Friday, July 6, 2012

Another Lesson Learned

Teringat perkataan salah seorang TS dokter saraf saat masa internship dulu bahwa kehidupan seorang residen tak ubahnya seperti kehidupan selebriti. Terkesan glamour, gagah, keren. Bisa dimaklumi sebab kebanyakan usia residen berkisar di atas 25 mendekati awal 30-an di mana gairah hidup mengejar masa depan sedang menggebu-gebu. Begitu pula gairah menuntut ilmu dan berkompetisi. Yah bisa dibayangkan lah wong saat pengumuman penerimaan residen saja sudah amat menghebohkan dan menaikkan citra diri setingkat lebih tinggi hehe. Tapi saya yakin ujian sebenarnya baru akan datang saat kita sudah benar-benar terjun dalam pendidikan spesialisasi yang kita pilih. Semoga saat diterima menjadi residen nanti saya tetap bisa menjadi diri saya seperti sekarang. Semoga ke depannya bisa mengamalkan ilmu padi. Pada prinsipnya kebahagiaan saat dinyatakan lulus sebagai spesialis adalah jauh lebih indah daripada kebahagiaan saat dinyatakan diterima menjadi residen. Tidak terlalu berbangga diri dan selalu bersungguh-sungguh mencari ilmu sekaligus menjadikan diri sebagai pribadi yang unggul selama proses tersebut. Dan tentunya jangan sampai kena DO donk hehe. Semoga.

posted from Bloggeroid

Wednesday, July 4, 2012

Karena Saya Muslim

Tidak jarang saya belajar tentang kehidupan juga dari para pasien. Seperti hari ini ketika saya menerima seorang pasien di ruang pelayanan tempat saya bekerja. Seorang pria berusia 30 tahunan datang meminta surat keterangan sehat untuk keperluan pekerjaannya. Saya layani. Di akhir pelayanan iseng-iseng seorang ibu perawat bertanya kepadanya, "Bapak merokok?". "Tidak bu.", balas pasien tersebut. "Sungguh?", ibu perawat mencoba menkonfirmasi. "Betul bu, sejak sekolah dulu sampai sekarang saya tidak pernah merokok, saya juga jarang jajan (maksud pasien ini dia jarang membeli makan di warung-warung)". "Lho jajan apa dan di mana ini pak?", tanya bu perawat setengah bercanda. Sepertinya ibu perawat betul-betul penasaran apakah pasien ini pernah melakukan "jajan" itu. Kemudian pasien menjawab, "Tidak bu, saya orang muslim". Seketika itu juga saya seperti ingin menumpahkan air mata. Subhanallah. Sungguh luar biasa jawaban pasien ini. Baru kali ini saya menyaksikan secara langsung orang yang begitu bangga dan sadar atas identitas keislamannya. Tidak sekedar bangga, namun dia seakan memahami arti dari menyandang status sebagai seorang muslim. Sungguh sebuah pelajaran yang tidak setiap hari saya dapatkan.

posted from Bloggeroid

Sunday, July 1, 2012

Anatomi

Jika kebetulan ada anak kedokteran tahun pertama belajar bahasa Prancis dengan alasan agar lebih mudah mempelajari nama-nama Latin saat kuliah anatomi, agaknya alasan ini harus dipertanyakan. Bahasa Prancis memang turunan bahasa Latin, tapi sudah mengalami banyak perubahan seiring berjalannya waktu. Untuk memudahkan Anda memahami apa yang saya kemukakan di atas, silakan melihat contoh-contoh berikut. Saya berikan versi Latin dan Prancis serta artinya dalam bahasa Indonesia.
Corpus > corps (tubuh, badan)
Caput > tête (kepala, diambil dari sumber non-Latin)
Cerebrum > cerveau (otak besar)
Oculi > œil (mata)
Nasi > nez (hidung)
Buccal > bouche (mulut)
Lingua > langue (lidah)
Dentes > dent[s] (gigi)
Colli > cou (leher)
Costae > côte (rusuk)
Brachium > bras (lengan atas)
Cor > cœur (jantung)
Pulmo > poumon (paru)
Hepar > foie (hati)
Manus > main (tangan)
Digiti > doigt (jari)
Ungula > ongle (kuku)
Pedis > pied (kaki)
Genu > genou (lutut)

Terlihat ada perubahan yang drastis. Tapi paling tidak masih ada kemiripan. Dan kemiripan ini yang mungkin dapat membantu. Yang jelas pelajaran anatomi memang super sulit.

posted from Bloggeroid

Hati

Hati yang mudah berbelok kepada jalan-Mu
Hati yang luluh saat mendengar nama-Mu
Hati yang menangis saat menyaksikan kebesaran-Mu
Hati yang berderai pilu merasakan penderitaan saudara kami yang tertindas di muka bumi
Walau hati ini tiadalah seputih salju
Hati yang menyeru untuk tidak menuhankan akal
Sekalipun dahsyat dan halus rayuan para penista-Mu
Hati yang lembut kepada sang papa
Hati yang mampu membedakan baik dari cela
Hati dari makhluk-Mu yang lebih kecil dari kecil
Di hadap-Mu ya Allah
Hati dari seorang pendosa yang mengemis tuntunan-Mu

posted from Bloggeroid

Friday, June 8, 2012

Yes I'm A Proud Learner of French

Perkenalan pertama saya dengan bahasa Prancis dimulai sekitar tahun 2009. Saat itu entah mengapa saya menjadi begitu sangat tertarik mempelajarinya. Padahal asal tahu saja sebelumnya saya termasuk golongan orang yang anti dengan negara Prancis. Menurut saya Prancis itu negara yang rasis dan diskriminatif terhadap umat Islam yang merupakan kaum minoritas di sana. Saya dulu mungkin orang yang sangat mencemooh bahasa Prancis. Saya benci cara orang Prancis berbicara yang bagi saya sangat idiot dan seperti orang yang baru saja mengalami serangan stroke. Tak pernah sekalipun terbersit mimpi terpendam untuk bisa berkunjung ke Paris suatu saat nanti. Saya tak pernah tertarik untuk lebih mengenal masakan Prancis. Intinya Prancis seakan tidak pernah ada dalam kamus saya. Namun saya seperti terkena karma. Perlahan-lahan sedikit banyak saya mulai mengenal Prancis setelah membaca novel Edensor (salahkan Andrea Hirata :-P). Novel yang telah berhasil membangkitkan imajinasi saya lebih jauh mengenai Eropa. Hal ini "diperparah" setelah saya mulai mencoba mendengarkan album pertama Anggun versi bahasa Prancis "Au nom la lune" (Atas Nama Bulan). Awalnya saya membeli kaset album pertama Anggun "Snow on The Sahara" dan kebetulan di dalamnya ada sisipan lagu berbahasa Prancis "Au nom de la lune" tadi. Dari situ saya mulai tertarik mempelajari bahasa Prancis. Saat itu saya berpikir jikalau Anggun yang dengan anggun dapat berbahasa Prancis, mengapa saya tidak. Apalagi saya sebelumnya sudah memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lumayan. Memang saya sempat mendengar bahwa bahasa Prancis meminjamkan begitu banyak kata ke dalam bahasa Inggris sehingga saya mungkin tidak akan menemukan banyak kendala dalam hal kosakata. 

Kendala pertama yang saya hadapi dalam belajar bahasa Prancis adalah pengucapan. Bahasa Prancis memiliki banyak bunyi yany tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Pengucapannya terasa begitu lumer sebab bahasa Prancis jarang menggunakan konsonan (bahkan kadang-kadang tidak diucapkan) dan sangat kaya akan huruf hidup. Jika bahasa Indonesia hanya memiliki lima huruf hidup, bahasa Prancis punya 16 huruf hidup. Belum lagi ditambah huruf-huruf hidup yang disengaukan (nasalized vowels). Memang bila dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain yang diturunkan dari bahasa Latin seperti bahasa Spanyol, Italia, Portugis dll, bahasa Prancis adalah yang paling drastis perubahannya baik dari segi leksikal maupun fonologi. Konsonan benar-benar sangat tereduksi dan umumnya semakin kaya suatu bahasa akan huruf-huruf hidup makin cepat dia berubah. Namun sesulit apapun pengucapan bahasa Prancis tetap ada pola-pola yang tetap membuatnya bisa dikuasai dengan baik. Kasus ini berbeda dengan bahasa Denmark yang begitu rumit pengucapannya. Awalnya saya sempat putus asa dengan diri saya yang tidak kunjung bisa menguasai pengucapan Prancis, namun lama-lama terasa mudah begitu terbiasa dengan aturan-aturannya. Selain itu saya juga memulai mempelajari tata bahasanya. Saya optimis saja sebab saya percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa orang tidak akan pernah bisa menguasai bahasa asing sebelum dia mampu menguasai bahasa ibunya sendiri. Untungnya nilai bahasa Jawa dan Indonesia saya tidak pernah mengecewakan saat di bangku sekolah. Dan percayalah jika kita sudah mahir bahasa Inggris, tata bahasa Prancis tidak jauh berbeda. Malah dalam beberapa aspek mirip bahasa Jawa atau Indonesia seperti aturan kata sifat diletakkan setelah kata benda dsb. Dan ada yang mirip dengan bahasa Jerman (untungnya saya sempat ikut ekstrakurikuler bahasa Jerman saat SMA) seperti pembagian kata benda ke dalam beberapa jenis kelamin (untung hanya ada dua dalam bahasa Prancis) serta inversi kata kerja saat membentuk kalimat tanya, juga penggunaan passé composé yang sangat identik dengan tata bahasa Jerman. 

Monday, June 4, 2012

Travelling to Singapore


232425 Maret 2012

At a corner of a street in a quarter with European flavor 
Akhirnya kesempatan itu datang juga untuk menikmati liburan akhir pekan di Singapura, negara jiran tercinta (blah). Tiga hari dua malam cukup lah untuk berehat sejenak dari kepenatan kerja. Rencana kami kali ini adalah mengunjungi Pulau Batam lalu menyeberang ke Singapura dengan mempergunakan ferry. Seperti biasa juga kami mempergunakan jasa travel agent untuk mengatur semuanya dalam perjalanan ini, kecuali pembelian tiket pesawat yang diurus bapak. Saya? Tinggal pasang badan (shame on me). Kami naik pesawat penerbangan pagi dengan rute Surabaya-Jakarta-Batam. Pertama kalinya mengalami naik pesawat dengan transit yang ternyata menjengkelkan. Menjelang tengah hari tiba di Bandara Hang Nadim, Batam. Salah satu bandara yang memiliki landasan pacu terpanjang di Indonesia. Saya tidak terkesan dengan kondisi bangunan bandara ini. Lalu kami naik taksi menuju hotel tempat kami menginap yaitu Nagoya Plasa yang terletak tepat di area pusat bisnis Batam. Kemudian dengan naik bus kami dibawa ke arah selatan menuju area bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Kawasan metropolitan Batam berdiri di atas tiga pulai utama yaitu Batam-Rempang-Galang yang satu sama lain dihubungkan dengan jembatan berjumlah enam buah yang masing-masing dinamai dengan nama sultan-sultan kerajaan Melayu Riau. Cukup jauh perjalanan menuju P.Galang. Tidak banyak yang tersisa dari bekas kamp pengungsi Vietnam. Untuk mengenang keberadaan mereka didirikanlah museum kecil ala kadarnya dan bekas perahu yang dulu dipergunakan untuk membelah lautan. Asal tahu saja perahu mereka tanpa mesin, jadi usaha mereka untuk mencari tempat suaka di luar Vietnam guna menghindari perang saudara juga bukan tanpa bahaya. Hikmahnya? Saat ini orang-orang Vietnam mudah ditemui di mana saja di Eropa dan Amerika. Tak heran bila masakan Vietnam lebih dikenal daripada masakan Indonesia di luar negeri. 

Setelah itu kami menikmati keindahan matahari terbenam di restoran Harbour Bay. Inilah salah satu kelebihan kota-kota di luar Jawa di mana pelabuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Buktinya orang dengan nyaman makan sambil menikmati sejuknya angin laut serta kapal-kapal yang bersandar maupun yang lalu lalang. Pengalaman yang serupa juga saya rasakan saat berlibur di Makassar. Malam harinya kami jalan-jalan di Mall Nagoya Hill yang terletak persis di belakang hotel tempat menginap kami. Barang elektronik yang dijual di sini belum tentu lebih murah daripada di Jawa (blah). 

Esok pagi-pagi buta kami bertolak dari hotel untuk mengejar ferry di Pelabuhan Batam Center. Perjalanan dengan ferry ke Singapura memakan waktu satu jam sebelum kami bersandar di Harbour Front. Kami sudah ditunggu oleh guide kami orang Singapura yang pandai berbahasa Mandarin (she’s of Chinese descendant) dan bahasa Indonesia tentunya. Sebut saja KD namanya. Tujuan pertama adalah kawasan sekitar muara Sungai Singapura, dengan landmark yang sudah terkenal seperti Lapangan Rafles, Jembatan Anderson, Esplanade, Merlion, Marina, Eye of Singapore. Tempat yang sangat bagus untuk mengambil foto sebab urban landscape-nya sangat tertata apik. Sepertinya tidak ada sejengkal tanah pun di Singapura yang luput dari pengawasan pemerintahnya. Tanah sangat berharga. Oleh sebab itu penduduknya tinggal di flat. Kata bu KD ciri-ciri gedung flat di sini adalah terdapat jemuran di luar jendelanya hehe. Dari sini kami dibawa ke daerah Chinatown, mengunjungi galeri coklat, kuil Budha, pasar oleh-oleh di mana gantungan kunci khas Singapura bisa dibeli haha. Makan siang di resto yang menyediakan menu buffet Mongolia yang absurd. Setelah itu ke Little India untuk solat dan mengunjungi Mustafa Center. Para penggemar coklat dan makanan manis wajb datang ke lantai dua tempat ini. Coklat impor berbagai negara ada di sini. Saya tergiur membeli coklat batangan dari Swiss, Australia dan Prancis (yang semuanya saya yakin kakaonya diimpor dari Amerika Selatan dan Indonesia). Sempat juga ke Orchard Rd. dan hanya diberi waktu 45 menit untuk berkeliling (Damn this is why sometimes I detest any organised tours!). Frustrasi mencari H & M store. Baru ketemu setengah jam kemudian. Dengan berat hati mengurungkan niat masuk ke dalamnya (blah). Setelah itu mampir sebentar ke Sentosa demi berfoto di depan bola dunia Universal Studio (sumpah absurd) dan kemudian kembali ke Harbour Front dan mengejar ferry ke Batam. Hari terakhir di Batam kami isi dengan berbelanja oleh-oleh khas Batam (saya rekomendasikan kue bingka dan kek pisang Villa rasa pandan bertabur parutan keju di atasnya), mencoba martabak Har (yummy), sate Padang (yang sausnya berasa asin absurd) dan berbelanja untuk diri sendiri pastinya. Sorenya mengejar pesawat untuk balik ke Surabaya dengan maskapai yang sama. Sekiranya kami tiba di rumah jam 21.00 tetapi karena ada keterlambatan masing-masing selama 1,5 jam di Batam dan Jakarta kami sampai di rumah menjelang tengah malam. Hikmah? Pilihlah penerbangan langsung jika memungkinkan daripada berabsurd ria dengan penerbangan dengan transit.