Monday, August 17, 2009

Travelling to Jakarta

Welcome to The Glamorous Jakarta

Jakarta is a city with such a big contrast. Among its hundreds of stylish highrise buildings, millions of the poor struggle for their life as the money is getting tighter and tighter. It makes me realize that the number of skyscrapers doesn't always go in line with the prosperity of a nation. I remember Norway being one of the richest countries on the planet, but its capital has only a few "skyscrapers". The tallest buiding they have has only 33 floors and it's the tallest one in Scandinavia. What a humble country it is he he ;) But poverty is not a crime. Nothing can stop the Big Durian(Jakarta's nickname) from growing larger and larger, the new skrscrapers are built higher and higher making it the only city in the entire country which has an international and cosmopolitan atmosphere. Jakarta will just keep on flourishing. I was lucky enough to be able to make a trip there back in January this year. I always miss the time I and my buddies drove on the Jakarta streets which were 3 or 4 times wider than those in my hometown, Surabaya; while admiring the classy highrise bulidings along the streets.

"Oh my God, incredible!",I said the words repeatedly making my buddy who was at the wheel got a little irritated (Yeah he's a Jakarta-born so he probably gets pretty fed up with such sights).

"Oh gosh you sound so corny Dian, but I can understand it. Surabaya has nothing to compare to Jakarta."

"I know.", I replied, no defense that time because we were on the same point ha ha ;) I had a great sightseeing and shopping experience in Jakarta, just too bad during the whole week we went to no other places but the malls and the National Monument. Can't you imagine it? I came all the way from Surabaya, caught the morning flight, but it all ended up at restaurants in malls or a cinema. No one was to take the blame, it was all due to the bad weather. My luck ran out ha ha.

Wednesday, March 11, 2009

Berwisara ke Sarangan di Kaki Gunung Lawu

19 Oktober 2008

Sebenarnya kejadiannya sudah lama sih, tapi tidak ada salahnya untuk tetap diceritakan

± 16.30 Baru tiba di Surabaya setelah menghabiskan akhir pekan bersama mom-dad-little bro-rekan-rekan sekantor daddy di Telaga Sarangan, Magetan. Tempat wisata alternatif selain Malang. Batu, Pacet dll bagi orang Surabaya yang rindu akan udara dingin nan sejuk serta pemandangan alam yang cantik. Cukup melelahkan karena aku disuruh mengendarai mobil oleh daddy selama perjalanan menuju ke sana dan separuh perjalanan pulang ke rumah (hitungan kasarnya kurang lebih 270 km, lumayanlah nyaris setara dengan jarak utara ke selatannya Belanda (data?) he he). Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan di sana. Setibanya di sana (Sabtu sore) langsung menghadiri acara Family Day and Gathering TELKOM Kandatel Madiun, makan malam, permainan-permainan aneh, pengundian door prize, karaoke, dan tidur lelap pastinya ;). Minggu pagi berjalan-jalan mengitari telaga, ambil foto sebanyak mungkin (baik foto lansekap maupun foto narsis ;), main tenis (meskipun sebenarnya tidak bisa ha ha), makan pagi, mandi pagi, nonton televisi, tidur-tiduran, makan camilan, makan siang (aduh sudah berapa kali aku menyebutkan kata ”makan” ya? Ha ha). Sebenarnya dalam tasku ada beberapa catatan kuliah yang rencananya ingin kubaca selama di sana. Namun, rencana tinggal rencana ha ha ;)




Friday, November 28, 2008

Berwisata di Kota Yogyakarta


Kamis, 7 Februari 2008
Akhirnya kereta api yang membawa kami pulang tiba di stasiun Gubeng kurang lebih pukul 12.45. Wow, kami tiba 9 menit lebih awal daripada jadwal. Cukup terkesan mengingat keterlambatan sering dilakukan oleh jasa transportasi massal di negeri ini.

Liburan ke Yogyakarta (YK) tanggal 4-7 Februari lalu benar-benar liburan terburuk selama ini. Bagaimana tidak, selama di sana aku terserang diare (mungkin traveller’s diarrhea) , tepatnya bermula tanggal 5 (Selasa petang). Parah sekali. Jadi tidak bisa menikmati liburan dengan nyaman. Tapi terlepas dari hal tersebut, liburan ini berkesan sekali, bisa mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya di YK. Ternyata lebih enak lho liburan a lá backpacker daripada liburan bersama orangtua.

Selama di YK, kami menginap di sebuah hotel di kawasan Malioboro (ga usah sebut merk ya he he). Tapi gilanya, satu kamar hotel kami paksakan untuk dihuni tujuh orang. Sebenarnya pihak hotel hanya mengizinkan 3-4 orang dalam satu kamar. Itupun dengan catatan kami harus menyewa satu kasur tambahan (extra bed). Ok deh. Tapi berhubung kami tidak mempunyai rencana B, maka rencana utama harus dijalankan yaitu dengan mengelabui pihak hotel (tapi ga usah dijelaskan ya bagaimana caranya). Dan ternyata ini sukses!! Tapi cara ini tidak direkomendasikan bagi mereka yang berkantong tebal lho, ini hanya khusus bagi mereka yang suka berpetualang dengan menganut prinsip ekonomi ha ha.


Kami pergi ke Borobudur dan Kaliurang pada hari pertama (Selasa, 5 Februari 2008). Berangkat dari YK sekitar jam 9 pagi dan tiba di sana satu jam berikutnya. Karena ini bukan kali pertama aku mengunjungi Borobudur, jadi kesannya biasa saja. Tapi tetap saja rasa kagum pada mahakarya nenek moyang ini muncul. Kulihat banyak sekali turis yang datang ke sana, lokal maupun mancanegara. Banyak juga, padahal hari kerja. Satu hal yang haram untuk dilupakan yaitu mengambil foto. Tentu saja!! Beberapa foto sudah aku muat (upload) juga di sini. Lalu siang hari kami meluncur ke Kaliurang, semacam tempat peristirahatan (tapi bukan kuburan lho maksudnya ha ha) di kaki Gunung Merapi yang elok nan menjulang tinggi seakan merobek angkasa. Terdapat air terjun yang tidak terlalu tinggi di sana, tapi aku sama sekali tidak terkesan malah ketakutan. Kubayangkan sewaktu-waktu bukan air beraliran deras yang turun dari ujung atas air terjun, tapi bongkah-bongkah batu gunung yang siap menimpuk mereka yang sedang bernarsis ria dengan kamera di bawah ha ha. So aku minggir dan mencari tempat aman sembari mengamati tingkah polah teman-temanku dan para pengunjung. Menjelang petang kami balik ke YK dan perutku mulai berontak dan terasa mulas. Akhirnya aku minta diturunkan di depan hotel tempat kami menginap. Karena kasihan melihat keadaanku yang mengenaskan, si Achmad memutuskan untuk menemaniku disamping karena dia sudah merasa lelah. Thanx Achmad (alias Chunk-krinx ha ha). Sisanya melanjutkan petualangan ke Amplaz alias Ambarukmo Plaza. Setelah merasa sedikit pulih, aku memutuskan jalan-jalan sore (JJS) ke Malioboro Mall bersama Achmad. Lumayan kubisa beli empat buku dengan diskon besar-besaran di salah satu toko yang khusus menjual buku impor. Lalu singgah di toko musik membeli CD album Nelly Furtado bertitel Loose (penting ga sih). Lalu ketika Maghrib kami pulang ke hotel setelah terlebih dahulu makan di warung lesehan dekat hotel. Gila masak iya makan di warung kena PPN alias pajak pertambahan nilai sebesar 10%. Kota yang aneh!! Aku minta dibuatkan oralit pada si pemilik warung dengan ramuan 5 sendok gula dan sesendok garam (bener ga sih). Aneh sekali rasanya. Aku sampai melek merem berusaha menghabiskan segelas oralit ini. Namun ketika aku keluar dari lift hotel menuju kamar, voila, aku muntah seketika. Mungkin perutku langsung syok terkena oralit tadi. Selanjutkan tidak perlu dijelaskan secara terperinci ya. Nggilani!!!

Esoknya kami pergi mengunjungi Keraton Yogyakarta yang termasyur itu plus Taman Sari, tempat pemandian bagi putra-putri sultan. Aku benar-benar tidak tahu bagian mana yang membuat keraton ini terlihat istimewa, semua biasa saja. Gedungnya kecil, terkesan kotor dan kurang terawat, abdi dalem yang sudah mbah-mbah tak ada yang sedap dipandang he he. Beda banget deh dengan foto-foto istana atau kastil di Eropa yang pernah kulihat di internet. Tapi aku menikmati kunjungan ke museum yang terletak dalam keraton dan yang penting bisa mengambil foto dengan latar belakang yang indah. Setelah itu kami menuju Taman Sari. Dipandu oleh seorang pegawai rendah keraton yang mengaku hanya digaji IDR 1300 per bulan (benar Anda tidak salah baca!!), kami berkeliling Taman Sari serta kampung kecil di sekitarnya. Pemandu ini fasih banget saat menjelaskan sejarah keraton Yogyakarta, kompleks makam Imogiri dll sampai ke detil-detilnya. Tapi aku tidak begitu tertarik dengan sejarah Yogyakarta meskipun diriku pecinta sejarah, tapi untuk menghormati orang ini aku mangut-mangut dan angguk-angguk saja. Aku sempat bertanya kepadanya mengenai kota kecil Bagelen yang merupakan tanah leluhurku dari garis bapak. Berdasarkan keterangannya, aku dapat informasi kalau kota ini terletak di Purworejo (kalau ini gw dah tahu) dan konon merupakan tempat ditawannya Pangeran Diponegoro oleh penjajah Belanda. Sayang aku belum pernah ke sana, tapi pasti suatu saat aku akan ke sana jika Allah berkehendak. Hal-hal yang patut dikunjungi di Taman Sari antara lain ruang bawah tanah dan reruntuhan bangunan yang dari atasnya kita dapat melihat pemandangan YK yang menyedihkan, begitu kusam begitu tak tertata. Setelah itu langsung menuju jalan Dagen untuk mencari bakpia, makanan kecil khas YK.

Menjelang sore aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri menyusuri trotoar Malioboro (teman-temanku yang lain bukan pecinta sejarah sih). Aku penasaran ingin berkunjung ke Benteng Vredeburg dan Museum Sonobudoyo. Tapi sialnya mereka sudah tutup sejak pukul 13.00 dan aku tiba di sana sekitar pukul 14.15. Nothing to lose! Aku masih dapat terpuaskan dengan pemandangan di sekitar perempatan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Aku hanya melakukan potret-potret saja deh akhirnya. Tapi sumpah bagus banget pemandangannya. Memandang gedung-gedung tua di situ membuatku serasa di sebuah kota Eropa. Sorenya aku JJS ke Malioboro Mall, ke toko buku itu lagi. Malamnya kami makan di warung sederhana dekat mall dengan harga mahasiswa he he (maklum uang saku makin menipis). Malamnya kami harus segera membereskan barang-barang kami sebab esok kami akan bertolak ke Surabaya kembali.

Bagiku YK merupakan tempat pertemuan antara dunia modern dan konservatisme. Kota yang masih kental dengan suasana pedesaan dimana kekeluargaan dan ketulusan dan keluguan penduduknya masih mewarnai kehidupan sehari-hari. Mungkin itulah yang membuat kota ini selalu mendatangkan kerinduan serta lekat dalam ingatan siapapun yang pernah mengunjunginya. Dapat kurasakan ikatan yang kuat dengan kota ini mengingat inilah tanah leluhurku, tempat nenek moyangku dulu pernah tinggal. Ditilik dari segi ekonomi, YK memang kalah bersaing dengan Jakarta atau Surabaya karena ia memang bukan kota niaga. Bayangkan jalan-jalan di YK pasti sudah sepi di atas jam 21.00. Bahkan pada pukul 6 pagi jalanan masih lengang banget, padahal pada jam segitu jalan-jalan di Surabaya sudah menggila macetnya, orang-orang sudah bangun untuk menjemput rezeki. Percaya atau tidak, penjual pecel dekat rumahku sudah buka dari pukul 4 pagi!!! Hal ini sepertinya sulit ditemukan di YK. Waktu serasa melambat deh pokoknya he he. italics Everyday’s holiday, alon-alon nanging kelakonitalics . Tapi mungkin inilah yang membuatku tidak pernah jemu mengunjungi YK. Jadi akan kututup catatan ini dengan motto terbaru dari YK: Never ending Asia. Untuk melihat foto-foto yang lain silakan klik di sini.