Wednesday, November 10, 2010

Cuci Piring Setelah Makan

Just got the copy of Hidayatullah magazine’s November edition (it’s an Islamic magazine with the largest circulation in the country) yesterday and got hooked on a great and inspiring article in it. It tells us simply about how to nurture the responsiblity from the early age. The article is sent by Mrs. Ida S. Widayanti, an author, thanks to her for the cool contribution. Here we go. Bonne lecture!

Cuci Piring Setelah Makan
Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang mencari guru terbaik di negerinya. Ia mendengar bahwa guru yang paling hebat tinggal di sebuah tempat yang jauh dan sulit untuk ditempuh. Karena tekadnya sudah sangat kuat, maka berangkatlah pemuda ini dengan membawa perbekalan secukupnya.

Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah sang pemuda di tempat sang guru.

“Apa yang membuatmu tiba di tempat ini, anak muda?” tanya sang guru.

“Saya ingin berguru agar saya menjadi orang yang arif dan bijaksana serta menjadi seorang pemimpin masyarakat.”

“Baiklah, sebelum saya bisa menerimamu, saya ingin bertanya, apakah engkau mencuci piring bekas sarapanmu tadi pagi?”

“Tentu saja tidak sempat, Guru. Berangkat ke sini bagi saya merupakan hal yang sangat penting, jangan sampai terganggu oleh hal yang sepele.”

“Kamu salah, sekarang pulanglah dulu. Cucilah piringmu dulu! Bagaimana mungkin engkau bisa jadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negeri, sedangkan engkau tidak bertanggung jawab terhadap barang yang telah engkau pergunakan.”

Kisah di atas memberi pelajaran yang penting. Kita kerap menginginkan anak atau siswa kelak menjadi seorang pemimpin hebat yang berguna bagi bangsa dan masyarakat, namun tidak membangun sifat tanggung jawab itu dari hal-hal kecil dan dari dalam dirinya sendiri.

Lihatlah fenomena keluarga zaman sekarang. Jika sedang ada acara kumpul dengan keluarga besar, misalnya saat hari raya Idul Fitri, maka para ibunyalah yang sibuk, mulai memasak makanan,mencuci piring, gelas-gelas bekas keluarga dan tamu, sampai mencucikan baju. Sedang anak-anak dari yang masih kecil hingga remaja cenderung hanya bersenang-senang, bermain, dan bersantai-santai.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, yang mana orang tua sangat melibatkan anak-anak dalam kegiatan rumah tangga. Sehingga sifat tanggung jawab dan kemandirian anak tumbuh. Di beberapa daerah mungkin fenomena tersebut masih tampak, namun di masyarakat perkotaan sudah hampir luntur. Anak-anak hanya dibangun kemampuan kognitifnya dengan belajar aspek akademis semata, sedangkan kemandirian kurang dibangun karena mengandalkan pembantu rumah tangga (PRT).

Di negara-negara Barat, di mana gaji pegawai domestik sangat tinggi, jarang ada keluarga yang memperkerjakan PRT. Walhasil, anak-anak sudah dilatih kemandirian sejak dini. Beberapa sekolah memberikan pelajaran home carrier , agar siswa-siswi profesional dalam mengelola pekerjaan rumah tangga. Mereka belajar bagaimana memasak praktis dan bergizi, mengatur lemari pakaian untuk empat musim, membersihkan rumah, juga mengatur barang-barang di gudang.

Di sebuah sekolah usia dini, saat bermain bebas disediakan berbagai alat permainan, di antaranya: tempat mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan mobil, memandikan bayi, dan lain-lain. Anak-anak usia 2-3 tahun pun dengan senang dan serius melakukan kegiatannya. Mungkin terlihat sepele, namun sangat penting untuk kehidupan masa depan mereka.

No comments: