Monday, January 21, 2013

Le grand voyage à Bandung

La ville de Bandung est la capitale et la plus grande ville en Java Ouest. Elle est située géographiquement dans une vaste valée donc on y aperçoit qu'elle est entourée dans toutes les directions par les montagnes couvertes de brouillard tout le temps. C'était pour toute la première fois que j'y ai voyagé en avion. Il a fallu une heure et quelques minutes pour faire Surabaya-Bandung. Il faisait très beau au moment où nous nous sommes envolée de l'aéroport de Surabaya, mais il y avait des nuages noires en voie d'atterissage à l'aéroport de Bandung. J'ai appris tout à fait que celui de Bandung est trop petit pour qu'on puisse l'appeler un aéroport international. Il manque des éléments nécessasires tels que les ponts aériens, des tapis roulants appropriés, les toilettes propres etc. Il se trouve dans un quartier si peuplé à l'ouest de la ville et on a de l'avantage de n'avoir besoin que 5 minutes pour arriver au centre-ville (à condition qu'il n'y ait pas de bouchons). La ville n'a qu'un petit nombre des gratte-ciels donc ça nous permet de jouir de la beauté des montagnes lointants.

Le chauffaeur de taxi nous a conduits à l'hôtel Grand Panghegar où nous sommes restés durant notre séjour. Cet hôtel 4 étoiles se trouvait confortablement au bout sud de la rue Merdeka duquel le centre historique de Bandung est à quelques minutes de marche. Notre chambre était au 10e étage qui nous offrait une vue sur les lumières de la ville quand la nuit tombait. Quelle chambre idyllique! Après s'être détendu en certaines minutes, on a continué notre aventure au parc d'attractions en salle de trans studio. Il s'y trouvait pas mal d'attractions qui étaient remarquablement similaires à ceux du premier trans studio de Makassar en Célèbes-Sud. A mon avis il n'y avait qu'un où deux attractions qui valaient la peine, à savoir Vertigo et Giant Swing. Vous allez avoir des nausées et des vertiges après un essai, je peux vous garantir. Malheureusement je ne voyais pas l'interêt d'y plus longtemps rester hormis mes parents et mon petit frère. L'après-midi on est retounés à l'hôtel pour faire la sieste. On a passé le soir à faire du petit shopping dans un "factory outlet" Rumah Mode. Chez les français, ça s'appelle peut-être un magasin d'usine. Selon le wikipedia il se définisse comme étant «un magasin qui vend directement des produits du fabricant au consommateur. Le but est d'écouler des surstocks, fins de série et articles de second choix ou présentant des défauts». En fait, faire du shopping est l'un des meilleurs moyens de très bien s'amuser à Bandung en dehors de sa gastronomie pour laquelle la ville est fameuse. 

Le deuxième jour de l'escapade, on se mettait à faire plus de shopping dès qu'on a fini le petit-déjeuner. Au commencement, on s'est décidés à partir en longue promenade le long de la rue Braga, Asia-Afrika jusqu'à la place de la ville et puis tourner vers la rue Otista pour visiter Pasar Baru (le marché neuf). Là, chacun de nous a pris son chemin pour trouver ce qu'on avait désiré. Tout est en vente ici, à tous les prix et dans un grand choix de couleurs. On prenait un taxi après pour aller aux magasins d'usine dans la rue Riau. On y a visité seulement deux, à savoir the Heritage et the Cascade (qui est situé juste à côté de celui-là). Cela a été une sage décision de dépenser de mon argent là, ce dont on avait besoin étaient en vue. Ces deux magasins d'usine sont parmi les meilleurs en ville. Bandung a vraiment la tendance à faire quelqu'un en accro du shopping, soutenu par la culture locale largement repandue que l'apparition physique est tout devant quoi qu'il arrive. En bref, Bandung est une destination touristique très recommendée aux gourmandes aussi que à ceux qui veulent toujours se mettre à jour par rapport à la mode contemporain.

Wednesday, December 26, 2012

Jasmerah, Menguak Asal-Muasal Kata Rumah Sakit



   Setelah membaca tulisan seorang guru dalam segmen “Gagasan” dalam harian Jawa Pos edisi Selasa, 25 Desember 2012, saya tergelitik sekaligus berharap semoga sang penggagas ini bukan guru bahasa Indonesia ataupun bahasa yang lain. Menurut hemat saya tidak ada yang salah dalam penamaan “rumah sakit”. Bahasa Indonesia secara politik adalah bahasa yang masih muda (dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 1928) dan dalam awal perkembangannnya ia masih sangat dipengaruhi oleh bahasa penjajah, Bahasa Belanda. Bahasa Indonesia menyerap banyak kata Belanda dan salah satu cara penyerapan kata adalah dengan penerjemahan kata per kata secara harfiah. Kata “rumah sakit” adalah terjemahan langsung dari kata Belanda “ziekenhuis”. Begitu pula kata “kebun binatang” dan “lapangan terbang” yang masing-masing diserap dari kata Belanda “dierentuin”dan “vliegveld”. Bahkan hingga saat ini “rumah sakit” adalah kata umum yang digunakan untuk merujuk pada institusi yang secara khusus merawat orang-orang sakit di negara-negara dengan bahasa resmi yang berakar pada rumpun bahasa Jermanik. Di Jerman ia disebut “Krankenhaus”. Di Norwegia, Denmark dan Swedia ia disebut “sykehus”, “sygehus” dan “sjukhus”. Berbeda dengan padanannya dalam bahasa Inggris “hospital” yang diambil dari  Bahasa Latin melalui perantaraan Bahasa Prancis. Tentunya belum lekang dari memori kita bahwa dulu Surabaya memiliki rumah sakit termasyur yang bernama “Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ)” alias Rumah Sakit Simpang. Inilah contoh nyata bahwa “rumah sakit” benar adanya adalah serapan dari “ziekenhuis”. Namun dengan dirobohkannya rumah sakit ini dan pengindonesiaan nama institusi ditambah pengajaran Bahasa Belanda yang terhenti, orang sulit menemukan keterkaitan antara kedua kata tersebut. Menjadi wajar bila sampai ada orang yang mencetuskan agar  “rumah sakit” diubah menjadi “rumah sehat”. Dalam hemat saya, biarlah kata “rumah sakit” begitu adanya sebagai bagian dari sejarah perkembangan bahasa nasional kita. (fleursdemal)

Friday, July 6, 2012

Another Lesson Learned

Teringat perkataan salah seorang TS dokter saraf saat masa internship dulu bahwa kehidupan seorang residen tak ubahnya seperti kehidupan selebriti. Terkesan glamour, gagah, keren. Bisa dimaklumi sebab kebanyakan usia residen berkisar di atas 25 mendekati awal 30-an di mana gairah hidup mengejar masa depan sedang menggebu-gebu. Begitu pula gairah menuntut ilmu dan berkompetisi. Yah bisa dibayangkan lah wong saat pengumuman penerimaan residen saja sudah amat menghebohkan dan menaikkan citra diri setingkat lebih tinggi hehe. Tapi saya yakin ujian sebenarnya baru akan datang saat kita sudah benar-benar terjun dalam pendidikan spesialisasi yang kita pilih. Semoga saat diterima menjadi residen nanti saya tetap bisa menjadi diri saya seperti sekarang. Semoga ke depannya bisa mengamalkan ilmu padi. Pada prinsipnya kebahagiaan saat dinyatakan lulus sebagai spesialis adalah jauh lebih indah daripada kebahagiaan saat dinyatakan diterima menjadi residen. Tidak terlalu berbangga diri dan selalu bersungguh-sungguh mencari ilmu sekaligus menjadikan diri sebagai pribadi yang unggul selama proses tersebut. Dan tentunya jangan sampai kena DO donk hehe. Semoga.

posted from Bloggeroid

Wednesday, July 4, 2012

Karena Saya Muslim

Tidak jarang saya belajar tentang kehidupan juga dari para pasien. Seperti hari ini ketika saya menerima seorang pasien di ruang pelayanan tempat saya bekerja. Seorang pria berusia 30 tahunan datang meminta surat keterangan sehat untuk keperluan pekerjaannya. Saya layani. Di akhir pelayanan iseng-iseng seorang ibu perawat bertanya kepadanya, "Bapak merokok?". "Tidak bu.", balas pasien tersebut. "Sungguh?", ibu perawat mencoba menkonfirmasi. "Betul bu, sejak sekolah dulu sampai sekarang saya tidak pernah merokok, saya juga jarang jajan (maksud pasien ini dia jarang membeli makan di warung-warung)". "Lho jajan apa dan di mana ini pak?", tanya bu perawat setengah bercanda. Sepertinya ibu perawat betul-betul penasaran apakah pasien ini pernah melakukan "jajan" itu. Kemudian pasien menjawab, "Tidak bu, saya orang muslim". Seketika itu juga saya seperti ingin menumpahkan air mata. Subhanallah. Sungguh luar biasa jawaban pasien ini. Baru kali ini saya menyaksikan secara langsung orang yang begitu bangga dan sadar atas identitas keislamannya. Tidak sekedar bangga, namun dia seakan memahami arti dari menyandang status sebagai seorang muslim. Sungguh sebuah pelajaran yang tidak setiap hari saya dapatkan.

posted from Bloggeroid

Sunday, July 1, 2012

Anatomi

Jika kebetulan ada anak kedokteran tahun pertama belajar bahasa Prancis dengan alasan agar lebih mudah mempelajari nama-nama Latin saat kuliah anatomi, agaknya alasan ini harus dipertanyakan. Bahasa Prancis memang turunan bahasa Latin, tapi sudah mengalami banyak perubahan seiring berjalannya waktu. Untuk memudahkan Anda memahami apa yang saya kemukakan di atas, silakan melihat contoh-contoh berikut. Saya berikan versi Latin dan Prancis serta artinya dalam bahasa Indonesia.
Corpus > corps (tubuh, badan)
Caput > tête (kepala, diambil dari sumber non-Latin)
Cerebrum > cerveau (otak besar)
Oculi > œil (mata)
Nasi > nez (hidung)
Buccal > bouche (mulut)
Lingua > langue (lidah)
Dentes > dent[s] (gigi)
Colli > cou (leher)
Costae > côte (rusuk)
Brachium > bras (lengan atas)
Cor > cœur (jantung)
Pulmo > poumon (paru)
Hepar > foie (hati)
Manus > main (tangan)
Digiti > doigt (jari)
Ungula > ongle (kuku)
Pedis > pied (kaki)
Genu > genou (lutut)

Terlihat ada perubahan yang drastis. Tapi paling tidak masih ada kemiripan. Dan kemiripan ini yang mungkin dapat membantu. Yang jelas pelajaran anatomi memang super sulit.

posted from Bloggeroid

Hati

Hati yang mudah berbelok kepada jalan-Mu
Hati yang luluh saat mendengar nama-Mu
Hati yang menangis saat menyaksikan kebesaran-Mu
Hati yang berderai pilu merasakan penderitaan saudara kami yang tertindas di muka bumi
Walau hati ini tiadalah seputih salju
Hati yang menyeru untuk tidak menuhankan akal
Sekalipun dahsyat dan halus rayuan para penista-Mu
Hati yang lembut kepada sang papa
Hati yang mampu membedakan baik dari cela
Hati dari makhluk-Mu yang lebih kecil dari kecil
Di hadap-Mu ya Allah
Hati dari seorang pendosa yang mengemis tuntunan-Mu

posted from Bloggeroid