-duduk santai di Pantai Kuta (but it was worth!),window shopping (kasihan deh gue ;) di Kuta Square lalu balik ke penginapan untuk mandi dan persiapan check out. Setelah itu mampir di sebuah bookshop untuk membeli novel bekas bahasa asing dan saya memilih membeli sebuah novel berbahasa Norwegia "Helt på Tur", lumayanlah untuk menambah vocab ;). Lalu saya pergi ke Monumen Ground Zero untuk mengambil gambar dan langsung menuju pabrik kata-kata (you know what ;). Puas berbelanja langsung naik OJEK ke pelabuhan udara Ngurah Rai dan menunggu lima jam hingga pukul 19.00. That was my flight! End of story. Overall, liburan saya kali ini cukup berkesan karena saya seorang diri and I've never done such thing once before. Banyak pengalaman baru and that was the reward for the challenge I took. Semoga Bali akan selalu aman sehingga para turis asing tidak akan ketakutan sehingga mereka akan berlibur lebih lama dan semakin banyak devisa yang bisa kita ekstraksi dari mereka he he ;)












Monday, August 17, 2009

Travelling to Jakarta

Welcome to The Glamorous Jakarta

Jakarta is a city with such a big contrast. Among its hundreds of stylish highrise buildings, millions of the poor struggle for their life as the money is getting tighter and tighter. It makes me realize that the number of skyscrapers doesn't always go in line with the prosperity of a nation. I remember Norway being one of the richest countries on the planet, but its capital has only a few "skyscrapers". The tallest buiding they have has only 33 floors and it's the tallest one in Scandinavia. What a humble country it is he he ;) But poverty is not a crime. Nothing can stop the Big Durian(Jakarta's nickname) from growing larger and larger, the new skrscrapers are built higher and higher making it the only city in the entire country which has an international and cosmopolitan atmosphere. Jakarta will just keep on flourishing. I was lucky enough to be able to make a trip there back in January this year. I always miss the time I and my buddies drove on the Jakarta streets which were 3 or 4 times wider than those in my hometown, Surabaya; while admiring the classy highrise bulidings along the streets.

"Oh my God, incredible!",I said the words repeatedly making my buddy who was at the wheel got a little irritated (Yeah he's a Jakarta-born so he probably gets pretty fed up with such sights).

"Oh gosh you sound so corny Dian, but I can understand it. Surabaya has nothing to compare to Jakarta."

"I know.", I replied, no defense that time because we were on the same point ha ha ;) I had a great sightseeing and shopping experience in Jakarta, just too bad during the whole week we went to no other places but the malls and the National Monument. Can't you imagine it? I came all the way from Surabaya, caught the morning flight, but it all ended up at restaurants in malls or a cinema. No one was to take the blame, it was all due to the bad weather. My luck ran out ha ha.

Wednesday, March 11, 2009

Berwisara ke Sarangan di Kaki Gunung Lawu

19 Oktober 2008

Sebenarnya kejadiannya sudah lama sih, tapi tidak ada salahnya untuk tetap diceritakan

± 16.30 Baru tiba di Surabaya setelah menghabiskan akhir pekan bersama mom-dad-little bro-rekan-rekan sekantor daddy di Telaga Sarangan, Magetan. Tempat wisata alternatif selain Malang. Batu, Pacet dll bagi orang Surabaya yang rindu akan udara dingin nan sejuk serta pemandangan alam yang cantik. Cukup melelahkan karena aku disuruh mengendarai mobil oleh daddy selama perjalanan menuju ke sana dan separuh perjalanan pulang ke rumah (hitungan kasarnya kurang lebih 270 km, lumayanlah nyaris setara dengan jarak utara ke selatannya Belanda (data?) he he). Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan di sana. Setibanya di sana (Sabtu sore) langsung menghadiri acara Family Day and Gathering TELKOM Kandatel Madiun, makan malam, permainan-permainan aneh, pengundian door prize, karaoke, dan tidur lelap pastinya ;). Minggu pagi berjalan-jalan mengitari telaga, ambil foto sebanyak mungkin (baik foto lansekap maupun foto narsis ;), main tenis (meskipun sebenarnya tidak bisa ha ha), makan pagi, mandi pagi, nonton televisi, tidur-tiduran, makan camilan, makan siang (aduh sudah berapa kali aku menyebutkan kata ”makan” ya? Ha ha). Sebenarnya dalam tasku ada beberapa catatan kuliah yang rencananya ingin kubaca selama di sana. Namun, rencana tinggal rencana ha ha ;)