Friday, December 17, 2010

Empati dalam Kereta Api Ekonomi




Cuaca Sabtu pagi itu cerah, secerah wajah enam sekawan yang sedang mengantri tiket di Stasiun Gubeng. Masing-masing dengan tas punggung yang tampak berat. Nyaris saja mereka tidak mendapatkan tiket kereta api tujuan Bandung.


“Sudah benar-benar habis ya mbak?”, tanya seorang dari mereka kepada petugas di kaunter tiker.

“Sebentar mbak.”, sahut si petugas sambil memencet telepon dan beberapa saat kemudian ia berbicara dengan seseorang di ujung telepon. Lalu ia mengakhiri percakapan. Menyodorkan enam lembar tiket berharga 38 ribu per lembar kepada enam sekawan.

“Wah kita beruntung. Nyaris kita batal berangkat ke Bandung.”, kata si A.

“Kan sudah kubilang seharusnya kita memesan tiket sebelumnya.”, si B beropini.

“Emang bisa ya,kan kereta yang kita tumpangi ini kereta ekonomi?”, yang lain menimpali.

Pembicaraan terhenti sesaat sebab kereta api telah tiba di stasiun itu. Tergopoh-gopoh mereka mencari gerbong nomor 5 di mana mereka akan duduk sesuai dengan yang tercetak pada tiket yang telah dibeli. Mereka terlihat bingung karena nomor gerbong tidak tertera jelas di luar gerbong. Mereka nampak bertanya pada seorang petugas.

“Hei ini tempat duduk kita!”, teriak si D.

“Alhamdulillah, untung masih sepi.”, ujar si E

Mereka lalu meletakkan tas di atas tempat duduk dan menghela napas. Saling berpandangan puas. Namun tiba-tiba ketenangan itu terusik oleh sekumpulan orang yang mengatakan bahwa enam sekawan itu duduk dalam gerbong yang salah.

“Ga mungkin pak, tadi saya sudah tanya sama petugasnya sendiri.”, si D dan F ngotot.

“Lho saya juga barusan diberitahu sama petugasnya!”, orang-orang tersebut tidak mau kalah.

Akhirnya enam sekawan beranjak mencari “gerbong lima”. Ketemu dan mereka duduk lagi.
Lima belas menit berlalu, kereta api tiba di stasiun Wonokromo. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh sekumpulan orang yang memegang tiket dengan nomor tempat duduk dan gerbong yang sama. Sontak silat lidah pun terjadi, untung tidak berlanjut menjadi baku hantam. Lidah-lidah kedua kubu sama-sama terasah rupanya sehingga sebagai jalan tengah enam sekawan tersebut terpaksa rela berbagi tempat duduk dengan orang-orang yang bagi mereka terlihat sebagai penyusup itu.

Enam sekawan ini berasal dari keluarga yang sebetulnya secara finansial mampu membeli tiket kereta api kelas premium. Namun berhubung mereka baru saja lulus dari sekolah kedokteran dan kebanyakan belum bisa mencari duit sendiri (he he), mereka memutuskan mencoba hal baru seperti naik kereta ekonomi ini. Yang lebih pro rakyat, seperti yang diakui kebanyakan penumpang kereta itu.

Si D berulang kali menyeka keringat yang tak kunjung berhenti mengucur dari tubuhnya. Sial, pikir si D. Kondisi gerbong itu sungguh merupakan pemandangan yang aduhai ajaib baginya. Kipas angin tak menyala, ah pantas panas sekali hawa saai itu. Penumpang, tua muda, asyik menghisap rokok. Tanpa rasa berdosa meskipun asapnya jelas-jelas mampir di muka penumpang wanita yang duduk di depan, di sebelah, atau di samping mereka. Salah satu di antaranya memutar lagu pop dari hapenya keras-keras, playlist-nya dari sejumlah band pendatang baru dengan lirik lagu yang picisan. Tampak pula sangkar burung yang disarungi kertas koran dan digantung dekat jendela. Entah apakah cara tersebut akan berhasil membuat burungnya tidak stres atau justru si burung makin frustrasi seperti halnya enam sekawan ini. Tak seorang pun dari enam sekawan itu terlibat dalam percakapan panjang dengan penumpang lain. Paling sebatas bertanya akan turun di mana si X,Y,Z atau memberikan sepotong kue kepada anak kecil yang tampak lapar. Mereka lebih asyik berbicara sendiri.

Koar-koar para pedagang asongan riuh rendah, naik turun silih berganti. Luar biasa. Mereka menjual apa saja. Makanan, minuman,mainan, hingga buku resep masakan. Satu-satunya yang menarik bagi enam sekawan ini adalah pedagang nasi pecel. Harga murah, sebatas mengganjal perut. Para pengamen dan waria tak mau kalah untuk ambil bagian. Oh ya selama perjalanan ini mereka sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk, bahkan untuk buang air kecil sekalipun. Telah terjadi kesepakatan tanpa didiskusikan. Mereka tahu risikonya jika mereka berani melakukannya. Alhasil, mereka sepakat melakukan restriksi cairan dengan membatasi cairan yang masuk serta pantang minuman berkafein, paling tidak hingga kereta tiba di Bandung pada pukul 21 seperti yang tercetak dalam tiket.

Tiba-tiba kereta berhenti di tengah hutan antah-berantah untuk kali ke sekian. Kereta ini harus mengalah, mendahulukan kereta yang harga tiketnya lebih mahal. Mungkin karena terlalu sering berhenti kereta tiba di tujuan tepat tengah malam.Mungkin pada saat hari telah berganti. Mungkin.

Ah inilah potret kita yang sebenarnya. Begitu lebar dan kentara jarak antara si kaya dan si papa. Sungguh kasihan mereka. Untuk melakukan perjalanan jauh saja mereka harus bersusah payah. Sungguh suatu perjuangan. Sulit rasanya membayangkan kondisi kereta macam ini pada saat mereka pulang ke kampung halaman pada hari raya. Tampaknya tak ada yang peduli. Mengapa mereka tidak melawan. Mengapa mereka diam dan pasrah. Tidakkah mereka menginginkan perubahan? Ah rasanya tak perlu dijawab.

Words of Wisdom


I am a traveler seeking the truth, a human searching for the meaning of
humanity, and a citizen seeking dignity, freedom, stability and welfare under
the shade of Islam. I am a free man who is aware of the purpose of his existence
and calls, truly, my prayer and my sacrifice, my life and my death, are all for
Allah, the Cherisher of the worlds; He has no partner. This I am commanded and I
am among those who submit to His Will. This is who I am. Who are you?

(HASAN
AL-BANNA)

Wednesday, December 8, 2010

Le Texto, Bahasa Alay dari Prancis


Text messaging is called le texto in French. The essential idea of text messaging is to express oneself with the least number of characters, making use of pure reliance on sounds, abbreviations, and acronyms to convey a message. Beware that it is customary not to use accents in text messages.
Consider the following examples of French abbreviations and acronyms used in text messaging:

A2m1 À demain. See you tomorrow.
ALP À la prochaine. See you soon.
auj aujourd’hui today
BAL boîte aux lettres mailbox
BCP beaucoup a lot
Bjr Bonjour. Hello.
C c’est it is
CPG C’est pas grave. It does not matter.
DSL Désolé(e). Sorry.
DQP Dès que possible. As soon as possible.
FDS fin de semaine weekend
G j’ai I have
Je t’M Je t’aime. I love you.
KDO cadeau gift
Koi29 Quoi de neuf? What’s new?
Mr6 Merci. Thanks.
Pkoi Pourquoi? Why?
Rdv rendez-vous date/appointment
STP S’il te plait. Please.


Common abbreviations used in informal communication
Along with the previously mentioned shortcuts in written communication, there are many other
words in French that are commonly abbreviated in written and spoken communication. Here are
a few examples:


un apart un appartement an apartment
cet aprem cet après-midi this afternoon
le cine le cinéma the movie theater
un/une coloc un/une colocataire a cotenant
dac d’accord OK
la fac la faculté the school (university)
le foot le football soccer
le frigo le réfrigérateur the fridge
impec impeccable terrific
le petit dej le petit déjeuner breakfast
une promo une promotion a promotion
un/une proprio un/une propriétaire an owner
un resto un restaurant a restaurant

Reference:
Kurbegov, Eliane. French Sentence Builder. 2009: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Norwegians and Temperatures





By Kjersti Magnussen


+15oC/59oF
This is as warm as it gets in Norway, so we’ll start here. People in Spain wear winter-coats and gloves. The Norwegians are out in the sun, getting a tan.


+10oC/50oF
The French are trying in vein to start their cemtral heating. The Norwegians plant flowers in their gardens.


+5oC/41oF
Italian cars won’t start. The Norwegians are cruising in cabriolets.


0oC/32oF
Distilled water freezes. The water in Oslo Fjord gets a little thicker.


-5oC/23oF
The Brits start the heat in their houses. The Norwegians start using long sleeves.


-20oC/-4oF
The Aussies flee from Mallorca. Their Norwegians end their Midsummer celebration. Autumn is here.


-30oC/-22oF
People in Greece die from the cold and disappear from the face of the earth. The Norwegians start drying their laundry indoors.


-40oC/-40oF
Paris starts cracking in the cold. The Norwegians stand in line at the hotdog stands.


-50oC/-58oF
Polar beras start evacuating the North Pole. The Norwegians army postpones their winter survival training awaiting real winter weather.


-70oC/-94oF
Santa moves south. The Norwegian army goes out on winter survival training.


-183oC/-297,4oF
Microbes in food don’t survive. The Norwegian cows complain that the farmers’ hands are cold.


-273oC/-459,4oF
ALL atom-based movement halts. The Norwegians start saying “Faen, it’s cold outside today.”


-300oC/-508oF
Hell freezes over. Norway wins the Eurovision Song Contest.

Monday, November 29, 2010

Lalapan Khas Sunda (L'Assiette de Crudités Sundanaise)


Look what one's got inside the basket. I challenge you to name them all!!!

Jalan-Jalan ke Bandung Euy!

Semua berawal dari ajakan seorang kawan melalui SMS. Tanpa berpikir panjang saya menyanggupi karena sudah lebih dari delapan tahun saya tidak bertandang ke sana. Kata kawan saya sih, kali ini liburannya ala backpacker gitu deh. Tapi ga parah-parah juga karena untuk penginapan, kami dibolehkan menginap di rumah salah satu famili kawan yang lain di Bandung (banyak amat ya kawan saya ha ha; kami bertujuh yang berangkat dari Surabaya) dan untuk transportasi kami mendapatkan pinjaman mobil. Jalan-jalan ke Bandung kali ini kalau dirunut kurang lebih seperti di bawah ini. Semoga menjadi inspirasi (ha ha saya kok ge-er sih ;)

21 November 2010
Pukul 06.30 WIB, kami berkumpul di Stasiun Gubeng, Surabaya. Seperti yang telah kami sepakati sebelumnya, kami naik kereta api Pasundan yang bertarif 38000 Rupiah sekali jalan. Awalnya nyaris ga dapat tiket lho, tapi ajaibnya kami dapat tempat duduk juga ;) Kereta berangkat jam 6 pagi tepat. Kami kira semua akan berjalan lancar hingga kereta api masuk Stasiun Wonokromo di mana kami sempat ribut dengan calon penumpang lain yang mengklaim memilki tiket dengan nomor tempat duduk yang sama dengan kami. Tapi kami ga mau mengalah dong. Akhirnya sebagai win-win solution, kami berbagi kursi dengan penumpang2 itu. Kebayang dong sempitnya. Penderitaan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan ha ha. Mulai dari harus terpaksa menahan kencing, bokong terasa dekubitus, ASAP ROKOK sialan, pengamen dan pedagang asongan silih berganti masuk gerbong, bencong keparat, dan kereta yang sering banget berhenti di stasiun ga penting. Ya mau gimana lagi. Tapi parahnya kami baru sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung tepat tengah malam. Bayangin dong 18 jam dalam situasi seperti itu (so hopeless). Naik kereta api ekonomi sangat dianjurkan bagi mereka yang ga bisa menahan kencing, alergi asap rokok, dan yang hidup dengan klaustrofobia.



22 November 2010
Kami ketambahan tiga teman yang bergabung yang membawa sebuah mobil untuk kami gunakan jalan-jalan. Jadi total kami ber-10. Tempat yang kami kunjungi hari ini adalah Kawah Putih, Situ Patenggang serta penangkaran rusa Ranca Upas. Semua tempat ini terletak di selatan Bandung. Dari Bandung kami melalui tol Purbaleunyi lalu keluar lewat Kopo. Dilanjutkan menuju Soreang (19 km), setelah itu Kawah Putih (22 km lagi). Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah, terutama setelah memasuki Kecamatan Ciwidey. Hamparan kebun strawberry di mana-mana, dilatarbelakangi gunung-gunung berselimut kabut dan hutan yang hijau. Setibanya di pintu masuk Kawah Putih. Kami dibuat syok oleh harga tiket mobil yang mencapai 150 ribu per mobil dan ditambah lagi tiket personal sebesar 15000 per orang. Sedangkan bila naik kendaraan yang disediakan pengelola kami harus membayar 25000 per orang. Duh pemerasan!! Berhubung sudah datang jauh-jauh kami ikhlas saja, toh biayanya juga dibagi oleh sepuluh orang. Aroma sulfur yang menusuk hidung langsung tercium begitu kami mendekati bibir kawah, tapi pemandangan alam di sekelilingnya sungguh luar biasa. Oh ya, bagi Anda yang sensitif jangan berdiam terlalu lama sebab kabut yang Anda hirup bisa mengiritasi mukosa saluran napas. Anda bisa batuk-batuk, mengalami tenggorokan perih atau gatal.
Dari Kawah Putih kami ke Situ (danau kecil) Patenggang yang katanya sih pernah dijadikan tempat syuting film Heart (yang pertama dan yang ke-2). Sempatkan berperahu menuju Batu Cinta yang terletak di pulau kecil di tengah danau (bayar lagi, duh duh duh).






















23 November 2010

The adventures begin! Pukul 04.30 kami bertolak dari Bandung menuju Kabupaten Ciamis dengan tujuan utama Pantai Pangandaran dan Sungai Cijulang (Green Canyon). Perjalanan lancar. Kami melintasi Nagrek, Kab. Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis. Dan Kota Banjar, sebelum kami berbelok 80 km ke arah selatan. Tengah hari kami tiba di Pantai Pangandaran. Panas!! Setelah melihat-lihat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Cijulang. Sumpah ya di sini tuh kurang banget papan penunjuk jalan sampai kami harus tanya kepada penduduk lokal. Cijulang ditempuh kurang lebih 30 menit berkendara dari barat Pangandaran. Agar lebih mudah cari saja lapangan terbang Nusawiru. Menjelang pukul 13.00 kami tiba di depan pintu masuk Green Canyon. Biayanya dihitung per perahu yakni 75000/perahu hingga tiba di Green Canyon, jika ingin melanjutkan petualangan dengan berenang menyusuri Sungai Cijulang kita harus nambah lagi 100 ribu/perahu (bergantung kesepakatan dengan pengemudi perahu/pemandu). Duh ini mah nusuk dari belakang namanya ha ha. Tapi sumpah, obyek wisata ini harus muncul dalam daftar tempat2 yang WAJIB dikunjungi selama di Jawa Barat. It’s beyond words that we have to experience it ourselves. Sebagai bocoran kami bagi deh sedikit foto-fotonya ;)
Setelah puas berbasah-basahan, kami pulang melewati jalur Cijulang-Tasikmalaya yang sangat tidak dianjurkan sebab banyak ruas jalan yang rusak meski sebenarnya jarak tempuh lebih pendek.









24 November 2010
Tujuan kami kali ini Gunung Tangkuban Perahu - pemandian air panas Ciater - Paris van Java Shopping mall

25 November 2010
Menjelajahi pusat Kota Bandung. Museum Geologi - Gedung Sate – Museum Pos (yang spooky abis) – mencicipi yoghurt Cisangkuy – Museum Konferensi Asia-Afrika – Cihampelas Walk Mall




26 November 2010
Menjelajahi Pasar Baru (Jl. Otista) – Masjid Agung – daerah seputar Jl. Dalem Kaum – Braga Walk Mall – walking down the legendary shopping street of Braga – mencicipi Bebek Garang (10 out of 10) – beli oleh-oleh bolen khas Bandung

27 November 2010
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Dago – mencicipi yoghurt (again) dan milkshake di Bandoengsche Melk Centrale – jalan-jalan seputar ITB – kembali ke Surabaya dengan kereta api Mutiara Selatan (no more Pasundan)

Total biaya yang saya keluarkan: 1100000 Rupiah
Remarque personnelle: Bandung memang layak disebut Parijs van Java. Kota ini seperti sebuah sentuhan Eropa di tanah Jawa. Jalan-jalannya (walau sering macet dan semrawut), kafe-kafenya, butik dan FO-nya memang sungguh memikat. Orang Bandung memang punya gaya walau terkadang terlihat frustasi dengan penampilannya. Tapi mereka tetaplah the best-dressed people in the country. Satu-satunya kota besar di Indonesia yang mampu hidup selaras dengan alam, dibanggakan dan dicintai penduduknya dengan sepenuh hati, kota yang hidup dan tumbuh dari kreatifitas. Bagi Anda yang belum berkesempatan ke Paris, berkunjunglah dulu ke Bandung he he.

If you’re lucky enough to have lived in Paris as young man, then whenever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast. (Ernest Hemingway, 1950)