Showing posts with label backpacking. Show all posts
Showing posts with label backpacking. Show all posts

Wednesday, December 25, 2013

Sekali Waktu Di Kota Jakarta



Bukan tanpa alasan saya memberi judul tulisan saya ini ala penulis angkatan Balai Pustaka. Semua hal yang saya alami, saksikan dan rasakan selama perjalanan terakhir saya ke Jakarta belum tentu sama dalam tahun-tahun mendatang. Jakarta yang serbadinamis akan selalu berubah dan dia akan selalu seperti itu. 

Semua ini berawal dari spontanitas saya untuk membeli tiket kereta api PP Jakarta-Surabaya. Saya telah menyelesaikan semester pertama saya sebagai residen neurologi di rumah sakit terbesar di kawasan Indonesia timur. Ada sisa beberapa minggu sebelum akhirnya saya akan berkutat dengan pelayanan pasien dan hal-hal akademis sehingga saya berpikir saya harus pergi sesaat. Awalnya saya berencana pergi ke Karimun Jawa. Namun sebab musim hujan telah tiba dan mungkin laut akan tidak tenang, saya beralih untuk pergi ke Jakarta. Awalnya saya sebenarnya tidak terlalu antusias, namun karena adanya dorongan untuk pergi saya kuatkan niat.

Jumat, 13 Desember 2013
15.00: Kereta api ekonomi AC Kertajaya membawa saya dan teman saya, orang Jakarta yang rumahnya akan saya inapi, dari stasiun Pasar Turi menuju Stasiun Tanjung Priok. Bersyukur sekali sebab saat ini pelayanan untuk KA ekonomi sudah mengalami kemajuan dibandingkan dua atau tiga tahun lalu. Tidak ada penjaja makanan dan minuman dari luar yang keluar masuk gerbong, AC cukup dingin dan kebersihan dan keamanan cukup terjaga. Tiket pun ramah di kantong mahasiswa yakni sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan. Ini tarif bersubsidi lho sebab konon tahun depan subsidi ini akan dicabut sehingga harganya akan menjadi sekitar 100 ribu sekali jalan. Satu-satunya ketidaknyamanan yang saya rasakan adalah harus berbagi gerbong dengan gerombolan anak SMA yang tiada henti berbicara dengan suara lantang satu sama lain sepanjang perjalanan. Hal ini amat mengganggu para penumpang lain yang ingin beristirahat tentunya. Belum lagi perempuan Madura di tempat duduk seberang kiri dengan kedua putrinya. Putri terkecilnya, mungkin berusia dua tahunan, terlihat amat menyebalkan. Mondar-mandir ke tempat duduk saya dan sepanjang lorong, kadang-kadang menangis tak karuan. Kasihan juga sih sebenarnya. Nampak kurang gizi: rambutnya merah, mata agak cowong. Parahnya dalam perjalanan jauh itu, si ibu hanya menyuapinya dengan se-cup P**Mie. Itu pun harus dibagi untuk mereka bertiga dan ada satu peristiwa yang saya saksikan (tidak perlu saya tulis di sini) yang membuat higienitas mie tersebut patut dipertanyakan. Meskipun demikian toh saya mampu memejamkan mata saat malam tiba.

Friday, December 17, 2010

Empati dalam Kereta Api Ekonomi




Cuaca Sabtu pagi itu cerah, secerah wajah enam sekawan yang sedang mengantri tiket di Stasiun Gubeng. Masing-masing dengan tas punggung yang tampak berat. Nyaris saja mereka tidak mendapatkan tiket kereta api tujuan Bandung.


“Sudah benar-benar habis ya mbak?”, tanya seorang dari mereka kepada petugas di kaunter tiker.

“Sebentar mbak.”, sahut si petugas sambil memencet telepon dan beberapa saat kemudian ia berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Lalu ia mengakhiri percakapan. Menyodorkan enam lembar tiket berharga 38 ribu per lembar kepada enam sekawan.

“Wah kita beruntung. Nyaris kita batal berangkat ke Bandung.”, kata si A.

“Kan sudah kubilang seharusnya kita memesan tiket sebelumnya.”, si B beropini.

“Emang bisa ya,kan kereta yang kita tumpangi ini kereta ekonomi?”, yang lain menimpali.

Pembicaraan terhenti sesaat sebab kereta api telah tiba di stasiun itu. Tergopoh-gopoh mereka mencari gerbong nomor 5 di mana mereka akan duduk sesuai dengan yang tercetak pada tiket yang telah dibeli. Mereka terlihat bingung karena nomor gerbong tidak tertera jelas di luar gerbong. Mereka nampak bertanya pada seorang petugas.

“Hei ini tempat duduk kita!”, teriak si D.

“Alhamdulillah, untung masih sepi.”, ujar si E

Mereka lalu meletakkan tas di atas tempat duduk dan menghela napas. Saling berpandangan puas. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh sekumpulan orang yang mengatakan bahwa enam sekawan itu duduk dalam gerbong yang salah.

“Ga mungkin pak, tadi saya sudah tanya sama petugasnya sendiri.”, si D dan F ngotot.

“Lho saya juga barusan diberitahu sama petugasnya!”, orang-orang tersebut tidak mau kalah.

Akhirnya enam sekawan beranjak mencari “gerbong lima”. Ketemu dan mereka duduk lagi.
Lima belas menit berlalu, kereta api tiba di stasiun Wonokromo. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh sekumpulan orang yang memegang tiket dengan nomor tempat duduk dan gerbong yang sama. Sontak silat lidah pun terjadi, untung tidak berlanjut menjadi baku hantam. Lidah-lidah kedua kubu sama-sama terasah rupanya sehingga sebagai jalan tengah enam sekawan tersebut terpaksa rela berbagi tempat duduk dengan orang-orang yang bagi mereka terlihat sebagai penyusup itu.

Enam sekawan ini berasal dari keluarga yang sebetulnya secara finansial mampu membeli tiket kereta api kelas premium. Namun berhubung mereka baru saja lulus dari sekolah kedokteran dan kebanyakan belum bisa mencari duit sendiri (he he), mereka memutuskan mencoba hal baru seperti naik kereta ekonomi ini. Yang lebih pro rakyat, seperti yang diakui kebanyakan penumpang kereta itu.

Si D berulang kali menyeka keringat yang tak kunjung berhenti mengucur dari tubuhnya. Sial, pikir si D. Kondisi gerbong itu sungguh merupakan pemandangan yang aduhai ajaib baginya. Kipas angin tak menyala, ah pantas panas sekali hawa saai itu. Penumpang, tua muda, asyik menghisap rokok. Tanpa rasa berdosa meskipun asapnya jelas-jelas mampir di muka penumpang wanita yang duduk di depan, di sebelah, atau di samping mereka. Salah satu di antaranya memutar lagu pop dari hapenya keras-keras, playlist-nya dari sejumlah band pendatang baru dengan lirik lagu yang picisan. Tampak pula sangkar burung yang disarungi kertas koran dan digantung dekat jendela. Entah apakah cara tersebut akan berhasil membuat burungnya tidak stres atau justru si burung makin frustrasi seperti halnya enam sekawan ini. Tak seorang pun dari enam sekawan itu terlibat dalam percakapan panjang dengan penumpang lain. Paling sebatas bertanya akan turun di mana si X,Y,Z atau memberikan sepotong kue kepada anak kecil yang tampak lapar. Mereka lebih asyik berbicara sendiri.

Koar-koar para pedagang asongan riuh rendah, naik turun silih berganti. Luar biasa. Mereka menjual apa saja. Makanan, minuman,mainan, hingga buku resep masakan. Satu-satunya yang menarik bagi enam sekawan ini adalah pedagang nasi pecel. Harga murah, sebatas mengganjal perut. Para pengamen dan waria tak mau kalah untuk ambil bagian. Oh ya selama perjalanan ini mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Telah terjadi kesepakatan tanpa didiskusikan. Mereka tahu risikonya jika mereka berani melakukannya. Alhasil, mereka sepakat melakukan restriksi cairan dengan membatasi cairan yang masuk serta pantang minuman berkafein, paling tidak hingga kereta tiba di Bandung pada pukul 21 seperti yang tercetak dalam tiket.

Tiba-tiba kereta berhenti di tengah hutan antah-berantah untuk kali ke sekian. Kereta ini harus mengalah, mendahulukan kereta yang harga tiketnya lebih mahal. Mungkin karena terlalu sering berhenti kereta tiba di tujuan tepat tengah malam.Mungkin pada saat hari telah berganti. Mungkin.

Ah inilah potret kita yang sebenarnya. Begitu lebar dan kentara jarak antara si kaya dan si papa. Sungguh kasihan mereka. Untuk melakukan perjalanan jauh saja mereka harus bersusah payah. Sungguh suatu perjuangan. Sulit rasanya membayangkan kondisi kereta macam ini pada saat mereka pulang ke kampung halaman pada hari raya. Tampaknya tak ada yang peduli. Mengapa mereka tidak melawan. Mengapa mereka diam dan pasrah. Tidakkah mereka menginginkan perubahan? Ah rasanya tak perlu dijawab.

Monday, November 29, 2010

Jalan-Jalan ke Bandung Euy!

Semua berawal dari ajakan seorang kawan melalui SMS. Tanpa berpikir panjang saya menyanggupi karena sudah lebih dari delapan tahun saya tidak bertandang ke sana. Kata kawan saya sih, kali ini liburannya ala backpacker gitu deh. Tapi ga parah-parah juga karena untuk penginapan, kami dibolehkan menginap di rumah salah satu famili kawan yang lain di Bandung (banyak amat ya kawan saya ha ha; kami bertujuh yang berangkat dari Surabaya) dan untuk transportasi kami mendapatkan pinjaman mobil. Jalan-jalan ke Bandung kali ini kalau dirunut kurang lebih seperti di bawah ini. Semoga menjadi inspirasi (ha ha saya kok ge-er sih ;)

21 November 2010
Pukul 06.30 WIB, kami berkumpul di Stasiun Gubeng, Surabaya. Seperti yang telah kami sepakati sebelumnya, kami naik kereta api Pasundan yang bertarif 38000 Rupiah sekali jalan. Awalnya nyaris ga dapat tiket lho, tapi ajaibnya kami dapat tempat duduk juga ;) Kereta berangkat jam 6 pagi tepat. Kami kira semua akan berjalan lancar hingga kereta api masuk Stasiun Wonokromo di mana kami sempat ribut dengan calon penumpang lain yang mengklaim memilki tiket dengan nomor tempat duduk yang sama dengan kami. Tapi kami ga mau mengalah dong. Akhirnya sebagai win-win solution, kami berbagi kursi dengan penumpang2 itu. Kebayang dong sempitnya. Penderitaan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan ha ha. Mulai dari harus terpaksa menahan kencing, bokong terasa dekubitus, ASAP ROKOK sialan, pengamen dan pedagang asongan silih berganti masuk gerbong, bencong keparat, dan kereta yang sering banget berhenti di stasiun ga penting. Ya mau gimana lagi. Tapi parahnya kami baru sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung tepat tengah malam. Bayangin dong 18 jam dalam situasi seperti itu (so hopeless). Naik kereta api ekonomi sangat dianjurkan bagi mereka yang ga bisa menahan kencing, alergi asap rokok, dan yang hidup dengan klaustrofobia.



22 November 2010
Kami ketambahan tiga teman yang bergabung yang membawa sebuah mobil untuk kami gunakan jalan-jalan. Jadi total kami ber-10. Tempat yang kami kunjungi hari ini adalah Kawah Putih, Situ Patenggang serta penangkaran rusa Ranca Upas. Semua tempat ini terletak di selatan Bandung. Dari Bandung kami melalui tol Purbaleunyi lalu keluar lewat Kopo. Dilanjutkan menuju Soreang (19 km), setelah itu Kawah Putih (22 km lagi). Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah, terutama setelah memasuki Kecamatan Ciwidey. Hamparan kebun strawberry di mana-mana, dilatarbelakangi gunung-gunung berselimut kabut dan hutan yang hijau. Setibanya di pintu masuk Kawah Putih. Kami dibuat syok oleh harga tiket mobil yang mencapai 150 ribu per mobil dan ditambah lagi tiket personal sebesar 15000 per orang. Sedangkan bila naik kendaraan yang disediakan pengelola kami harus membayar 25000 per orang. Duh pemerasan!! Berhubung sudah datang jauh-jauh kami ikhlas saja, toh biayanya juga dibagi oleh sepuluh orang. Aroma sulfur yang menusuk hidung langsung tercium begitu kami mendekati bibir kawah, tapi pemandangan alam di sekelilingnya sungguh luar biasa. Oh ya, bagi Anda yang sensitif jangan berdiam terlalu lama sebab kabut yang Anda hirup bisa mengiritasi mukosa saluran napas. Anda bisa batuk-batuk, mengalami tenggorokan perih atau gatal.
Dari Kawah Putih kami ke Situ (danau kecil) Patenggang yang katanya sih pernah dijadikan tempat syuting film Heart (yang pertama dan yang ke-2). Sempatkan berperahu menuju Batu Cinta yang terletak di pulau kecil di tengah danau (bayar lagi, duh duh duh).






















23 November 2010

The adventures begin! Pukul 04.30 kami bertolak dari Bandung menuju Kabupaten Ciamis dengan tujuan utama Pantai Pangandaran dan Sungai Cijulang (Green Canyon). Perjalanan lancar. Kami melintasi Nagrek, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis. Dan Kota Banjar, sebelum kami berbelok 80 km ke arah selatan. Tengah hari kami tiba di Pantai Pangandaran. Panas!! Setelah melihat-lihat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Cijulang. Sumpah ya di sini tuh kurang banget papan penunjuk jalan sampai kami harus tanya kepada penduduk lokal. Cijulang ditempuh kurang lebih 30 menit berkendara dari barat Pangandaran. Agar lebih mudah cari saja lapangan terbang Nusawiru. Menjelang pukul 13.00 kami tiba di depan pintu masuk Green Canyon. Biayanya dihitung per perahu yakni 75000/perahu hingga tiba di Green Canyon, jika ingin melanjutkan petualangan dengan berenang menyusuri Sungai Cijulang kita harus nambah lagi 100 ribu/perahu (bergantung kesepakatan dengan pengemudi perahu/pemandu). Duh ini mah nusuk dari belakang namanya ha ha. Tapi sumpah, obyek wisata ini harus muncul dalam daftar tempat2 yang WAJIB dikunjungi selama di Jawa Barat. It’s beyond words that we have to experience it ourselves. Sebagai bocoran kami bagi deh sedikit foto-fotonya ;)
Setelah puas berbasah-basahan, kami pulang melewati jalur Cijulang-Tasikmalaya yang sangat tidak dianjurkan sebab banyak ruas jalan yang rusak meski sebenarnya jarak tempuh lebih pendek.









24 November 2010
Tujuan kami kali ini Gunung Tangkuban Perahu - pemandian air panas Ciater - Paris van Java Shopping mall

25 November 2010
Menjelajahi pusat Kota Bandung. Museum Geologi - Gedung Sate – Museum Pos (yang spooky abis) – mencicipi yoghurt Cisangkuy – Museum Konferensi Asia-Afrika – Cihampelas Walk Mall




26 November 2010
Menjelajahi Pasar Baru (Jl. Otista) – Masjid Agung – daerah seputar Jl. Dalem Kaum – Braga Walk Mall – walking down the legendary shopping street of Braga – mencicipi Bebek Garang (10 out of 10) – beli oleh-oleh bolen khas Bandung

27 November 2010
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Dago – mencicipi yoghurt (again) dan milkshake di Bandoengsche Melk Centrale – jalan-jalan seputar ITB – kembali ke Surabaya dengan kereta api Mutiara Selatan (no more Pasundan)

Total biaya yang saya keluarkan: 1100000 Rupiah
Remarque personnelle: Bandung memang layak disebut Parijs van Java. Kota ini seperti sebuah sentuhan Eropa di tanah Jawa. Jalan-jalannya (walau sering macet dan semrawut), kafe-kafenya, butik dan FO-nya memang sungguh memikat. Orang Bandung memang punya gaya walau terkadang terlihat frustasi dengan penampilannya. Tapi mereka tetaplah the best-dressed people in the country. Satu-satunya kota besar di Indonesia yang mampu hidup selaras dengan alam, dibanggakan dan dicintai penduduknya dengan sepenuh hati, kota yang hidup dan tumbuh dari kreatifitas. Bagi Anda yang belum berkesempatan ke Paris, berkunjunglah dulu ke Bandung he he.

If you’re lucky enough to have lived in Paris as young man, then whenever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast. (Ernest Hemingway, 1950)

Monday, September 14, 2009

Backpacking On My Own to Bali

Bali, A Lost Weekender in Solitude

4-5-6 September 2009

Why not? Mungkin Anda merasa tidak punya banyak waktu dan kesempatan lagi untuk melakukannya dalam jangka waktu satu dekade ke depan. Atau Anda sekedar menginginkan melepaskan diri dari kejenuhan hidup. Atau yang lebih gila, tiba-tiba terbersit ide untuk melancong tanpa persiapan berarti (last-minute trip) seperti yang saya alami dua minggu lalu walau saya akui momennya kurang pas. Dua minggu yang lalu (masih dalam suasana bulan puasa ;) saya berakhir pekan ke Bali seorang diri, terdorong alasan harga tiket pesawat yang sedang murah (maskapainya Garuda lagi he he). Waktu itu harga tiket adalah IDR 335000 sekali jalan (sudah termasuk komisi untuk agen perjalanan yang melakukan booking). Namun saya memutuskan untuk hanya membeli tiket perjalanan pulang, sedangkan untuk perjalanan ke Bali saya menggunakan jasa travel (minibus). Saya ingin menikmati perjalanan darat Surabaya-Denpasar dengan jarak ± 336 km (ini saya hitung sendiri lho di atas peta dinding ASEAN di kamar saya) sekaligus bernostalgia mengingat terakhir kali saya menyusuri jalur ini adalah ketika mengikuti perpisahan SMP. Sebagai info saja, saya mempergunakan jasa travel Sakura yang bermarkas di Jalan Pengampon, Surabaya. Untuk nomor telepon, layanan 108 siap membantu Anda ;) Keuntungan menggunakan jasa travel adalah kita dijemput di rumah dan turun tepat di depan tujuan kita dengan biaya terjangkau. Saya membayar IDR 160000 untuk pergi ke Denpasar. Kerugiannya, mmmh menunggu dijemput dan harus sabar menunggu giliran diturunkan. Well where were we? Oh ya hari Jumat 4 September 2009 saya dijemput pukul 21.00, terlambat sejam dari waktu yang dijanjikan (blah!!). Kekesalan saya terobati saat sang sopir menyodorkan makanan kecil. Not bad at all. Kami berhenti sekali di sebuah rumah makan di Paiton, Probolinggo untuk santap malam (yang sekaligus sahur bagi saya ;).

Pukul 3.30 kami tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi dan untungnya tidak perlu repot mengantri naik ferry karena memang lalu lintas sedang sepi. Pukul 4.45 WIB kami menjejakkan kaki di Pulau Bali. Ada pemeriksaan kartu identitas (KTP) sebelum kami meninggalkan pelabuhan Gilimanuk, tapi seperti biasalah hanya sekedar formalitas. Tidak benar-benar diperiksa dengan seksama. Tiba-tiba ada rasa euforia muncul di hati saya. Entah kenapa saya menjadi begitu bahagia seolah-olah rasa rindu saya terobati. Deretan nyiur dengan pemandangan gulungan ombak yang terlihat samar-samar di kejauhan diselingi dengan sawah berundak dengan gunung-gunung yang tertutup awan... Sungguh tak terkatakan indahnya (padahal kalau saya melihat hal serupa di Jawa biasa-biasa saja tuh ;). Bali memang misterius.

Akhirnya setelah menempuh 15 jam yang terkutuk (sumpah mati gaya saya di dalam minibus!) saya diturunkan di depan gang Poppies II. Dengan perasaan cemas saya datangi satu per satu penginapan di situ. Saya sih maunya menginap di Ronta Bungalows sebab dari referensi yang saya baca dari internet ini termasuk yang paling bagus. Unfortunately it was fully occupied. Saya terus mencari yang lain sampai akhirnya berlabuh di penginapan Dua Dara yang sebenarnya menurut referensi tidak terlalu bagus. But I had no other choice, so I challenged myself to step in and ask the receptionist. Thanks God saya dapat kamar ber-AC dengan attached bath-up and shower seharga IDR 175000 sehari. Check-out time jam 12 pas. Tapi mas resepsionisnya kurang ramah, bikin dongkol hati, uh!! Saya dapat kamar nomor 44 (penting ga sih ;) Lumayan lah. Setelah meletakkan barang-barang saya bergegas ke luar, ke mana lagi kalau bukan ke Pantai Kuta yang legendaris itu. Sengatan matahari tak menyurutkan niat saya untuk berjalan-jalan sebab saya telah mengoleskan krim anti UV di kulit saya he he.

Walaupun terdengar cliché harus diakui Pantai Kuta memiliki daya tarikan yang luar biasa. Pantai berpasir putih terbentang 3,5 km dengan pemandangan luas lautan bebas. Breathtaking! I love the smell of the wind blowing from the ocean! I love its sandy shore! I love the sound of its rolling waves. Saya merasa bebas seketika! Seperti burung yang lepas dari sangkar. Saya kemudian berjalan kaki menuju Discovery shopping mall. Sumpah saya suka sekali lokasi mall ini. Bagian belakangnya langsung menghadap pantai serta lautan. Where else in Indonesia can you find such unique combination? I was impressed. Tapi dari segi isi, mall ini tidak mengalahkan Tunjungan Plaza, Surabaya (hidup TP!).

Petang menjelang maghrib bersama teman saya Sweetie (you know who you are ;) , yang kebetulan juga tengah berlibur di sana, and her boy telah berada di Pura Uluwatu untuk menyaksikan pertunjukan tari kecak tentang kisah Ramayana dengan admission fee sebesar IDR 50000. Sebelumnya kami berkesempatan menikmati pemandangan matahari terbenam dari Pura Uluwatu. Subhanallah... That was OBVIOUSLY THE MOST STUNNING, PICTURESQUE, AND BREATHTAKING SUNSET I HAD EVER WITNESSED IN MY ENTIRE LIFE. Underline that!! How would I ever forget the moment I saw that crimson sky dispersing the golden rays on the surface of the ocean. I was about to shed a tear. I was so happy and thankful I was there!! Thanks God. Tapi hidup harus berlanjut, begitupun pertunjukan tari kecak yang dirancang oleh sanggar tari dan tabuh Karang Boma Desa Pecatu. Untuk kali pertama saya melihatnya secara langsung.

Kecak adalah jenis tarian Bali yang paling unik, Kecak tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Tetapi dia diiringi oleh paduan suara sekitar 70 orang pria. Dia berasal dari jenis tari sakral "Sang Hyang". Pada tari Sang Hyang seorang yang sedang kemasukan roh berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabdanya. Malamnya kami bersantap malam di Papa Ron's Pizza Parlour (penting ga sih ;) Mmmh yummy banget. Sebenarnya malam itu saya berencana jalan-jalan di kawasan Legian, tapi berhubung saya sangat lelah rencana tinggal rencana he he.

Esok hari sekaligus hari terakhir berhubung saya tidak sahur karena baru bangun jam 6 pagi ;) saya jadi malas ke mana-mana. Akhirnya cuma berjalan-jalan pagi dan duduk-duduk santai di Pantai Kuta (but it was worth!),window shopping (kasihan deh gue ;) di Kuta Square lalu balik ke penginapan untuk mandi dan persiapan check out. Setelah itu mampir di sebuah bookshop untuk membeli novel bekas bahasa asing dan saya memilih membeli sebuah novel berbahasa Norwegia "Helt på Tur", lumayanlah untuk menambah vocab ;). Lalu saya pergi ke Monumen Ground Zero untuk mengambil gambar dan langsung menuju pabrik kata-kata (you know what ;). Puas berbelanja langsung naik OJEK ke pelabuhan udara Ngurah Rai dan menunggu lima jam hingga pukul 19.00. That was my flight! End of story. Overall, liburan saya kali ini cukup berkesan karena saya seorang diri and I've never done such thing once before. Banyak pengalaman baru and that was the reward for the challenge I took. Semoga Bali akan selalu aman sehingga para turis asing tidak akan ketakutan sehingga mereka akan berlibur lebih lama dan semakin banyak devisa yang bisa kita ekstraksi dari mereka he he ;)